Seorang Fotografer Dapat Menghasilkan Gambar Yang Bagus Melalui Dua Tahap

KlikBelajar.com – Seorang Fotografer Dapat Menghasilkan Gambar Yang Bagus Melalui Dua Tahap

Foto Berita (Photojournalism)



Oleh : Yemima Pasaribu
Waktu: Rabu, 31 Oktober 2012







Ada beberapa defenisi foto jurnalistik yang dikemukakan para ahli fotografi, antara lain sebagai berikut:
1. Menurut Hanapi, fotografi jurnalistik yaitu kegiatan fotografi yang bertujuan merekam jurnal peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia.
2. Menurut Wilson Hick dalam bukunya Word and Picture, fotografi jurnalistik adalah media komunikasi verbal dan visual yang hadir bersamaan.
3. Menurut Soelarko, foto jurnalistik sebagai foto berita atau bisa juga disebut sebagai sebuah berita yang disajikan dalam bentuk foto.




Maka berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpilkn bahwa Foto jurnalistik atau foto berita adalah suatu sajian peristiwa-peristiwa yang terjadi dan sangat berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang dipaparkan dalam bentuk foto. Foto jurnalistik disampakan guna kepentingan manusia itu sendiri yaitu kepentingan akan informasi.




Dalam membuat foto berita (foto jurnalistik) perlu memiliki syarat-syarat berikut ini:
a. pengetahuan yang konspesional dan mempersoalkan isi (picture content, news content).
b. keterampilan teknis yaitu sangat mempersoalkan penyajian teknis yang matang secara fotografi.


Gambar/foto jurnalistik yang menarik adalah foto yang mempunyai daya tarik visual (eye catching). Isi atau arti (meaning) dan daya tari emosional (impact) juga sangat memengaruhi penilaian orang terhadap foto/gambar tersebut. Norma-norma atau nilai-nilai yang berkembang di masyarakat sangat perlu diperhatikan dalam mengambil foto.
Fotografi Jurnalistik selalu dikaitkan dengan pemberitaan atau penyampaian informasi, karena memang salah satu tujuan dari fotografi jurnalistik ini adalah menyampaikan suatu pesan melalui visualisasi dari sebuah gambar atau peristiwa. Pengertian Jurnalistik itu sendiri menurut bahasa berasal dari kata “Journal” yang berasal dari bahasa Prancis , asal kata dari “Jour” yang berarti hari. Dengan demikian Jurnalistik merupakan pengetahuan tentang publikasi dari sebuah peristiwa yang terjadi sehari – hari di kehidupan kita. Sedangkan menurut istilah fotografi jurnalistik merupakan perpaduan antara foto atau gambar dengan kata-kata atau tulisan yang bersifat informatif dengan tujuan untuk memberikan suatu presepsi atau pemahaman yang dapat mempengaruhi pemikiran seseorang.










Foto yang bersifat interesting, lain dari biasanya, exlusive, peristiwanya dekat dengan pebaca, memiliki dampak yang luas, suspense, dan menyangkut masalah sex, humor,konflik dll akan menambah nilai/bobot foto tersebut. Semua hal di atas haruslah diperhatikan oleh para wartawan untuk menjadikan dirinya sebagai seorang jurnalis foto yang profesional. Selain itu hal-hal di atas juga dapat memperdalam pengetahuan dan memperbanyak pengalaman. Adapun kategori foto yang dapat diklasifikasikan ke dalam bidang foto jurnalistik adalah foto-foto yang mengandung makna: spot, news, feature, general news, tokoh, keseharian, seni budaya dan fashion, alam dan lingkungan, IPTEK dan ohlahraga.


Kehadiran foto jurnalistik mempunyai makna yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan oleh karena manusia sendiri adalah ruang lingkup foto jurnalistik. Ada pun peran foto jurnalistik yaitu sebgai saksi mata, sebagai himbauan, dan sebagai komentar sosial. Foto jurnalistik jelas sangat berbeda dengan foto dokumentasi. Foto jurnalistik, semua peristiwa yang didapat diabadikan untuk seepat-cepatnya disampaikan kepadda khalayak melalui media massa. Sedangkan foto dokumentasi mengabadikan peristiwa untuk kepentingan personal. Contohnya untuk keperluan suatu lembaga pemerintahan atau pun individual.





Fotografi jurnalistik bukan hanya menceritakan suatu berita saja, namun penekanan di sini mengacu pada teknik visualisasinya. Bagaimana sebuah gambar mampu memvisualisasikan suatu kejadian atau peristiwa di masyarakat sehingga pembaca mampu merasakan getaran yang ada dalam gambar tersebut ketika melihatnya. Menurut Cliff Edom, salah satu guru besar di Universitas Missouri Amerika Sertikat, Fotografi jurnalistik adalah perpaduan antara gambar dan kata. Bagaiman sebuah gambar dapat menyampaikan makna kata-kata dan dapat mempengaruhi pikiran orang.




Frank P. Hoy dari sekolah jurnalistik dan Telekomunikasi Walter Cronkite, Universitas Arizona Amerika serikat menguraikan secara lebih jelas tentang karakteristik foto jurnalistik yang di bahas dalam bukunya “Photo Jurnalism The Visual Approach” seperti berikut ini :



  1. Foto jurnalistik dalah komunikasi melalui foto

    (Communication Photography)



  2. Medium Jurnalistik Fotografi adalah media cetak berupa koran, majalah dan juga sejenisnya, ditambah lagi internet.



  3. Kegiatannya adalah kegiatan melaporkan berita



  4. Foto Jurnalistik adalah perpaduan foto dan feks foto



  5. foto jurnalistik mengacu pada manusia, manusia sebagai subjek juga sebagai pembaca.



  6. Foto Jurnalistik adalah komunikasi dengan orang banyak (Mass Audience) ini berarti pesan yang disampaikan harus singkat dan mampu di terima di berbagai kalangan



  7. Juga merupakan hasil editor



  8. Tujuan Fotografi Jurnalistik adalah menyampaikan informasi kepada sesama, sesuai amandemen kebebasan bicara dan kebebasan pers.



Sejarah Singkat Fotografi Jurnalistik





Sudah sejak lama, setelah media massa yang berbentuk surat kabar muncul, orang memimpikan bagaimana bisa melihat kejadian/peristiwa secara visual lewat lembaran kertas itu. Harapan itu kian menggebu terutama setelah fotografi ditemukan pada tahun 1839 yaitu ketika

Akademi Ilmuan Pengetahuan Prancis

pada 19 Agustus mengumumkan penemuan alat gambar sinar oleh seniman

Louise Jacques Daguerre.

Alat penemuan Deguerre itu masih sederhana berupa sebuah kotak diberi lensa dan dibelakang diberi plakat logam yang sudah ditabur dengan bahan kimia tertentu. Alat itu disebut “

camera obscura”

atau kamar gelap, yang kemudian secara umum disebut camera.






Orang pun masih merasa kesulitan memperoleh jalan keluar atau cara bagaimana memindahkan gambar yang dibuat oleh Deguerrotype itu ke dalam surat kabar.




Setelah direkayasa maka muncullah jurnalistik foto pertama, yaitu ketika “
The Illustrated London News”

 pada tanggal 30 Mei 1842 memuat

spotnews

atau gambar lukisan (hasil cukilan kayu) yang merupakan reproduksi sebuah foto yang dihasilkan oleh kamera

Deguerretype.

