Titik Tetap Bawah Termometer Fahrenheit Adalah

Titik Tetap Bawah Termometer Fahrenheit Adalah

Hingga saat ini, dikenal beberapa jenis termometer. Perbedaan termometer tersebut terletak pada skala derajat suhu, patokan tetap titib bawah, dan patokan tetap titik atas. 1. Termometer Celcius Termometer Celcius ditemukan oleh Andreas Celcius (1701-1744), seorang ahli fisika dan Swedia. Celcius menentukan titik tetap bawah skala termometer dengan patokan suhu es yang sedang mencair, yang diberi skala 0°. Titik tetap atasnya berpatokan pada suhu air mendidih pada tekanan 76 cmHg, yang diberi skala 100°. Satuan suhu yang diukur menggunakan termometer Celcius yaitu derajat Celcius ditulis °C. 2. Termometer Reamur Termometer ini dikenal oleh Reamur, seorang ahli fisika berkebangsaan Prancis. Reamur menentukan titik tetap bawah dan titik tetap atas skala termometer sama seperti Andreas Celcius. Namun, Reamur memberi skala 0° untuk titik tetap bawah dan 80° untuk titik tetap atas termometernya. Satuan suhu yang diukur menggunakan termometer Reamur yaitu derajat reamu, ditulis °R 3. Termometer Fahrenheit Termometer jenis ini dikenalkan oleh Gabriel D. Fahrenheit, seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman. Fahrenheit menetapkan titik tetap bawah yaitu suhu campuran es dan garam amonium klorida. Titik ini ditetapkan menjadi 0°F.

Suhu campuran antara air dan es (titik beku air) pada termometer Fahrenheit diberi skala 32°F. Sementara titik tetap atas termometer ini yaitu suhu air mendidih diberi skala 212°F.

05 Agustus 2021 06:17


Jawaban terverifikasi

Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Jakarta

06 Agustus 2021 04:05

Halo, Abdullah, kakak bantu jawab, ya 🙂 Titik tetap bawah adalah titik es murni/suhu paling rendah pada thermometer. Cara menentukan titik tetap bawah adalah dengan cara mengukur air yang sudah dingin atau nitrogen cair. Termometer Celcius menggunakan titik beku air atau titik lebur es batu (0°), termometer Reamur menggunakan titik beku air atau titik lebur es batu (0°), termometer Fahrenheit menggunakan campuran es dengan garam (32°), dan termometer Kelvin menggunakan suhu saat semua gas mencair (273). Titik tetap atas adalah titik uap atau titik didih/suhu paling tinggi pada termometer. Cara menentukan titik tetap atas adalah dengan cara mengukur kepanasan air yang sudah mendidih. Termometer Celcius menggunakan titik didih air pada tekanan udara 76 cmHg (100°), termometer Reamur menggunakan titik didih air pada tekanan udara 76 cmHg (80°), termometer Fahrenheit menggunakan titik didih air pada tekanan udara 76 cmHg (212°), sedangkan termometer Kelvin menggunakan titik didih air pada tekanan 76cmHg (373). Kelas : 7 SMP Topik : Suhu dan Perubahannya

24 Agustus 2021 09:14

Makasih kak semoga berkah

Artikel ini membahas tentang definisi suhu,
4 skala ukuran suhu (Fahrenheit, Celsius, kelvin, Reamur)

,
dan bagaimana cara mengonversinya.

Setelah adanya pandemi corona ini, mengukur suhu tubuh kayaknya udah jadi hal yang biasa aja ya. Sewaktu mau pergi ke tempat perbelanjaan, atau tempat umum di luar, di pintu masuk akan ada petugas yang meletakkan alat berbentuk seperti pistol ke jidat kita.

Baca :   Panjang Proyeksi Vektor a Pada B

“Yak, \(36{,}5^{\circ}C\) . Silakan masuk!”

Beberapa orang mungkin akan masuk sambil mengucapkan terima kasih. Sementara beberapa yang lain, masuk sambil terbingung-bingung, “Maksudnya apa sih? Ada apa dengan jidatku dan \(36{,}5^{\circ}C\)? Jidatku miring apa gimana nih?”

