Meningkatkan Kadar Gas Co2 Di Udara Dapat Mengakibatkan

Meningkatkan Kadar Gas Co2 Di Udara Dapat Mengakibatkan


Gas Rumah Kaca

Definisi Gas Rumah Kaca – Gas rumah kaca adalah gas yang menyerap dan memancarkan energi radiasi dalam rentang inframerah termal. Emisi gas rumah kaca memerangkap panas di atmosfer bumi, seperti halnya rumah kaca yang menyimpan udara hangat di dalamnya. Gas rumah kaca dapat menyebabkan efek rumah kaca.

Menurut konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC), terdapat 6 jenis gas yang digolongkan sebagai gas rumah kaca, yaitu: Karbon dioksida (CO2), Nitrogen oksida (NOx), Metana (CH4), sulfurheksaflorida (SF6), perflorokarbon (PFCs), dan hidroflorokarbon (HFCs). Gas rumah kaca yang lain adalah uap air (H2O), dinitrogen oksida (N2O) dan ozon (O3). Sumber-sumber gas rumah kaca terbagi menjadi dua, yaitu alamiah dan antropogenik.

Berikut keterangan lebih lanjut mengenai sumber dari gas rumah kaca:

Sumber Alamiah

Sumber pencemar udara alamiah merupakan sumber pencemar yang berasal dari proses alam tanpa adanya campur tangan manusia. Berikut adalah beberapa jenis dari sumber alamiah:

  1. Uap Air

Ketika suhu atmosfer naik, terdapat banyak air yang diuapkan dari sumber air yang terdapa pada permukaan tanah, seperti sungai, lautan, waduk, dan tanah. Karena suhu udara yang lebih hangat, kelembaban absolut yang terjadi pada permukaan tanah menjadi lebih tinggi. Hal tersebut menyebabkan udara mampu menahan lebih banyak air saat kondisi hangat. Kondisi ini dapat meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Konsentrasi uap air yang lebih tinggi kemudian dapat menyerap lebih banyak energi inframerah termal yang dipancarkan dari bumi, sehingga gas rumah kaca semakin memanaskan atmosfer.

  1. Respirasi

Rata-rata setiap orang menghembuskan sekitar 500 liter gas rumah kaca CO2
dengan jumlah massa sekitar 1 kg. Jika diperhitungkan dengan seluruh populasi di dunia yang berjumlah 6,8 miliar kepala, maka secara kolektif jumlah CO2
hasil respirasi berkisar 2.500.000 ton setiap tahunnya.  Respirasi autotrofik yang terdapat pada laut diperkirakan mencapai sekitar 58 ribu juta ton karbon anorganik. Jumlah karbon ini terlarut di perairan permukaan setiap tahun, sehingga dapat dikatakan kontribusi respirasi heterotrofik menjadi 34 ribu juta ton.

  1. Lahan basah, rayap dan lautan

Penguapan dari laut, danau, sungai menghasilkan uap air yang merupakan salah satu sumber efek rumah kaca. Selain itu, laut, danau, dan sungai juga dikategorikan sebagai sumber utama alami metana (CH4) yang merupakan salah satu sumber gas rumah kaca.

  1. Inti es

Inti es membuktikan adanya variasi konsentrasi gas rumah kaca selama 800.000 tahun terakhir. Kedua gas rumah kaca, yaitu CO2
dan CH4
bervariasi antara fase glasial dan interglasial, konsentrasi gas-gas ini berkorelasi kuat dengan suhu. Udara yang terperangkap dalam es berbentuk pori-pori yang menutup perlahan dan membentuk gelembung . Periode waktu yang dibutuhkan dalam setiap sampel es menunjukkan angka-angka yang mewakili rata-rata konsentrasi atmosfer hingga beberapa abad.

  1. Gunung Berapi

Gunung berapi juga merupakan salah satu sumber yang mengeluarkan gas rumah kaca. Gas yang paling banyak dilepaskan dari letusan gunung berapi adalah uap air. Terdapat pula gas-gas lain yang dipancarkan, termasuk karbon dioksida (CO2), belerang dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), karbon monoksida (CO), hidrogen klorida (HCl), dan hidrogen fluorida (HF).

  1. Siklus Karbon dan Siklus Nitrogen

Perubahan dalam siklus karbon berdampak pada setiap reservoir. Kelebihan karbon di atmosfer dapat meningkatkan suhu permukaan bumi dan dapat membantu tanaman di darat tumbuh lebih banyak. Kelebihan karbon di lautan dapat membuat air lebih asam serta membahayakan kehidupan laut. Saat konsentrasi karbon dioksida meningkat, menyebabkan suhu udara juga meningkat, sehingga lebih banyak uap air menguap ke atmosfer yang dapat memperkuat pemanasan rumah kaca.

Emisi nitrogen dari siklus nitrogen memiliki peranan penting dalam perubahan iklim global. Nitro oksida yang dihasilkan menjadi salah satu sumber gas rumah kaca yang sangat potensial. Hal tersebut dikarenakan nitro oksida memiliki kemampuan lebih >300 kali lebih efektif dalam menjebak panas di atmosfer daripada karbon dioksida.