Gambar tersebut merupakan peristiwa langsung yang menggambarkan saat terjadi pembunuhan (penembakan) dengan pistol atas diri Ratu Victoria di keretanya.






Dalam sejarah tercatat dua orang wartawan foto perintis yang sangat terkenal, yaitu Roger Fenton (Inggris) yang meliputi Perang Krim (1853-1856) dan Mattew Brady (AS) yang meliput

American Civil War

(Perang Abolisi) tahun 1861-1865. Brady membawa peralatan lengkap ke garis depan, perlengkapan itu dimuat dalam satu wagon (kereta kuda) sendiri, dimana di dalamnya terdapat laboratorium dan kamar gelapnya.



Karena belum ditemukannya cara membuat warna abu-abu atau ‘
halftones’

 dalam surat kabar, maka sampai tahun 1897 gambar yang dimuat masih saja dibuat dari cukilan kayu. Baru pada 21 Januari 1897 koran “
Tribun”

New York benar-benar memuat foto di dalamnya. Ini dimungkinkan berkat ditemukan sistem penggunaan titik-titik (dots) yang kita kenal sekarang dengan sebutan ‘raster’ untuk membuat nada-nada warna ‘halftones’ tadi.



Fungsi Fotografi Jurnalistik



Penyampaian informasi tentang suatu kejadian atau peristiwa yang bernilai berita kepada masyarakat atau khalayak umum dengan penggunaan gambar yang bernilai visual tinggi. Selain itu juga fungsi fotografi jurnalistik adalah sebagai komunikasi massa yang mampu memepengaruhi publik dengan berita terbaru.


Bentuk nyata dari fungsi fotografi jurnalistik yaitu ketika kita melihat karya-karya foto yang terpampang di dalam isi koran, majalah atau tabloid yang sering kita jumpai di pasaran atau juga gambar-gambar video yang berisi berita-berita keseharian manusia dalam mengarungi hidup melalui siaran televisi dariberbagai stasiun penyiaran televisi yang ada. Pada intinya bahwa foto jurnalistik memiliki 4 fungsi dasar yaitu untuk :


1. Menyampaikan Informasi


2. Mendidik


3. Menghibur, dan


4. Mempengaruhi



Proses Penciptaannya




Dalam proses penciptaannya harus mengacu pada syarat – syarat yang terkait dengan dunia pers atau pemberiataan. Setiap hasil jepretan atau bidikan objek harus mengandung unsur jurnalistik 5W 1H sehingga memenuhi persyaratan untuk tercantum dalam media massa.



Jenis Fotografi Jurnalistik



Fotografi jurnalistik dalam visualisasinya terbagi dalam beberapa jenis, yaitu :



  1. Spot Photo





Spot Photo adalah foto yang diambil oleh seorang fotografer jurnalistik atau wartawan dalam suatu waktu yang tidak terduga sebelumnya dikarenakan adanya peristiwa mendadak yang terjadi di masyarakat yang mampu menjadi suatu berita,

artinya peristiwa yang terjadi itu bersifat temporal dan didapatkan hanya ketika moment-moment tertentu saja atau dengan kata lain kejadian yang sifatnya tiba-tiba juga dan dapat dikatakan mendadak. Dalam hal ini, suatu kejadian atau peristiwa yang menjadi obyek dalam bidikan seorang fotografer disini datangnya tidak terduga oleh pemikiran manusia karena kejadian tersebut keberadaannya tidak direncanakan.


Misalnya tawuran antar mahasiswa
, kejadian kebakaran di sebuah pasar, kejadian tawuran warga, mahasiswa atau pelajar, suasana banjir, suasana gunung berapi yang sedang meletus dan peristiwa kecelakaan lalu lintas disebabkan kecerobohan dari pengendara yang kurang disiplin dalam berlalu lintas.






2. General News Photo









General News Photo adalah foto yang diambil dalam suatu peristiwa yang sudah direncanakan sebelumnya, biasanya foto ini memvisualkan kegiatan – kegiatan penting yang sudah terjadwal seperti penjamuan tamu dari luar negri oleh Presiden atau pemberian penghargaan juara olimpiade nasional.


Artinya sudah terjadwal atau sudah diketahui sebelumnya, sehingga seorang fotografer tinggal mengambil foto dari peristiwa atau kejadian tersebut. Fotografi jenis ini biasanya dilakukan di sebuah kegiatan formal dan penyelenggaraan kegiatan formal contohnya seperti peresmian suatu tempat, pengadaan seminar, pelatihan, konferensi dan sebagainya.





3. People in The News Photo






Adalah fotografi jurnalistik yang memvisualkan profile seseorang karena kelucuannya, keunikannya, kejanggalan atau keanehan yang luar biasa dan berbeda dari orang lain kebanyakan sehingga menarik perhatian dan rasa kagum bagi yang melihatnya.
Biasanya foto atau gambar yang diambil adalah orang-orang populer atau sudah dikenal oleh masyarakat luas, namun juga bisa pada orang biasa, karena keanehan dan keunikan yang dimilikinya.



Contohnya keanehan seorang limbad atau seorang laki-laki yang mampu menarik truk dengan giginya.





4. Daily Life Photo






Adalah Fotografi Jurnalistik yang yang memvisualkan atau menggambarkan bagaimana kehidupan sehari-hari manusia baik orang dari kalangan tinggi, menengah maupun kalangan bawah. Foto ini lebih dikenal “Human Intererst” seperti antrian pekerja atau seorang anak yang memakan sisa-sisa makanan di pinggir jalan dan berbagai macam potret kemiskinan di pinggir jalan.

Peristiwa ini juga bisa dicontohkan dari profesi seseorang yang berprofesi sebagai pedagang asongan yang sedang menawarkan jualannya ditengah-tengah kemacetan jalan raya untuk mendapatkan sesuap nasi dan menafkahi keluarganya. Foto ini sering disebut dengan istilah Human Interest, karena foto ini berbicara lebih kepada sisi kemanusiannya. Contoh lain dari Fotografi Jurnalistik untuk jenis ini yaitu seperti, seorang pengamen yang sedang mengamen di bus, antrian panjang warga untuk mendapatkan sembako, atau mengambil potret kemiskinan masyarakat Indonesia yang makin terjepit posisinya ditengah gencarnya arus modernisasi bangsa.




5. Portrait Photo






Adalah Fotografi Jurnalistik yang memvisualisasikan atau menggambarkan sikap kelucuan, keanehan baik dalam sikap maupun gaya yang menjadi ciri khas hingga menimbulkan suatu reaksi orang yang melihatnya.




Portrait Photo juga merupakan sebuah gambar atau foto yang dibuat atau diambil oleh seorang fotografer terhadap suatu peristiwa tertentu dari tingkah laku,sikap maupun gaya yang ditonjolkan oleh seseorang ataupun oleh sekelompok orang dengan menonjolkan karakter khusus pada dirinya atau kekhasan lainnya, yang mana peristiwa ini terkadang membuat orang menjadi tertawa atau sikap yang lainnya terhadap tingkah laku yang dilakukan.





 6. Sport Photo






Adalah Foto yang mengambarkan suatu peristiwa dalam bidang olah raga, mungkin untuk foto portrait dan sport telah di bahas lebih jelas sebelumnya.




 7. Science and Technologhy Photo






Cabang Fotografi Jurnalistik ini menggambarkan atau memvisualisasikan kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan keilmuan dan teknologi. Contohnya mahasiswa yang berasal dari Indonesia menciptakan robot pemadam kebakaran yang canggih.