Mengenal Konsep Suhu

Begini.\(36{,}5^{\circ}C\) yang dimaksud adalah suhu tubuh kamu. Apa yang dimaksud dengan suhu? Suhu adalah
ukuran panas atau dinginnya suatu benda. Artinya, semakin tinggi suhu suatu benda, maka semakin panas benda tersebut. Kok bisa begini? Well, sebetulnya, suhu itu berhubungan dengan
energi kinetik.

Suhu yang tinggi, artinya, molekul yang menyusun benda tersebut mempunyai rata-rata energi kinetik yang tinggi.

Energi kinetik? Bukannya itu energi yang dimiliki benda ketika bergerak ya? Tapi kan benda padat bisa juga panas, trus waktu benda itu panas, bendanya juga gak bergerak ke mana-mana. Trus energi kinetiknya dari mana? Kan kalau bendanya padat, dia dalam keadaan diam…

Nah, ini yang kamu harus berhati-hati,
walaupun bendanya diam, tapi sebenernya molekul penyusun benda itu begerak, bisa translasi, rotasi, bahkan bisa vibrasi.

Jadi, meskipun benda padat kelihatannya sedang diam, jika kamu lihat ke dalam partikel penyusunnya, kamu akan bisa melihat partikel-partikel tersebut sedang gerak-gerak gitu.

Baca juga: Penggolongan Materi Secara Fisika: Padat, Cair, Gas

Nah, yang kamu rasakan sebagai panas atau dingin, itu sebenarnya hanyalah sensor di kulit yang sedang menerima energi dari partikel-partikel benda yang sedang disentuh (merasa panas), atau memberikan energi ke partikel-partikel benda yang sedang disentuh (merasa dingin).

Coba deh, kalau kamu gesek-gesekkan permukaan tangan, jadi panas kan? Itu karena ketika gesekan terjadi, partikel pada permukaan kulit saling bertabrakan. Partikel kulit kamu bergetar lebih cepat dan ini dirasakan sebagai panas.

Energi kinetik tinggi ->  suhu tinggi -> dideteksi kulit -> rasa panas

Jadi rasa panas itu sebenarnya adalah sensor kulit kamu lagi ngomong ke otak kalian, “woy, yang di sebelah sini rata-rata energi partikelnya lebih tinggi dari rata-rata energi kinetik kita lho.”

Dan di situlah masalahnya. Rasa panas dan dingin adalah relatif terhadap kulit tersebut. Jadi, ketika suhu kulit rendah, maka suhu benda harus lebih rendah lagi baru terasa dingin, dan ketika suhu kulit tinggi, suhu benda harus lebih tinggi lagi baru terasa panas.

Kamu mungkin pernah melakukan eksperimen ini waktu kecil, tangan kiri diletakkan di air dingin, tangan kanan diletakkan di air hangat. Keduanya didiamkan agak lama untuk membuat suhu tangan kiri rendah, dan suhu tangan kanan tinggi.

Lalu ketika kedua tangan tersebut diletakkan di air dengan suhu ruangan, yang kiri merasa panas (karena suhunya lebih tinggi dari tangan kiri) dan yang kanan merasa dingin (karena suhunya lebih rendah dari tangan kanan)

Berarti panas atau dingin itu subjektif, tergantung apa yang mengukur. Tapi kan kita ilmuwan ya? Jadi harus objektif, jadi kita tidak menggunakan rasa panas atau dingin lagi, tapi kita mengukur suhu.

Alat Pengatur Suhu: Termometer

Nah, gimana cara kita mengukur suhu? Ada sebuah alat yang bernama
termometer.
Pada umumnya, termometer berbentuk seperti pipa kecil panjang. Di dalam termometer terdapat cairan pengisi (biasanya alkohol atau air raksa) dan skala-skala. Cara melihat berapa suhunya dengan mengecek di mana permukaan air raksa terhadap skalanya.

Kayak gini contohnya:

Merah = benda panas | Biru = benda dingin (Sumber: CrashCourse via Youtube)

Saat termometer dimasukkan ke dalam air yang suhunya lebih tinggi dari suhu termometer, partikel-partikel air raksa dalam termometer akan menerima energi dari air tersebut. Partikel-partikel air raksa lalu akan bergetar dengan lebih cepat, dan akibatnya, mereka akan saling bertabrakan satu sama lain dengan lebih kuat.

