Bagaimana simbol kuno Swastika dibajak menjadi lambang kejahatan dan bisakah citranya dipulihkan?

  • Kalpana Sunder
  • BBC Future

Sumber gambar,

Digital Light Source

Keterangan gambar,

Simbol swastika digambar dengan pigmen di dinding sebuah kuil di Ujjain, India.

Salib sama sisi dengan ujung ditekuk di sudut kanan, seperti lengan yang berputar atau pola bentuk L, telah menjadi simbol suci dalam agama Hindu, Jainisme, dan Buddha selama berabad-abad.

Dan tentu saja, swastika (atau
hakenkreuz
dan salib bengkok yang serupa) juga telah menjadi simbol kebencian, yang mewujudkan kenangan menyakitkan dan traumatis terhadap Third Reich. Simbol Nazisme itu dikaitkan dengan genosida dan kebencian rasial setelah kekejaman Holocaust.

Swastika memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, sejak zaman prasejarah, yang jauh lebih tua dari hubungannya dengan Nazi Jerman.

Lambang itu adalah tanda kesejahteraan dan umur panjang. Simbol ini ditemukan di mana-mana, dari makam orang Kristen periode awal, katakombe Roma, Gereja Batu Lalibela, hingga Katedral Cordoba.

  • Kisah antara hidup dan mati para gadis pencicip makanan Adolf Hitler
  • Kisah para perempuan yang menjadi penyiksa di kamp konsentrasi Nazi
  • Peringati 75 tahun berakhirnya Perang Dunia II, Jepang janji tidak ulangi ‘tragedi perang’

“Motif ini tampaknya pertama kali digunakan di Eurasia, sejak 7.000 tahun yang lalu, mungkin mewakili pergerakan matahari di langit… sebagai simbol kesejahteraan dalam masyarakat kuno,” begitu penjelasan Holocaust Encyclopedia.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Katedral Mezquita di Cordoba, Spanyol, dihiasi dengan simbol-simbol rumit termasuk swastika.

Kata swastika berasal dari akar bahasa Sansekerta
su
(baik) dan
asti
(berhasil), yang berarti kesejahteraan, kemakmuran atau keberuntungan, dan telah digunakan dalam doa-doa Rig Veda, kitab suci Hindu tertua.

Dalam filsafat Hindu, simbol ini mewakili berbagai hal yang terdiri dalam empat hal, dari empat
yuga
atau siklus waktu, empat tujuan atau sasaran hidup, empat tahap kehidupan, dan empat Veda. Swastika bahkan nama perempuan di beberapa bagian India.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca

Podcast

Akhir dari Podcast

Sementara dalam agama Buddha, lambang tersebut menandakan langkah kaki Buddha. Adapun bagi penganut agama Jain, simbol ini berarti guru spiritual.

Di India, ini adalah simbol dewa matahari dengan orientasi searah jarum jam dan simbol keberuntungan ini dapat dilihat.

Lambang ini sering digambar dengan kunyit di ambang pintu dan pintu toko sebagai tanda selamat datang, atau pada kendaraan, kitab suci agama, dan kop surat.

Lambang ini ditampilkan pada pernikahan dan acara-acara perayaan lainnya, digunakan untuk menyucikan rumah baru, saat membuka buku rekening di awal tahun keuangan, atau memulai usaha baru.

Ajay Chaturvedi, penulis ‘Lost Wisdom of the Swastika’,
mengatakan kepada BBC Culture, “Swastika adalah kubus empat dimensi yang digunakan dalam Matematika Veda, dan juga melambangkan seluruh keadaan dalam filsafat India, yaitu keadaan kesadaran keempat, yang melampaui bangun, tidur, dan bermimpi.

Baca :   Gambar Ikan Lumba Lumba Di Laut

“Hitler menggunakannya dan memberinya citra jahat, digunakan dalam politik, tanpa pemahaman apa pun tentang artinya dalam filsafat India, di mana setiap simbol selalu punya latar belakang makna dan arti yang dalam,” kata Chaturvedi.