 8. Art and Culture Photo






Dari namanya saja kita tentu tahu, bahwa fotografi jurnalistik satu ini membahas tentang kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang menjadi ciri khas. Contohnya pameran budaya nusantara dari mulai tarian Sunda, tari Saman ataupun tarian dari Papua.

Baca :   Penerapan Hukum Archimedes Pada Balon Udara




9. Social and Environment






Fotografi jurnalistik yang menghasilkan foto yang bercerita tentang sosial dan lingkungan hidup, misalnya pemukiman warga pinggiran yang kumuh, atau menumpuknya sampah di daerah-daerah tertentu.



Teknik Foto Jurnalistik



Foto jurnalistik dituntut untuk membuat suatu foto yang berbobot berita dengan tidak menghilangkan seni pesan visual yang akan disampaikan.



  1. Perencanaan







Perencanaan diperlukan dalam membuat foto jurnalistik agar menghasilkan foto dengan nilai berita tinggi dan mampu membuat orang yang melihatnya tertarik juga dengan gambar yang berkualitas. Berikut adalah tahapan – tahapan perencanaan.



  • Mengumpulkan informasi tentang suatu peristiwa atau acara yang mengandung nilai berita



  • Merencanakan gambar seperti apa yang ingin dihasilkan



  • Mempersiapkan peralatan sesuai kebutuhan





Tapi mungkin perencanaan ini tidak termasuk dalam tahapan fotografi jurnalistik Spot Photo.



  1. Menguasai Kamera dan Cahaya







Penulis Risalah Fotografi terkenal John Hedgecoe, menunjukkan bahwa untuk mencapai hasil pemotretan yang sempurna, pewarta foto harus menguasai kamera dan cahaya dengan tangkas dan trampil. Menentukan kecepatan, diafragma, penggunaan blitz, lensa disesuaikan dengan keadaan cahaya dan objek, hal ini tentu sangat perlu diperhatikan. Hasil foto harus jelas agar makna yang ingin disampaikan dapat diterima dengan jelas.



  1. Detil Gambar







EDFAT adalah suatu metode pemotretan untuk melatih suatu detil yang tajam. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada setiap unsur adalah :



  • Entire : Suatu keseluruhan pemotretan yang dilakukan begitu melihat suatu peristiwa.



  • Detail : Suatu pemilihan mana yang akan lebih difokuskan dari keseluruhan pemnadangan atau entire tadi.



  • Frame : Setelah memilih satu fokus, lalu memberikan bingkai, fase ini mengantar wartawan jurnalistik pada komposisi, tekstur, dan bentuk subjek pemotretan dengan akurat.



  • Angle : adalah tahap dimana sudut pandang menjadi dominan, ketinggian, kerendahan, level mata kiri, mata kanan dan cara melihat. Fase ini penting untuk mengkonsepsikan visual apa yang diinginkan.



  • Time : Penentuan penyinaran dalam kombinasi yang tepat antara diafragma dan keempat tingkatan yang telah dibahas tadi.




  1. Melakukan Pemotretan



Dalam pengambilan gambar harus tepat waktu, karena suatu momen berharga sangat jarang terulang.





War Photography








War Photography mengambil foto-foto dari kehidupan yang dilanda konflik bersenjata yaitu di daerah-daerah perang pada umumnya. Seorang wartawan yang ingin menangkap foto tidak boleh bertindak sebagai peserta aktif perang tetapi sebagai partisipan netral maka akan lebih praktis mereka ke medan perang dan merekam tindakan cepat pertempuran.Karena fotografi, disajikan kepada publik pada tahun 1839. diyakini mampu menciptkan gambar yang akurat representasi dari dunia. Fotografi seharusnya digunakan untuk merekam informasi sejarah.










Fotografi Perang atau



War Photography


adalah kegiatan fotografi yang menangkap foto dari konflik bersenjata dan dalam kehidupan peperangan. Hasil dari

War Photography

kebanyakan adalah foto yang mengabadikan sejarah peperangan yang pernah terjadi. Fotografer perang yang dikenal pertama adalah orang Hungaria – Rumania bernama Carol Popp de Szathmari yang mengambil foto berbagai petugas pada tahun 1853 dan adegan perang di dekat Oltenita dan Silistra pada tahun 1854, selama perang Crimean. Dia menciptakan sekitar 200 album gambar, yang secara pribadi ia tawarkan pada tahun 1855 untuk Napoleon III dari Prancis dan Rattu Victoria dari Inggris. Sekitar sembilan gambar nya bertahan hingga hari ini. Selain itu juga, ada Alexander Gardner yang mengabadikan foto korban Perang Saudara Amerika di Antietam pada tahun 1862.












Fotografer Prancis Ernest Edouard de Caranza tertangkap oleh bangsanya sendiri di


perkemahan dekat

Varna

pada tahun 1854, ia diikuti oleh

Roger Fenton


pada tahun 1855, meski dengan peralatan yang sangat besar dia hanya mengambil foto dengan fose biasa dan lanskap. Dia mengambil foto sebuah Van besar dan seorang asisten dan kembali ke Inggris dengan lebih dari 350 menggunakan kertas negatif dengan format besar.









Pada akhir tahun 1850-an  Felice Beato, bepergian ke India untuk adegan foto dari terbaru


pemberontakan
, dan menghasilkan sejumlah gambar dari

Pengepungan Lucknow

dan

Pengepungan Delhi
, tak lama kemudian Dia pergi ke Cina untuk merekam pasca

Perang Opium Kedua
. Ketidak mampuan foto awal untuk merekam objek bergerak, membuat praktek menciptakan adegan pertempuran, seperti dalam karya kedua

Sims Haley

dan

Alexanderl Gardner
. Mereka diakui dengan karyanya yaitu adegan ulang yang berlangsung selama pertempuran

Perang Saudara Amerika

(1861-1865) untuk mengintensifkan efek visual dan emosional dalam pertempuran tersebut. Alexander Gardner dan

Mathew Brady

memotret berulang-ulang mayat tentara yang tewas selama perang saudara dalam rangka menciptakan gambaran yang jelas tentang kekjaman yang terkait dengan pertempuran. Kemudian dalam tentara di Battlefield, 1862 Brady menghasilkan tablo yang kontroversial yang mati dalam lanskap tepencil. Karya ini bersama dengan Alexander Gardner 1863 pekerja

Rumah Rebel Sharpshooter
, adalah gambar yang ketika ditunjukan kepada publik, membawa pulang realitas perang yang mengerikan.
Ketika fotografer awal tidak mampu membuat gambar target bergerak, mereka akan merekam aspek perang yang dapat menetap diam, seperti benteng, tentara dan tanah sebelum juga sesudah pertempuran dengan menghadirkan nuansa aksi peperangan.






Pada Tahun 1830-an, mengambil peristiwa perang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pertama kali dipublikasikan .Fotografer menyukai pengambilan foto dengan foto yang jelas ,Karena fotografer tidak mampu mengambil foto dengan cara target yang difoto banyak bergerak.



Untuk menghasilkan sebuah foto yang baik , objek harus diam untuk beberapa menit , sehingga mereka di foto tampak jelas dan tidak banyak gerakan.




Tokoh fotografi perang yang pertama kali dikenal adalah John Mc Cosh .Mc cosh menghasilkan foto-foto yang mendokumentasikan Perang Sikh Kedua pada tahun 1848-1849. Yang terdiri dari gambar perwira militer , termasuk komandan Inggris Sir Charles Napier dan artileri.