Ini mengakibatkan efek pemuaian air raksa, nah, air raksa ini karena ditaruh di pipa kecil yang panjang, ketika dia memuai, permukaan air raksanya akan bergerak naik.

Semakin panas airnya, semakin besar pemuaian air raksa di dalam termometer.

Tapi anehnya, ketika air mendidih, permukaan air raksa dalam termometer akan diam. Lho, kok begitu? Kan kalau airnya sedang dididihkan, berarti energi air sedang meningkat? Nah, energi airnya memang sedang meningkat, tapi pada saat airnya mendidih, energi tersebut sedang digunakan untuk mengubah fasa air dari cair ke gas. Jadinya, ketika air sedang mendidih, suhunya tidak naik meskipun energinya naik.

Baca :   Bagaimana Respon Daun Putri Malu Ketika Diberi Rangsang Sentuhan

Baca juga: Perbedaan Meteoroid, Meteorit, dan Meteor

Nah, kalau kamu coba iseng dengan mendinginkan air itu, hal yang sebaliknya akan terjadi, partikel air raksa akan kehilangan energi, dan akan bergetar dengan lebih lambat. Lalu, apa yang terjadi? Mereka bertabrakan dengan satu sama lain dengan lebih lemah.

Ini mengakibatkan efek penyusutan volume air raksa. Lalu, permukaan air raksa akan turun. Pada saat air berubah menjadi es, permukaan air raksa akan diam, sama seperti ketika air sedang mendidih, tapi di posisi yang berbeda pada termometer.

JIka eksperimen ini diulangi pada kondisi yang sama persis, posisi permukaan air raksa pada termometer akan selalu sama ketika air membeku dan ketika air mendidih.

Hah? Maksudnya gimana tuh?

Artinya, saat perubahan wujud air, suhunya akan selalu tetap segitu-gitu aja. Nggak kayak suhu tubuh kamu yang bisa berubah-ubah. Kapanpun kamu mengecek suhu saat air berubah menjadi es, atau air jadi uap,
suhunya akan selalu segitu.

Suhu yang tetap ini kemudian dijadiin patokan, deh, sama para ilmuwan.

Titik pada saat air berubah menjadi es, dijadikan titik tetap bawah.

Titik pada saat air berubah menjadi uap, dijadikan titik tetap atas.

Bagian-bagian termometer.

Sekarang kamu udah tahu, kan, kayak apa konsep suhu dan termometer. Kita lanjut tentang berbagai skala suhu yang ditemukan ilmuwan, yuk!

4 Skala Pengukuran Suhu

Pada mulanya, fisikawan Jerman bernama
Daniel Gabriel Fahrenheit
berhasil menemukan termometer alkohol pada 1709 dan termometer air raksa di 1714.

Nah, tapi Pak Renheit ini, waktu pertama kali dia membuat skala Fahrenheit, tidak menggunakan titik beku air sebagai titik tetap bawah dan titik didih air sebagai titik tetap atas.

Pada mulanya, skala Fahrenheit menggunakan tiga titik referensi, temperatur campuran antara air, es, dan garam (amonium klorida) sebagai \(0^{\circ}\). Suhu air es (gak pakai garam) \(30^{\circ}\), dan suhu tubuh standar manusia \(96^{\circ}\) (sebenarnya dia agak capcipcup juga jadi kurang akurat, karena harusnya \(98{,}6^{\circ}\))

Nah, baru dari sini, dia mengukur kalau temperatur air saat mendidih (apa tadi? Yak betul! titik tetap atas!) ada di angka \(212^{\circ}F\). Sementara titik beku air ada di angka \(32^{\circ}\) (yak tul, titik tetap bawah. Sehingga si temperatur ini punya selang sebesar \(180^{\circ}\).

Baca juga: Kenapa, sih, Suhu di Gunung Lebih Dingin?