Sumber Antropogenik

Sumber pencemar antropogenik adalah pencemaran yang terjadi karena aktivitas manusia, seperti penggunaan transportasi, kegiatan industri, pembakaran sampah, dan kegiatan rumah tangga. Berikut adalah beberapa jenis pencemar yang dihasilkan dari sumber antropogenik:

  1. Hasil pembakaran bahan bakar fosil

Tingkat karbon dioksida untuk kondisi saat ini memiliki jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 750 000 tahun terakhir. Dimulai dengan revolusi industri pada abad ke-18, pembakaran bahan bakar fosil telah meningkatkan kadar CO2
dari konsentrasi sekitar 280 bagian per juta (ppm) di atmosfer pada masa pra-industri. Kini jumlah tersebut mencapai sekitar 387 ppm.

Seiringan dengan meningkatnya emisi metana dan gas rumah kaca lainnya, serta adanya efek umpan balik, diprediksikan perubahan ini dapat menyebabkan peningkatan hingga 1,4-5,6°C pada kisaran waktu dari tahun 1990 hingga 2100.

  1. Kendaraan

Pada dasarnya, sektor transportasi menghasilkan bagian terbesar dari emisi gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca dari transportasi pada umumnya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil untuk mobil, truk, kapal, kereta api, dan pesawat. Lebih dari 90 persen bahan bakar yang digunakan untuk transportasi berbasis minyak bumi, termasuk bensin dan solar.

  1. Agrikultur, Pertanian dan kehutanan

Peralihan penggunaan lahan (terutama deforestasi di daerah tropis) menyumbang hingga sepertiga dari total emisi CO2
antropogenik. Kegiatan pertanian, seperti pencernaan ternak, penggunaan pupuk kandang, pertanian padi, perubahan penggunaan lahan dan lahan basah, kehilangan saluran pipa, dan emisi tempat pembuangan akhir bawah tanah yang berventilasi menyumbangkan konsentrasi atmosfer metana yang lebih tinggi. Penggunaan pupuk juga dapat menyebabkan konsentrasi nitro oksida (NOx) yang lebih tinggi.

  1. Aerosol, Gas Fluorinasi (HFCS, PFCS, SF6)

Aerosol sebagai partikel tersuspensi di atmosfer, terutama aerosol sulfat yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, memberikan pengaruh pendinginan dengan mengurangi sinar matahari. Penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) telah meningkat melalui penggunaan sistem pendingin dan halon dalam sistem pencegah kebakaran dan proses pembuatan.

Gas-gas berfluorinasi dikeluarkan dalam jumlah yang lebih kecil daripada gas-gas rumah kaca lainnya, tetapi volume yang lebih kecil dan padat dapat dikompensasikan dalam potensi dan rentang hidup yang panjang di atmosfer.  Setelah dipancarkan ke atmosfer, gas ini tersebar luas di seluruh permukaan bumi. Gas ini dikeluarkan dari atmosfer hanya oleh sinar matahari di tingkat atmosfer tertinggi. Berperan sebagai gas rumah kaca yang paling kuat dan memiliki masa hidup terpanjang, gas-gas ini sering digambarkan sebagai gas
global warming potential
(GWP) yang tinggi.

  1. Industri, kormersial dan residensi

Emisi gas rumah kaca dari industri pada umumnya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil untuk energi, serta emisi gas rumah kaca dari reaksi kimia tertentu yang digunakan untuk menghasilkan barang dari bahan baku. Diperkirakan bahwa industri menghasilkan sekitar 5 persen emisi CO2
sumber antropogenik, 50 persen dihasilkan dari proses kimia itu sendiri, dan 40 persen dari pembakaran bahan bakar untuk memberi daya dalam proses. Banyaknya CO2
yang dipancarkan oleh industri memiliki jumlah lebih dari 900 kg CO2
untuk setiap 1.000 kg semen yang diproduksi.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan komersil dan residensi timbul terutama dari bahan bakar fosil yang dibakar untuk panas, penggunaan produk-produk tertentu yang mengandung gas rumah kaca, dan pada pengolahan limbah.


Radiative Forcing

Suhu permukaan bumi ditentukan oleh keseimbangan antara radiasi matahari yang masuk dan radiasi infra merah yang keluar.
Radiative forcing
(RF) adalah pengukuran kapasitas gas atau zat pemaksa lainnya yang memengaruhi keseimbangan energi tersebut, sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Sederhananya, RF mengungkapkan perubahan energi di atmosfer karena emisi gas rumah kaca (GRK). RF suatu gas didefinisikan sebagai perbedaan antara radiasi matahari yang masuk dan radiasi infra merah yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas tersebut. Kekuatan radiasi dinyatakan dalam Watts per meter persegi (W / m2) atau laju perubahan energi per unit luas bumi yang diukur di bagian atas atmosfer.

Gambar 1: Radiative Forcing Disebabkan oleh Gas Rumah Kaca Utama yang Lama Bertahan, 1979-2015

(Sumber: NOAA, 2016 www.esrl.noaa.gov/gmd/aggi)

Jumlah/Konsentrasi Atmosfer
ditentukan oleh jumlah emisi GRK yang dipancarkan dan jumlah yang tetap di atmosfer. Semakin besar konsentrasi GRK di atmosfer, semakin besar dampaknya.