Pada abad ke – 20 para fotografer menutupi konflik besar dunia, dan akibatnya banyak fotografer perang yang meninggal. Salah satu yang paling terkenal adalah

Robert Capa

yang meliput

Perang Saudara Spanyol
,

D-Day

pendarata,  jatuhnya Paris dan konfli pada tahun 1950, sampai kematiannya oleh ranjau darat di Indocina tahun 1954.Tidak seperti lukisan yang disajikan adalah suatu peristiwa tertentu yang bersifat tunggal. Fotografi menawarkan banyak ekspresi gambar untuk memasuki sirkulasi. Perkembangan gambar fotografi memungkinkn masyarakat mendapat informasi dalam wacana perang. Munculnya diprosduksi foto perang secara massal tidak hanya digunakan untuk menginformasikan kepada publik namun foto tersebut juga menjadi jajak waktu dan rekaman sejarah. Fotografi perang biasanya tidak diizinkan oleh pihak yang bersangkutan, namun ada saja beberapa orang yang tetap melakukannya secara diam-diam dan berhasil mengabadikan momen – momen penting dalam suatu situasi peperangan



.





    `


Fotografer perang pertama adalah seorang warga Amerika yang anonim. Dia mengambil sejumlah daguerrotypes selama Perang Meksiko-Amerika (1847). Kelemahannya adalah seorang fotografer tidak mampu mengambil foto bergerak. Mereka akan menangkap suatu aspek yang tidak bergerak, diam dan menetap. Contohnya adalah benteng, tentara dantanah sebelum penciptan ualng dari adegan aksi. Maka untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini, potret gambar tentara juga sering dipentaskan dengan cara subjek harus diam selama beberapa menit dan berpose senyaman mungkin dan meminimalkan gerakan.


Selama ini photojurnalistik berusaha terus menutupi konflik di seluruh dunia. Fotografi menawarkan kesempatan untuk jumlah luas gambar untuk memasuki sirkulasi bukan seperti lukisan, yang hanya disajikan ilustrasi tunggal peristiwa tertentu. Seiring dengan berkembangnya gambar, sangat diharapkan wacana perang diperoleh sebagai informasi dalam kehidupan masyarakat. Meledaknya produksi gambar perang melalui media massa diharapkan tidak hanya digunakan untuk menginformasikan kepada publik tetapi mampu menjabat sebagai jejak dari waktu dan sebagai rekaman sejarah.


Dalam pertempuran di Normadia, fotografer yang mencoba mendapatkan gambar akan menyadari bahwa mereka sedang ditempatkan dalam keadaan bahaya, dan tidak menutup kemungkinan akan terbunuh. Memang pada dasarnya bahwa wartawandan fotografer medampatkan perlindungan dari konvensi internasional perang bersenjata. Namun pada kenyataannya, banyak sejarah yang telah membuktikan bahwa ternyata para wartawan sering dijadikan korban perang karena pihak-pihak yang bertikai sering menjadikan mereka target. Selain itu, untuk menunjukkan kebencian lawan para wrtawan juga menjadi sasaran perang. Parahnya lagi mereka dibunuh untuk menutupi fakta-fakta yang ditunjukkan dalam foto-foto yang berhasil ditangkap oleh para wartawan.








Oleh karena itu, wartawan tidak harus bekerja pada saat pertempuran sedang berlangsung parah, melainkan dapat mendokumentasikannya pada saat konflik telah selesai. Contonya saja, seorang Fotografer Jerman, Frauke Eigen yang memfokuskan foto yang diambilnya tentang kejahatan perang di Kosovo pada pakaian dan barang-barang milik korban penindasan etnis bukan pada mayat mereka saat pertempuran aktif. Eigen mengambil foto saat penggalian kuburan massal yang kemudian dijadikan bukti oleh Pengadilan Kejahatan Perang di Den Haag.


Contoh War Photography :




https://picasaweb.google.com/101800233690810936347/WarPhotography#5806075070619908530




https://picasaweb.google.com/101800233690810936347/WarPhotography#5805410607101967106




Fire Photography









Fire Photography adalah suatu tindakan mengambil gambar/foto pada peristiwa-peristiwa kebakaran. Orang yang bekerja untuk hal ini disebut sebagai fotografer api (kebakaran). Seorang fotografer kebakaran haruslah memiliki kemampuan atau keterampilan khusus bahkan pengetahuan mengenai adegan pada peristiwa darurat. Dia juga harus mampu melakuakan operasi kesehatan untuk melindungi dirinya sendiri atau untuk menyelamatkan dirinya dari berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Maka alat peindung kebakaran sangatlah dibutuhkan oleh seorang fotografer kebakaran.



Sejak kebakaran melibatkan fotografi ini melibatkan seseorang dalam keadaan darurat dan bahaya sehingga fotografer api ini harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan tentang kejadian darurat, oprasi, kesehatan dan keselamatan, selain itu juga harus memakai pakaian kemanan untuk perlindungan31.

Cabang fotografi ini memerlukan perlengkapan yang berbeda dengan cabang fotografi lain, mengingat resiko yang dihadapi cukup berat, yaitu harus terjunlangsung dalam proses kebakaran berlangsung untuk mendapatkan foto yang diinginkan, fotografer yang ingin mengambil foto dalam cabang fotografi ini harus dilengkapi dengan pelindung, cabang fotografi fire biasa digunakan untuk melakukan investigasi dalam suatu kasus.



Sejarah Fire Photography






a). Ancient Rome






  Pada awalnya tidak ada pemadam kebakaran di Republik Romawi. hanya saja seorang individu akan mengandalkan banyak orang untuk mengambil suatu tindakan yang bisa melibatkan untuk meratakan suatu bangunan yang ada di dekatnya untuk mencegah penyebaran api serta brigade ember. Marcus Licinius Crassus terkenal karena penjualan api literal. Dia akan membeli gedung yang terbakar, dan orang-orang dekat dengan mereka dengan harga rendah, dan membangun kembali dengan menggunakan timnya dari 500 orang. Namun tidak disebutkan dari orang-orang pemadam kebakaran. Jadi tidak ada kekuatan pemadam kebakaran yang diselenggarakan di Roma kuno sampai era Augustus.







b) . Inggris





Sebelum terjadi Kebakaran Besar London pada tahun 1666 , bebrapa pasukan dari inggris sudah mengatur pasukan pemadam kebakaran namun belum sempurna dengan apa yang di harapkan.Setelah itu banyak yang mengalami kehancuran di London, maka seorang pria yang bernama Nicholas Barbon memperkenalkan untuk yang pertama kalinya tentang asuransi kebakaran.





Barbon membentuk sendiri Pemadam Kebakaran ,guna untuk mengurangi biaya dan pada akhir nya ada banyak perusahaan yang terus berdiri. Pada awal 1800-an, asuransi yang mereka dirikan mendapatkan suatu lencana atau diberikannya tanda sebagai suatu lampiran pada sifat mereka untuk menunjukkan bahwa mereka memenuhi syarat untuk memanfaatkan jasa pemadam kebakaran. Bangunan yang lain tidak ada liputan atau tidak memiliki asuransi dengan perusahaan yang berbeda yang tersisa untuk mencegah terbakar kecuali mereka yang berdekatan dengan bangunan yang diasuransikan dalam hal itu sering kepentingan perusahaan asuransi untuk mencegah api menyebar.