Puluhan tahun kemudian, di 1731,
René Antoine Ferchault de Réaumur
mengusulkan skala yang lain. Pada mulanya, dia membuat termometer dengan alkohol (walaupun sekarang udah diganti dengan air raksa) dan membuat ketetapan titik beku air \(0^{\circ}R\) dan titik didih sebesar \(80^{\circ}R\).

Kenapa angka itu yang dipilih?

Menurut Réaumur, sih, soalnya angka 80 itu gampang dibagi 2. Bisa jadi 40, 20, 10, 5. Dibandingkan angka 100 yang cuma bisa 2 kali dibagi 2.

Skala
Réaumur
ini tadinya ngetren banget dipakai sama orang Eropa. Apalagi Prancis dan Jerman. Yah, walaupun sekarang udah jarang banget sih. Paling yang make cuma
industri permen dan keju aja.

Di sisi lain, ada juga astronom Swedia yang bernama
Anders Celsius
yang menemukan skala tersendiri pada tahun 1742. Kalibrasi skalanya dihitung dengan sederhana. Dia memilih untuk membuat titik beku air dan titik didih air untuk referensinya. Dia membuatnya ke dalam selang \(100^{\circ}\). Dengan \(0^{\circ}C\) sebagai titik beku air (titik tetap bawah) dan \(100^{\circ}C\) sebagai titik didih (titik tetap atas).

Dalam penelitian ilmiah, skala Celsius ini lebih sering digunakan. Makanya, selain Amerika Serikat (karena mereka pake Fahrenheit), banyak buanget negara yang menggunakan skala Celsius ini sebagai skala suhu. Kayak di Indonesia, misalnya, yang ketika ngomongin soal suhu, langsung terpatok ke skala Celsius.

Nggak cuma tiga itu aja. Ada orang Eropa lain yang juga ikutan bikin skala-skala ini. Dia dari Skotlandia. Namanya
Lord William Kelvin.
Berbeda dengan skala lain, Kelvin menggunakan
konsep nol mutlak
sebagai batas bawahnya.

Baca :   Kapan Kita Mengalami Siang Dan Malam

Begini. Secara teoritis, suhu terendah di alam ini adalah suhu yang membuat semua gerakan molekul berhenti dan kita gak bisa mendeteksi adanya energi lagi.

Nah, dia menggunakan ini sehingga titik nol-nya, kalau diukur dengan Celsius adalah \(-273{,}15^{\circ}C\).

Maka, ketemu lah kalau titik beku air (titik tetap bawah) ada di 273,15K dan titik didihnya 373,15K (secara teori, ini sama aja kayak Celsius. Cuma dia menggunakan titik nol mutlak aja sebagai “the real nol”).

Kelvin ini masuk ke Standar Internasional (SI) yang biasa dipakai untuk pengukuran ilmiah. Karena, secara teoritis, gak ada yang lebih rendah dari suhu nol mutlak (makanya di
Kelvin kamu gak bakal nemu suhu minus (-) gitu). Di kelvin juga kamu gak perlu menulis dengan derajat (\(^{\circ}\)). Jadi langsung aja 273K, gitu.

Sebenarnya, sih, di luar keempat ini masih ada skala pengukuran suhu yang lain kayak
Rankine, Newton, dan Romer. Tapi, bisa dibilang itu kurang populer dan gak banyak yang make. Makanya yang terkenal 4 ini aja.

Baca juga: Macam-Macam Sifat dan Penggolongan Bentuk Zat

Cara Konversi Suhu

Kalau kamu lihat pada infografis di bawah, kita sebenarnya bisa aja mengubah skala dari satu jenis skala ke skala yang lain. Caranya pun gampang banget. Kita hanya perlu menyamakan titik bawah terlebih dahulu dari skala yang mau kita ubah, baru deh cari perbandingannya.

Sekarang kita tinggal kurangkan titik atas dan bawah dari masing-masing skala.

Celsius (C) : Fahrenheit (F) : Reamur (R) : Kelvin (K)

(100-0) : (212-32) : (80-0) : (373-273)

100 : 180 : 80 : 100

Tinggal kita sederhanakan deh:

\(\Delta ^{\circ}C\) : \(\Delta ^{\circ}F\) :\(\Delta ^{\circ}R\) :\(\Delta K\)

5 : 9 : 4 : 5

Itu segitiga segitiga apa deh? Simbol itu adalah huruf yunani, yang namanya delta. Nah, kalo di Fisika artinya
perubahan/perbedaan.