Peradaban lain mengasosiasikan simbol itu dengan tangan terentang, empat musim, empat arah atau menyebarkan cahaya ke segala arah.

Dalam buku Abad ke-19
‘Swastika: Simbol Paling Awal yang Diketahui dan Migrasinya’,
Thomas Wilson mendokumentasikan bagaimana swastika ditemukan di seluruh dunia kuno, dari selimut dan tameng hingga perhiasan.

Beberapa percaya bahwa bentuknya terinspirasi oleh komet kuno. Orang Yunani Kuno menggunakan motif swastika untuk menghias pot dan vas mereka. Druid dan Celtic kuno juga menggunakan tanda suci ini, sementara dalam mitologi Nordik, swastika mewakili palu Thor.

Sumber gambar,

Amitvs

Keterangan gambar,

Lambang swastika di Sungai Gangga, Haridwar, Uttarakhand, India

Museum Nasional Sejarah Ukraina menyimpan berbagai objek yang menampilkan simbol tersebut. Yang tertua mungkin adalah patung burung gading raksasa, ditemukan pada tahun 1908, dengan pola swastika berkelok-kelok di atasnya. Patung ini diperkirakan berasal dari 15.000 tahun yang lalu menurut karbon dating.

Segel yang menggambarkan motif swastika telah ditemukan di reruntuhan Mohenjo-Daro dan Harappa di India.

“Saya seorang desainer grafis. Simbol, tanda dan bagaimana mereka digunakan dan dimanipulasi penting untuk praktik saya,” kata penata artistik sekaligus penulis buku
Swastika: Symbol Beyond Redemption
,
Steven Heller.

“Hanya ada sedikit simbol yang lebih kuat dengan makna alternatif daripada swastika dalam banyak iterasinya,” ujarnya.

Pada awal abad ke-20, swastika digunakan secara luas di Eropa sebagai simbol keberuntungan. Swastika yang saling bertautan digunakan dalam tekstil dan arsitektur.

“Tanda itu dipakai dengan berbagai macam cara sebelum Hitler mengadaptasinya. Tanda keberuntungan, kesuburan, kebahagiaan, matahari, dengan nilai spiritual serta nilai komersial juga ketika digunakan dengan atau sebagai merek atau logo,” kata Heller.

Pada awal abad ke-20, swastika digunakan sebagai simbol keberuntungan dalam periklanan, arsitektur, dan perhiasan. Perusahaan pembuatan bir Denmark Carlsberg, yang berkantor pusat di Kopenhagen, menggunakan simbol tersebut sebagai logonya dari tahun 1881 hingga dekade 1930-an. Mereka berhenti menggunakannya karena lambang itu kemudian diasosiasikan dengan Nazi.

Sampai saat ini, Angkatan Udara Finlandia menggunakan swastika sebagai lambang pada lencananya. Rudyard Kipling menampilkan simbol itu di banyak sampul bukunya karena hubungannya dengan India.

Pramuka di Inggris menggunakan simbol itu sampai tahun 1935. Seperti Kipling, Robert Baden Powell mungkin telah mendapatkan inspirasinya dari India.

Bagi orang Navajo di AS, swastika yang menghadap ke kanan adalah simbol persahabatan, simbol yang mereka tinggalkan setelah Perang Dunia Kedua.

Organisasi budaya dan kelompok agama Hindu telah mencoba menjelaskan bahwa Nazi tidak menggunakan swastika, tapi salib yang terkait. Swastika Nazi berbentuk garis yang diputar 45 derajat memberikan kemiringan pada simbol, sedangkan swastika Hindu memiliki garis dasar terbentang rata.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Diyas atau lampu berbentuk swastika dipersembahkan di sebuah kuil untuk Dewi Lakshmi selama festival Diwali di kuil Hindu di Toronto, Ontario, Kanada pada 7 November 2022.

Sejarah yang kompleks

Ketika Adolf Hitler sedang mencari simbol untuk partainya yang baru diluncurkan, dia menggunakan
hakenkreuz, memutar swastika ke kanan dan menghilangkan empat titik. Dia kemudian mengadopsi ini sebagai lambang partai pada tahun 1920.