Pada tahun 1833, perusahaan di London bergabung untuk membentuk The London Api Pendirian Perusahaan. Uap bertenaga pertama kali diperkenalkan pada tahun 1850-an, sehingga kuantitas yang lebih besar dari air diarahkan ke api. Peralatan bertenaga uap digantikan di awal 1900-an dengan penemuan mesin pembakaran internal.





c). Penggunaan fotografi api





Sebelum menghasilkan suatu karya ,fotografer kebakaran harus mengetahui beberapa aplikasi sebagai berikut:


Baca :   Dimas Mendapat 8 Buku Tulis Dari Sekolah




1). investigasi pelatihan





2). pencegahan kebakaran meliputi kesehatan dan keselamatan kerja





3). Analisis post-insiden





4). Peningkatan pandangan publik pada pekerjaan darurat





5). Penguatan rasa memiliki untuk sebagai pemadam kebakaran.





Secara umum, fotografer api bukan lah bagian yang absolut dalam departemen kebakaran.fotografer menyediakan layanan khusus untuk fotografi api yang terdapat dalam posisi suatu api biasa atau pundalam situasi kebakaran yang akan dapat menghasilkan biaya yang cukup besar untuk per-fotonya. keamanan akan menjadi suatu masalah kepada fotografer karena mungkin disaat situasi yang sangat mengharukan penuh kepanikan sang fotografer harus bisa memotret atau mengambil suatu objek tersebut dengan baik untuk menghasilkan gambar yang bagus, dengan penuh keterampilan dan kehati-hatian. Mereka (fotografer) harus selalu mengembangkan hubungan baik dengan pemadam kebakaran karena untuk mempermudah akses dalam menembak suatu adegan atau untuk menghasilkan objek yang baik. Maka diperlukannya kebijakan pemadam kebakaran dan membutuhkan pelatihan tambahan atau








pengaturan lainnya guna untuk mencegah segala hal buruk yang sering terjadi di tempat kejadian tersebut.






Fotografer api yang profesional akan mendapatkan sertifikat formal yang dirancang oleh International Organization of Fire Photography (IOFP). Tujuan di berikannya setifikat ini adalah untuk memberikan suatu penghargaan kepada individu yang telah melakukan pelatihan yang baik atau sudah memiliki keterampilan dan pengetahuan serta dapat menjaga kesehatan dan keselamatan, untuk dirinya sendiri dan operasi pemadam kebakaran dalam suatu keadaan yang darurat.





32



Sumber  :

http://en.wikipedia.org/wiki/Fire_photography



Api Sebagai Subjek33




Untuk menangkap api

dengan kamera bisa dengan cara membidik,

menarik fokus pada nyala api (efek) dan detail yang dapat ditampilkan di dalamnya. Dalam kebanyakan kasus, mengambil gambar api itu harus menggunakan kecepatan rana yang cukup cepat karena untuk membekukan gerak untuk melihat detail dalam api. Kecepatan itu relatif tergantung dengan cara kita membidik gambar api tersebut, namun titik awal yang baik untuk mengambil gambarnya adalah sekitar 1/250 atau lebih cepat. Kecepatan rana yang digunakan harus meningkat, dan harus menggunakan lubang diafragma yang lebih besar dan dengan ISO yang tinggi.



Detail akan lebih menarik dibandingkan dengan darimana api dipancarkan. Misalnya ketika kita akan mengambil gambar kembang api, kita harus memperlambatan kecepatan rana untuk menangkap jenis foto seperti itu.


Api tunggal



Mengambil suatu gambar api tunggal itu terlihat sangat mudah ketika hanya melihat secara sekilas , tetapi bukan karena api tunggal terlihat mudah sama saja dalam teknik pengambilan fotonya itu harus memiliki teknik dan pemahaman yang cukup.



Pada pengambilan objek gelap membantu untuk dapat menyoroti api , dalam melakukannya harus dengan penuh kesabaran dan dengan tripod yang kokoh atau cara memegang kamera dengan baik untuk mendapat kan hasil yang maksimal .foto dapat dikatakan baik jika dalam teknik mengambil objek tersebut dengan menggunakan fokus manual dan fokus pada ujung sumbu. Api tersebut tidak akan terlihat super jelas dalam fokus karena sementara memproduksi menjadi objek tiga dimensi , yang berarti intensitas dan titik untuk fokus pada objek itu akan bervariasi .



Jika menggunakan kamera has spot metering , objek yang diambil itu dapat menimbulkan suatu bacaan dari api itu sendiri yang dapat menghasilkan gambar cukup gelap , sehingga percobaan dengan overexposing sedikit dengan memperlambat kecepatan rana . Membuat asam tidak ada draft sekitar untuk memindahkan api jika apa yang di cari adalah foto di sebelah kiri . Sebaliknya, jika kita memiliki kecepatan rana teknis dan dasar tahu , bermain-main sedikit dengan ringan meniup api dan Mencoba untuk menangkap gambar api yang menari maka suatu cahaya api yang dihasilkan dari lilin ini foto yang dihasilkan apakah di 1/6th dari kedua di f / 8 untuk dapat membantu meningkatkan kedalaman lapangan di lilin itu sendiri.


Stop atau Pergi



Maksud dari stop dan pergi adalah jika ingin mendapatkan suatu gambar dengan struktur api yang baik maka harus dapat menghentikan tindakan api yang berputar dengan kecepatan rana (1/60th di f/3.5) jika kecepatan rana lebih lambat (3,2 detik pada f/3.4) maka dapat menunjukan apa yag tampak merupakan suatu kejelasan tersenderi di off pernintal.




Api Besar




Untuk dapat mengambil foto kebakaran yang besar dengan suasana yang menggelagar panas akan sangat sulit dilakukan . sehinnga gambar yang didapatkan yaitu teknik gambar dari api dengan jarak jauh , tetapi akan menyebabkan kehilangan dampak atau skala apinya tersebut. jadi dapat disimpulkan bahwa untuk dapat mengambil gambar dalam keadaan api yang besar itu sangat penting sekali dibutuhkan keamanan, kesehatan dan juga keselamatan karena kita tidak akan bisa menduga apa yang akan terjadi. pengambilan gambar pada api yang ganas pada malam hari akn menambahkan efek asap dramatis .jadi untuk menyorot asap tersebut harus memberikan volume dan ruang untuk api keluar dan dilampirkan ke tanah . pengambilan gambar dimalam hari dengan menggunakan rana yang lambat akan memungkinkan untuk intensitas cahaya api dapat menjadi berbagai warna dan memiliki kecerahan.berikut ini ada cara-cara memotret api dengan baik :
Pengambilan foto yang baik dan benar itu adalah gambar yang dihasilkan itu memancarkan suatu cahaya dan juga tidak terlalu gelap. untuk dapat menghasilkan foto yang baik dan bagus itu diperlukan pemahaman dan Untuk mempelajari bagimana memotret api bisa menjadi hal yang sangat rumit . diperlukannya pengaturan kamera yang baik dan benar karena pemotretan fire photography ini cukup
sulit dilakukan. Berikut langkah-langkah nya :
Langkah 1 : Menyiapkan Kamera
Siapkan kamera dengan pengaturan yang sudah diatur terlebih dahulu untuk dapat mengambil objek yang baik atau bagus dengan mengatur flash off kameranya untuk memulai potretan karena setelah itu tidak
akan dipergunakan lagi ketika sedang memotret api.
Langkah 2 : Bereksperimen
Untuk dapat menghasilkan gambar yang baik maka harus dilakukannya percobaan-percobaan ataupun suatu pelatihan agar dapat diketahui bagaimana percobaan itu akan menjadi suatu acuan untuk dapat terampil dalam menghasilkan suatu objek yang baik yang mana pada awalnya kita harus bisa mengatur eksposure nya guna untuk mendapatkan gambar api yang baik.
Langkah 3: Shutter Speed