Apa sih ini artinya? Artinya gini, untuk setiap
kenaikan/penurunan
\(5^{\circ} C\) =
kenaikan/penurunan
\(9^{\circ} F\) =
kenaikan/penurunan
\(4^{\circ} R\) =
kenaikan/penurunan \(5 K\).

Nah, perbandingan naik dan turun itulah yang akan kita gunakan untuk mengonversi suhu di tiap skala.

Tapi selalu harus mulai dari salah satu titik tetap ya? Mau yang atas atau yang bawah terserah, tapi biasanya sih pakai titik tetap bawah.

Coba kita mulai ya.

Misal, \(176^{\circ} F\) itu berapa \(^{\circ} C\)?

Pertama-tama, kita putuskan dulu pakai titik tetap bawah atau atas

Pakai

titik tetap bawah
aja ya biar seperti biasanya.

Titik tetap bawah Fahrenheit masih ingat? \(32^{\circ} F\) ya…

Nah \(176^{\circ} F\) itu
kenaikannya berapa \(^{\circ} F\) dari

titik tetap bawah

\(32^{\circ} F\)?

Tinggal dikurangin ya,\[176^{\circ} F – 32^{\circ} F = +144^{\circ} F \]

Nah, tapi kan kita tahu hubungan kenaikan Fahrenheit dan Celcius, yaitu \[+9^{\circ} F = +5^{\circ} C\]

Berarti pakai konsep rasio, \[\begin{aligned}+144^{\circ} F &= +\frac{5}{9} \times 144^{\circ} C \\~\\ &= +80^{\circ} C \end{aligned}\]

Tapi,

titik tetap bawah

ini kan sama dengan \(0^{\circ} C\), berarti suhunya sama dengan
kenaikan
\(80^{\circ} C\) dari \(0^{\circ} C\) = \(80^{\circ} C\)

Formulanya jadi gak usah dihafal, karena kita tau kenapanya…

Lalu kalau sudah mahir, bisa langsung, \[\begin{aligned}176^{\circ} F &= \left(\frac{5}{9}\times (176^{\circ}-32^{\circ}) + 0^{\circ} \right)C \\~\\&= \left(\frac{5}{9}\times 144^{\circ}\right)C \\~\\&= 80^{\circ}C\end{aligned}\]

Gampang kaaan. Yang penting kamu tahu berapa skala di tiap-tiap suhunya ya. Kalau masih pengin nyoba dan latihan konversi suhu, kamu bisa ke artikel
Hal yang Perlu Kamu Tahu tentang Cara Konversi Suhu dan Termometer.

Jadi, kenapa sampai sekarang kita punya 4 skala ukur suhu? Ya, jawabannya karena ada 4 orang penemu andal dan untuk menghargainya, kita bisa menggunakan skala ukur tersebut dengan nama-nama mereka. Meski terkesan “kok beda-beda”, tapi sebenarnya tidak ada yang salah di antara mereka. Mereka cuma menggunakan dasar pemikiran untuk kalibrasi yang berbeda aja. Itu lah serunya ilmu pengetahuan! Yang penting adalah landasan pemikiran dan bagaimana kita mengambil kesimpulan dari proses yang kita kerjain itu. Jadi, gak cuma melihat “angka hasilnya” aja. Buat kamu yang pengin tahu materi pelajaran kayak gini dalam bentuk video, yuk tonton
ruangbelajar!
Di sana kamu akan ditemani master teacher yang udah berpengalaman banget lho!

Titik Tetap Bawah Termometer Fahrenheit Adalah

Sumber: https://lovelyristin.com/sebagai-patokan-untuk-menetapkan-titik-tetap-bawah-fahrenheit-menggunakan

Check Also

Contoh Soal Perkalian Vektor

Contoh Soal Perkalian Vektor. Web log Koma – Setelah mempelajari beberapa operasi hitung pada vektor …