Baca :   Bahan Sofa Yang Bagus Dan Awet

Joseph Goebbels, menteri propaganda Hitler, mengesahkan undang-undang pada Mei 1933 yang mencegah penggunaan komersial tanda ini tanpa izin.

Diduga bahwa adopsi simbol oleh Hitler mungkin berakar pada orang Jerman yang menemukan kesamaan antara bahasa mereka dan bahasa Sansekerta, dan menarik kesimpulan bahwa orang India dan Jerman berasal dari garis keturunan Arya “murni” yang sama.

Selama penggaliannya yang ekstensif, pada 1871, menurut arkeolog Jerman Heinrich Schliemann, 1.800 variasi salib berkait pada fragmen tembikar di situs Troy kuno, yang mirip dengan artefak dari sejarah Jerman.

“Ini dilihat oleh Nazi sebagai bukti kesinambungan rasial dan bukti bahwa penghuni situs tersebut selama ini adalah orang Arya,” kata antropolog Gwendolyn Leick.

Tentu saja, perampasan budaya biasanya merugikan budaya asli.

Orientalis Jerman Max Muller menulis kepada Schliemann, dan memperingatkannya untuk menghindari penggunaan kata swastika untuk menyebut lambang itu.

“Swastika adalah kata yang berasal dari India, dan memiliki sejarah dan makna yang pasti di India. Saya tahu ada godaan besar untuk mentransfer nama yang kita kenal, untuk objek serupa… terjadinya persilangan seperti itu di berbagai belahan dunia bisa saja menunjukkan asal yang sama, atau bisa juga tidak,” ujarnya.

Namun, tidak semua orang setuju dengan interpretasi ini. Dalam bukunya
The Sign of the Cross: From Golgotha to Genocide, Dr Daniel Rancour-Laferriere, seorang ahli agama Kristen, menyatakan bahwa keputusan Hitler untuk menggunakan
hakenkreuz
sebagai simbol partai Nazi “mungkin karena masa kecilnya di Biara Benediktin di Austria, di mana dia berulang kali melihat salib di banyak tempat”.

Namun selama beberapa dekade, swastika telah menjadi ikon budaya yang kontroversial. Dalam bukunya
The Swastika and Symbols of Hate, Heller mengatakan: “Swastika adalah simbol kuno yang dibajak dan diselewengkan, dipelintir menjadi perwujudan grafis dari intoleransi.”

Di banyak negara Eropa, termasuk Jerman, menampilkan simbol Nazi di depan umum dilarang oleh hukum. Melanggar ketentuan tersebut dianggap pelanggaran pidana.

Senator Negara Bagian New York di AS, Todd Kaminsky, mengajukan RUU pada tahun 2022, yang akan mengharuskan sekolah-sekolah di negara bagian New York untuk mengajarkan bahwa swastika adalah contoh simbol kebencian.

Karena implikasi nasional RUU tersebut, organisasi termasuk Dewan Hindu Dunia Amerika mendesak Senat New York untuk membedakan antara swastika asli dan
hakenkreuz
Nazi.

Baca :   Gambar Wallpaper Keren Untuk Laki Laki

“Kami mengakui swastika telah disalahgunakan dan disalahartikan secara mengerikan. Selama 70 tahun terakhir, swastika terus menjadi simbol yang disalahgunakan dan disalahartikan. Ini harus diperbaiki,” kata Direktur advokasi dan kesadaran untuk Dewan Hindu Dunia Amerika (VHPA), Utsav Chakrabarty.

Sumber gambar,

AFP

Keterangan gambar,

Demonstran mengangkat bendera yang menunjukkan lambang swastika dibuang ke tempat sampah saat mereka memprotes kebijakan deportasi pemerintah Austria, pada 28 Januari 2022 di Wina.

Bahkan anggota komunitas Yahudi beberapa kali menyoroti bagaimana simbol itu disalahgunakan.