Shutter speed merupakan salah satu prngaruh terhadap fire photography. Dengan mengontrol kecepatan rananya yang berefek cahaya yang diambil bisa sedikit ataupun banyak dapat mempengaruhi blur dalam fire photography.
 Langkah 4 : High ISO
Untuk membuat gambar api yang sempurna , gunakan shutter speed dan iso yang tinggi , selain untuk menjaga kestabilan dari gir kamera juga gambar api yang dihasilkan terlihat sempurna dengan menggunakan tripod
Langkah 5: Low ISO
Jika iso dan shutter speed yang cepat dapat membuat gambar api yang sempurna , maka iso yang rendah dan shutter speed yang lambat juga dapat membuat gambar api yang baik , dengan catatan tidak menggunakan tripod
 Langkah 6 : Mengambil Foto
Setelah pengaturan iso dan shutter yang akan di pilih , tinggalah menekan shutter dan melihat hasil dari gambar yang telah diambil , apabila gambar yang dihasilkan kurang memuaskan , maka anda dapat kembali mengatur pengaturan manual dan mengabil gambar kembali.





Warna Api34




Mengambil gambar secara dekat pada apai dan kita akan melihat beberapa warna, gradien, dan intensitas sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa warna api itu adalah topik yang kompleks. Ini tergantung pada suhu, jenis bahan bakar, berapa abanyak oksigen yang ada dan seberapa baik itu dicampur dengan bahan bakar, dengan faktor yang lainnya. Jika kita akan memotret kebakaran, akan timbul ide sederhana yang akan membantu kita mengontrol warna api yang diinginkan.



Dalam fotografi kebakaran, faktor yang paling berpengaruh dalam warna api akan bahan bakar yang edibakar. Kayu, kertas, pakaian atau apapun yang menempatkan banyak partikel yang tidak terbakar (asap) mungkin akan menimbulkan warna kekuningan (orange). Cara yang termudah untuk mendapatkan kontrol warna api adalah dengan menambahkan warna yang kita inginkan.



Api akan menambahkan elemen yang menarik untuk foto kita, dengan begitu kita mengambil langkah-langkah untuk memastikan itu bisa dilakukan. Disini ada tiga hal yang dapat kita lakukan, yaitu :



1. Pastikan api yang kita buat menimbulkan asap. Bahan bakar yang efisien (seperti beberapa obor gas dan alkohol) tapi mungkin tidak akan terlalu menghasilkan banyak asap. Namun jikakita menggunakan bahan bakar yang efisien seperti kayu atau kertas akan memaksimalkan output asap.



2. Menyalakan asap, sebuah sumber cahaya bersinar ke asap akan memperkuat garis-garis dan menyebabkan asap lebih menonjol.



3. Gunakan cukup cepat rana untuk membekukan jejak asap, dengan jendela lambat akan membuat gumpalan asap seperti kabut.





Seorang fotografer kebakaran harus mampu mengaplikasikan hal-hal dibawah ini sebelum mulai berkarya untuk dalam menangkap foto-foto pada peristiwa darurat

.







1.
Invetigasi pelatihan




2. Pencegahan pebakaran



3. Perlindungan kesehatan



4. Analisis post-insiden



5. Peningkatan pandangan publik pada
pekerjaan darurat




6. Penguatan rasa memiliki untuk sebagai pemadam kebakaran
.





Satu hal yang perlu diketahui bahwa fotgrafer kebakaran bukanlah bagian yang absolut dalam departemen pemadam kebakaran. Namun fotografer perang adalah orang-orang yang menyediakan pelayanan jasa untuk mengambil foto-foto pada peristiwa kebakaran yang melibatkan biaya per-fotonya.





Oleh karena itu, banyak masalah yang mereka hadapi saat ingin mengambil gambar/foto pada peristiwa kebakaran, terutama mengenai izin pengambilannya. Maka para fotografer perang mulai mengembangkan hubungan yang baik dengan departemen pemadam kebakaran setempat untuk  mempermudah akses ke adegankebakaran. Akses tersebut diterima atas kebijakan dari departemen pemadam kebakaran dan mereka diberikan pelatihan tambahan untuk mencegah segala hal buruk yang sering sekali terjadi di tempat kejadian.






Seorang fotografer

perang akan mendapatkan sertifikan formal yang disusun oleh organisasi International Organization Of Photography Fire (IOFP) sebagai bukti bahwa mereka telah mendapatkan pelatihan yan
g memadai
.







Ada beberapa teknik dalam pengambilan foto yang dapat diketahui oleh seorang fotografer api pada saat ingin menangkap foto pada adegan kebakaran. Hal ini untuk menghasilkan foto yang bagus. Berikut penjelasaannya :





1.
Menempatkan Eksposur yang tepat




Memilih aperture yang tepat adalah kunci untuk mengendalikan kesulitan tentang api
yaitu keseimbangan antara paparan sempurna
dan highlight dimana-mana cukup halus.
Penembakan di sekitar f8-10 di ISO 200-400 cenderung benar. Namun tetap saja harus
disesuaikan dengan ukuran api. Perhatikan histogram pada gambar; jia highlight, maka
turunkan ISO atau tingkatkan aperture.
Jika sudah terlalu jauh dan api mulai
padam, tingkatkan eksposur lagi.




2.
Pengaruh mengubah aperture di jalur api




Ingatlah kecepatan ranah hanya akan memengaruhi highlight jika api masih berdiri, namun pada saat api mulai bergerak, selalu menembak dalam model manual, sesuaikan dengan aperture pertama, dan kemudian bermain dengan kecepata rana untuk mendapatkan gambar yang diinginkan. Shutter speed haruslah disesuaikan untuk menentukan ukuran jalan yang diinginkan (antara 0,5-2 detik cenderung untuk bekerja dengan baik).



3.
Mengisolasi subjek (non-api)




Saat yang paling ideal untuk memotret adalh sesuaikan flash untuk “sync tirai belakang’ yaitu berkedip pada akhir paparan, berkhir dengan angka masih pada pertengahan-gerakan. Potret terbaik adalah pengaturan pencahayaan seluruh pelaku dan dengan fitur tambahan dari paparan panjang untuk mendapatkan jalan bersama dengan menggunakan kedipan untuk menangkap orang tersebut. Namun masalah yang sering sekali terjadi adalah keseimbangan warna yang mulai off, api yang jauh lebih terang daripada flash. Maka dapat menggunakan gel untuk menyeimbakan atau menyimpan lampu kilat dengan perlahan-lahan.



Sumber Rujukan:







31

“Inilah Jenis dan Tipe Fotografi Lengkap! | GedeBuzz.” 2013. 25 Jan. 2014 <

http://gdebuzz.blogspot.com/2013/10/inilah-jenis-dan-tipe-fotografi-lengkap.html
>



Baca :   Grafik Tan X







32

“Gede Buzz – Blogger.” 2013. 13 Nov. 2013 <

http://gdebuzz.blogspot.com/
>









33

“How to Photograph Fire – Digital Photography School.” 2011. 14 Nov. 2013 <

http://digital-photography-school.com/how-to-photograph-fire
>









34

“How to Photograph Fire – Digital Photography School.” 2011. 14 Nov. 2013 <

http://digital-photography-school.com/how-to-photograph-fire
>




Contoh Fire Photography :




https://picasaweb.google.com/101800233690810936347/FirePhotography#5805413040470626450


Candid Photography






Candid Photography adalah tindakan mengambil foto baik tanpa sepengetahuan subjek maupun dengan izin yang jelas. Mereka ditangkap dengan gaya yang natural. Artinya memang tidak ada gaya berfoto yang dibuat-buat. Ada banyak fotografer profesional yang mengembangkan fotografi candid menjadi suatu seni fotografi candid. Misalnya, Henri Cartier-Bresson yang menangkap momen-momen kehidupan sehari-hari dalam rentang waktu tertentu. Sementara itu, Arthur Fellig (WeeGee) mendokumentasikan kehidupan sehari-hari di jalan-jalan New York.Candid dapat diartikan jujur, terus terang, sesuai kenyataan. Candid photography merupakan cabang seni fotografi yang mendokumentasikan kehidupan manusia dalam lingkungannya yang paling alami. Target foto candid itu sendiri adalah hasil foto natural, apa adanya, wajar, dan tidak kaku. Artinya ketika objek bertindak, berekspresi, dan bereaksi secara alami tanpa dibuat-buat. Dengan kata lain candid photography adalah foto yang posenya tidak diatur.





Foto candid diambil tanpa sepengetahuan objek sehingga menghasilkan ekspresi yang natural tanpa  dibuat-buat.





Walaupun ada beberapa foto candid yang diambil dengan ijin sebelumnya dari objek melalui pendekatan personal, misalnya foto candid yang diambil pada acara pernikahan. Dalam hal ini objek mungkin sadar kamera, namun objek difoto ketika mereka bereaksi alami bukan berpose (reaction photography).


Perlu diketahui bahwa Candid Photography merupakan bentuk paling murni dari semua jenis foto jurnalistik. Foto jurnalistik hanya menangkap orang yang berada pada sebuah event. Tidak seperti foto jurnalistik lain yang sering sekali menceritakan sebuah cerita dalam gambar.Kamera Leica 33mm adalah kamera yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1920 sebagai fotografi candid. Peralatan yang digunakan dalam fotografi candid baiknya adalah ringan, kecil. Jangan terlalu besar karena akan semakin sulit untuk menangkap gambar yang bernilai estetika. Selain sebagai seni, teknik foto candid juga banyak digunakan wartawan untuk membuat laporan fotojurnalistik tentang kehidupan manusia dan lingkungannya. Foto kehidupan masyarakat lingkungan kumuh di perkotaan, misalnya, merupakan objek yang layak diangkat dengan teknik foto candid ini. Ataupun para paparazzi yang mengambil gambar atlet, politisi, selebriti dan lain lain untuk kepentingan tertentu, biasanya untuk mengungkap atau menyebarkan sebuah isu. Paparazzi adalah fotografer yang mengambil gambar atlet, penghibur, politisi, selebriti dan lainnya. Banyak para ahli yang mengidentikan paparazzi dengan tindakan menguntit.


Candid Photography dengan kecepatan film yang tinggi yaitu ISO sebgai kilatan strobo dapat mengganggu interaksi, menyebabkan orang tidak lagi berperilaku alami. Maka untuk mengatasinya seorang fotografer candid mengambil gambarnya di luar ruangan tempat, yaitu saat matahari memberikan cahaya yang cukup.


Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan membuat foto candid adalah:

a) Kondisi Lingkungan Sekitar



Emosi seseorang dalam suasana tertentu sangatlah penting untuk mendapatkan foto candid yang baik. Kemudian foto candid juga sangat bergantung pada cahaya yang mengenai objek dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu fotografer harus dapat memilih sudut pengambilan gambar terbaik pada saat tertentu dan dapat berbaur di lingkungan tersebut. Untuk mendapatkan momen menarik dan situasi tak terduga,kamera harus selalu dibawa kemanapun agar selalu siap untuk mengambil momen yang berlangsung cepat. Dalam pengambilan gambar pun mata tidak harus selalu membidik melalui kamera, misalnya mengambil gambar dengan kamera diletakkan dekat pinggang. Namun dalam hal ini keberuntungan dan pengalaman fotografer sangat diperlukan untuk mendapatkan framing yang tepat. Ketika mendapatkan suatu momen yang menarik, ambilah gambar tersebut sebanyak mungkin untuk mendapatkan hasil foto terbaik. Momen terbaik foto candid biasanya adalah orang yang sedang melakukan sesuatu. Untuk itu carilah tempat dimana orang-orang banyak beraktifitas, kemudian cobalah untuk menangkap esensi pekerjaan orang tersebut. Dan yang perlu diperhatikan, janganlah mengambil gambar seseorang ketika mereka membelakangi kamera, karena hal ini akan terlihat membosankan dan tidak menarik.

b) Lensa dan Kamera

Kamera dan lensa merupakan bagian penting dalam fotografi candid. Lensa yang biasa digunakan adalah lensa dengan tele 70-300 f4.5 untuk cahaya yang cukup banyak atau 70-200 f2.8 untuk cahaya yang minim atau standar 16-70 f2.8 untuk cahaya yang minim. Umumnya lensa yang digunakan adalah lensa tele panjang. Karena lensa yang seperti ini mempunyai ketajaman yang maksimal dan objek yang ditangkap pun akan lebih jelas. Selain itu lensa tele panjang memiliki nilai lebih, yaitu dapat menghasilkan foto yang alami karena pengambilan gambar dapat dilakukan cukup jauh dengan autofocus sehingga objek tidak sadar menjadi sasaran pemotretan. Namun sebenarnya pilihan lensa bersifat fleksibel, karena lensa apapun, tele panjang, tele menengah, tele normal dapat digunakan dalam candid ini. Secara teknis, tele panjang dapat menghasilkan foto yang menonjol dan menampilkan objek secara penuh karena sudutnya yang lebar sehingga mudah untuk menghasilkan foto candid, namun kekurangannya fokus objek susah didapatkan apalagi untuk mendapatkan ketajaman gambar.Setting kamera sangat penting sebelum memulai pengambilan gambar. Pertama jangan gunakan flash, karena ini akan mengganggu objek sehingga menggagalkan pengambilan foto candid. Oleh karena itu bukalah aperture lebih lebar dan naikkan ISO karena hal ini membantu agar foto terlihat jelas walaupun dalam ruangan.Gunakan ISO sekitar 400, dan buka aperture selebar yang kita inginkan untuk mendapatkan shallow DOF yang akan menambah keindahan foto dan memberi fokus lebih baik pada objek dan gunakan shutter speed yang cukup cepat untuk menghindari hasil foto yang buram akibat pergerakan pada objek ataupun pergerakan fotografer.



Ada beberapa tips yang mungkin dapat digunakan oleh seorang fotografer untuk mengambil foto candid yang bagus. Tips-tips ini bukanlah tentang mangambil secara licik, veyeuristik atau memotret tanpa izin mereka melainkan tentang cara menambahkan rasa lebih jujur kepada kita dalam mengambil gambar dari orang yang kita kenal.

1. Ambil kamera Everywhere
Mungkin cara terbaik untuk mengambil foto spontan adalah selalu siap untuk melakukannya.

2. Gunakan Zoom Panjang
Jelas lebih lanjut semakin kita jauh dari subjek semakin kecil kemungkinan mereka akan mengetahui bahwa kita sedang memotret mereka dan lebih alami dan santai mereka akan bertindak. Menggunakan lensa tele atau zoom panjang memungkinkan untuk menembak dari luar ruang pribadi mereka tetapi menjaga perasaan keintiman dalam tembakan yang kita ambil.