“Versi yang menyimpang dari simbol suci ini disalahgunakan oleh Third Reich di Jerman, dan disalahgunakan sebagai lambang di mana kejahatan keji dilakukan terhadap kemanusiaan, khususnya terhadap orang-orang Yahudi,” demikian deklarasi yang dibuat pada KTT Kepemimpinan Yahudi-Hindu Kedua di Yerusalem yang diadakan pada Februari 2008.

“Para peserta mengakui bahwa simbol ini, dulu dan kini, adalah suci bagi Umat Hindu selama ribuan tahun sebelum penyelewengannya,” lanjut deklarasi itu.

Swastika diizinkan muncul dalam pembuatan berbagai film sejarah dan pembuatan gim video. Sejumlah seniman berusaha mengubah citra simbol ini. Simbol itu dimasukkan oleh bintang pop Madonna ke dalam sebuah video musik lagunya yang berjudul
Nobody Knows Mepada tahun 2012.

Madonn berkata, dia menggunakannya untuk menunjukkan tumbuhnya intoleransi terhadap komunitas dan orang lain.

Pada tahun 1993, seorang seniman Yahudi bernama Edith Altman, yang kehilangan kakek-neneknya karena Holocaust, membuat instalasi berjudul
Reclaiming the Symbol: The Art of Memory.

Dia melukis swastika emas di dinding di atas swastika Nazi hitam yang dilukis di lantai. “Saya ingin menetralisir swastika, menghapus asosiasinya dengan kejahatan, sehingga tidak ada yang perlu takut lagi,” katanya kepada Chicago Reader.

Penggunaan swastika anti-Semit tidak berakhir dengan Perang Dunia Kedua. Bahkan saat ini geng neo-Nazi yang melakukan serangan rasial menggunakan tanda tersebut untuk menodai kuburan atau rumah ibadah Yahudi.

Beberapa orang merasa bahwa status tabu simbol itu justru meningkatkan daya tariknya bagi kelompok pembenci.

“Statistik polisi terbari tahun 2022 dari dua kota dengan populasi Yahudi terbesar, New York dan Los Angeles, menunjukkan bahwa kedua kota merekam rekor tahunan untuk kejahatan rasial secara keseluruhan,” kata Brian Levin, direktur Center for the Study of Hate and Extremism (CSHE), dan profesor peradilan pidana.

“Orang Yahudi menjadi yang paling ditargetkan di New York dan ketiga paling ditargetkan di Los Angeles,” tuturnya.

Pada tahun 2022, seorang siswa India berusia 21 tahun di AS, Simran Tatuskar, menghadapi reaksi keras di media sosial setelah ia berusaha menggambarkan swastika sebagai simbol damai yang harus dimasukkan dalam silabus sekolah.

Satu kelompok menggungah cuitan di Twitter bahwa “Di Nazi Jerman, salah satu hal pertama yang dilakukan anti-Semit adalah menghapus sejarah dan penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi, meminimalkan perjuangan mereka dan mengambil keberadaan mereka. Dengan menormalkan swastika, ini mengulangi lingkaran setan itu.”

Akhirnya Simran Tatuskar harus mengklarifikasi posisinya tentang masalah ini, dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang tidak disengaja.

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Kuil Shoin di Hagi, Jepang, menampilkan tanda kuno.

Sebelum Olimpiade 2022 di Jepang, keputusan untuk menghapus simbol Jepang (manji) yang berarti kuil di peta wisata, dan menggantinya dengan ikon pagoda, memicu reaksi keras.

Ketika unsur-unsur budaya diadopsi di luar konteks, tampaknya, sejarah dan warisannya menjadi ternoda.

Seperti yang dikatakan Brian Levin: “Sangat disayangkan, walau memang benar, penggunaan swastika yang paling baru dan tersebar luas sebagai simbol kebencian dan genosida Nazi akan selamanya membayangi sejarah panjang dan makna alternatifnya.

“Namun, penting untuk memperhatikan bahwa memperluas pengajaran kita tentang sejarah dan kewarganegaraan dapat menggabungkan tidak hanya asal-usul simbol, tetapi bagaimana mereka dapat dikooptasi dan diubah menjadi tujuan yang paling jahat.”