3. Bunuh Flash
Jika memungkinkan (dan itu tidak selalu) mencoba untuk memotret tanpa lampu kilat jika bertujuan untuk gambar terang. Ketika dalam situasi cahaya rendah meningkatkan pengaturan ISO, menggunakan lensa yang lebih cepat, membuka aperture atau jika kamera yang kita memiliki ‘modus cahaya alami’, nyalakan. Mudah-mudahan satu atau kombinasi dari pendekatan ini akan membantu kita menyatu dengan latar belakang sedikit lebih.

4. Tembak banyak
Ketika kita menembak beberapa gambar dengan cepat kadang-kadang bisa mendapatkan beberapa gambar mengejutkan dan spontan. Beralih kamera ke mode pemotretan terus menerus dan menembak dalam semburan gambar dan dengan berbuat demikian kita akan meningkatkan kesempatan kita untuk gambar yang sempurna.

5. Posisikan Diri strategis
Fotografi Candid adalah tentang menangkap spontanitas sesaat dan mendapatkan gambar yang sempurna pada perpecahan kedua kanan waktu maka jika kita berpikir ke depan dan mengantisipasi apa yang akan terungkap di depan kita bahwa kita dapat sangat meningkatkan kemungkinan mendapatkan beberapa besar tembakan.

6. Foto orang melakukan hal-hal
Gambar orang melakukan hal-hal cenderung jauh lebih menarik daripada orang-orang yang duduk pasif melakukan apa-apa. Untuk satu subjek kita akan difokuskan pada sesuatu yang menambah energi untuk foto (dan mengambil fokus mereka dari kita) tetapi juga menempatkan mereka dalam konteks dan menambahkan unsur cerita untuk gambar kita. Waktu adalah segalanya dalam Candid shots sehingga menunggu sampai mereka terganggu dari kita dan sepenuhnya difokuskan pada apa yang mereka lakukan atau yang mereka dengan dan kita akan menyuntikkan perasaan ke dalam gambar kita dari mereka yang menyadari dan penampil gambar kita sedang mencari pada yang tak terlihat.

7. Foto Orang dengan Orang
Sesuatu yang sangat menarik terjadi ketika kita memotret lebih dari satu orang dalam gambar pada suatu waktu – memperkenalkan hubungan ke tembakan. Bahkan jika dua (atau lebih) orang yang tidak benar-benar berinteraksi dalam tembakan itu dapat menambah kedalaman dan rasa cerita ke dalam tampilan gambar. Tentu saja idealnya dalam gambar terang kita ingin beberapa interaksi antara subjek kita sebagai yang akan menambah emosi ke tembakan juga sebagai kita penampil mengamati bagaimana orang-orang bertindak.

8. Menembak dari Hip
Jika subjek kita menyadari bahwa kita berada di sana dan bahwa kita memiliki kamera kita keluar mereka mungkin tegang atau bertindak sedikit wajar karena mereka melihat kita mengangkat kamera ke mata. Keindahan kamera digital adalah bahwa hal itu tidak dikenakan biaya apapun untuk mengambil banyak gambar dan dapat menembak layak tanpa meningkatkan kamera kita. Untuk melakukan hal ini yang paling efektif kita mungkin ingin mengatur lensa kita ke sudut yang lebih luas pengaturan untuk menebus masalah bertujuan mungkin kita miliki.

9. Mencampur Perspektif Anda
Keindahan lain menembak dari pinggul adalah bahwa hal itu memberi kita perspektif yang sedikit berbeda untuk mengambil tembakan dari (penembakan yaitu dari 3 ketinggian kaki bukannya 6). Hal ini menambah sifat jujur ​​tembakan. Bahkan kadang-kadang tembakan sedikit bengkok, sedikit keluar dari fokus atau buruk terdiri diambil dari jenis sudut yang berakhir mencari yang terbaik karena mereka tampil sebagai cukup acak. Tentu saja kita dapat menambahkan semua perspektif baru untuk gambar kita tanpa menembak dari pinggul. Berjongkok, bangun tinggi, membingkai gambar kita pada sudut, zoom di dekat dan kemudian dengan cepat tampilannya keluar ke sudut lebar, melanggar aturan dan lain-lain komposisi dan kita akan menambah perspektif baru untuk gambar kita yang dapat berarti mereka terlihat segar dan mengejutkan.

10. Bingkai Foto dengan Elements Foreground
Sebuah trik yang sering digunakan dalam gambar terang adalah sengaja memasukkan sesuatu di latar depan tembakan agar terlihat seolah-olah aku bersembunyi di balik itu. Kita mungkin melakukan hal ini dengan dengan menembak di atas bahu seseorang, dengan memasukkan sedikit cabang pohon atau bingkai pintu.

11. Ambil Shots Berpose ke Wilayah Candid
Seringkali jika kita mengambil beberapa langkah ke samping dan menembak dari hampir posisi profil, kita bisa mendapatkan gambar besar. Juga zooming untuk mengambil gambar hanya satu atau dua dari orang-orang dalam kelompok yang lebih besar pada saat-saat dapat bekerja dengan baik. Juga mencoba zoom keluar untuk mengambil gambar dari fotografer dan subjek mereka semua dalam satu. Jika kita fotografer saja dan kita mengambil gambar resmi teknik yang hebat adalah dengan mengambil gambar kita berpose dan kemudian terus menembak setelah semua orang berpikir kita sudah selesai. Ini sering tembakan hanya setelah satu berpose yang adalah yang terbaik sebagai orang bersantai dan melihat satu sama lain.



Dibawah ini adalah contoh Candid Phtography :


https://picasaweb.google.com/101800233690810936347/FotoBerita#5805334247693336242


https://picasaweb.google.com/101800233690810936347/FotoBerita#5805346908912199186

Soal :

Soal :
1. Jelaskan pengertian photojournalism atau foto jurnalistik!
2. Jelaskan sejarah singkat dalam war photography!
3. Jelaskan teknik dalam menangkap foto kebakaran dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh seorang fotografer kebakaran!
4. Jelasakan tips-tips dalam mengambil foto candid!

Sumber :

http://komunikasi.unsoed.ac.id/sites/default/files/BUKU%20PANDUAN%20PRAKTIKUM%20FOTOGRAFI%20tna.pdf

http://en.wikipedia.org/wiki/War_photography

http://en.wikipedia.org/wiki/Fire_photography

http://www.dpchallenge.com/tutorial.php?TUTORIAL_ID=76

http://en.wikipedia.org/wiki/Candid_photography

11 Tips for Stunning Candid Photography

Sumber foto :


http://www.tinyrevolution.com/mt/archives/carter.jpg



http://3.bp.blogspot.com/_YYMeAu4i7gA/TE7g8n3CItI/AAAAAAAAIRY/NEtpKxl81sY/s1600/VIETNAM-WAR-RARE-INCREDIBLE-PICTURES-IMAGES=PHOTOS-HISTORY-012.jpg

Seorang Fotografer Dapat Menghasilkan Gambar Yang Bagus Melalui Dua Tahap

Sumber: http://fotografi.upi.edu/home/6-keahlian-khusus/jurnalistik

Check Also

Contoh Soal Perkalian Vektor

Contoh Soal Perkalian Vektor. Web log Koma – Setelah mempelajari beberapa operasi hitung pada vektor …