Kapasitas Pemanasan atau Pendinginan
mengacu pada “kekuatan” atau potensi gas yang dipancarkan untuk bertindak sebagai GRK. Tidak semua GRK memiliki kapasitas pemanasan/pendinginan yang sama. Beberapa gas lebih efektif daripada yang lainnya dalam memerangkap panas. Sebagai contoh, dalam jangka waktu 100 tahun, sebuah molekul metana kira-kira 25 kali lebih kuat. Potensi ini efektif untuk menjebak radiasi dan mendorong pemanasan global daripada molekul CO2.

Durasi / Waktu Tinggal di Atmosfer
mengacu pada waktu GRK tinggal di atmosfer. Beberapa GRK berumur pendek sementara yang lain tetap di atmosfer selama ratusan atau ribuan tahun. Untuk menilai dampak iklim dari kombinasi gas dengan benar, usia masing-masing gas harus diperhitungkan. Sebagai contoh, dampak pemanasan dari CO2 bertahan selama ratusan tahun, sedangkan dampak pemanasan dari ozon atau contrails hanya bertahan beberapa hari atau bulan.

Distribusi Spasial
mengacu pada seberapa jauh GHG menyebar secara geografis. Gas rumah kaca berumur panjang tersebar di seluruh atmosfer global (mis., CO2 dan metana); dampak pemanasan mereka dalam skala global. Gas-gas lain berumur pendek dan efek pemanasannya bersifat lokal atau regional. Karena itu, waktu tinggal GRK terkait dengan distribusi spasial. Perhitungan pemaksaan radiatif yang dirata-rata secara global (lihat, misalnya, Gambar 2) tidak memperhitungkan perbedaan-perbedaan ini dalam distribusi spasial.


Parameter Gas Rumah Kaca

Efek rumah kaca disebabkan naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir. Ada 6 senyawa gas rumah kaca yang disepakati dalam Protokol Kyoto, yaitu:

  1.  Karbondioksida (CO₂)
Baca :   Banyaknya Sisi Pada Prisma Segi N Adalah

Karbon dioksida merupakan gas dengan konsentrasi terbanyak penyebab efek rumah kaca yaitu sekitar 70% dari volume total seluruh gas rumah kaca. Karbon dioksida dapat terbentuk dari hasil pembakaran bahan-bahan hidrokarbon seperti bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi, gas alam, dll) atau biomassa (kayu), deforestasi, dan lepasnya karbon bawah tanah akibat rusaknya ekosistem gambut. Karena jumlahnya paling banyak, karbon dioksida dianggap sebagai gas rumah kaca acuan.

  1. Metana (CH₄)

Merupakan insulator/zat penyerap yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi (penambangan, pengeboran) dan transportasi (pengolahan) batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Gas ini dapat menguntungkan bila digunakan sebagai sumber energi alternatif. Gas ini mudah terbakar dan menghasilkan gas Karbon dioksida sebagai hasil sampingnya.

  1. Dinitrogen Oksida (N2O)

Dinitrogen oksida merupakan gas yang secara alami ada di bumi. Tidak banyak diketahui tentang asal gas ini dalam atmosfer. Dinitrogen oksida ini merupakan hasil samping dari pembuatan dan pemakaian pupuk nitrogen. Nitrogen oksida juga dapat disebabkan dari pembakaran bahan bakar fosil.Dinitrogen oksida juga merupakan gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida.

  1. Chloro-Fluoro-Carbon (CFC)

CFC atau yang disebut sebagai Freon. Gas ini dihasilkan oleh pendingin-pendingin yang menggunakan freon, seperti kulkas, AC, dll. Gas ini selain mampu menahan panas juga mampu mengurangi lapisan ozon, yang berguna untuk menahan sinar ultraviolet masuk ke dalam bumi. CFC ini menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV (ultraviolet) mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi.

  1. Sulfur oksida (SO)

Sulfur oksida (SO) terutama disebabkan oleh dua komponen gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur oksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3). Keduanya disebut sebagai SOx. Sulfur oksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif. Pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur akan menghasilkan kedua bentuk oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia, meskipun udara tersedia dalam jumlah cukup, SO2 selalu terbentuk dalam jumlah terbesar.

Berikut waktu residu gas-gas rumah kaca yang tinggal di atmosfer.



Dampak Gas Rumah Kaca

Efek rumah kaca tidak merugikan apabila tidak berlebihan. Secara alami, efek rumah kaca sangat penting untuk menetapkan (menghangatkan) suhu bumi agar layak bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain di dalamnya. Efek tersebut akan menjadi buruk ketika terjadi akumulasi gas-gas rumah kaca yang semakin bertambah di atmosfer sehingga menyebabkan kenaikan temperatur bumi secara global. Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan ini berlanjut, maka akan meningkatkan pemanasan global. Berikut dampak yang ditimbulkan jika terdapat gas rumah kaca berlebih.


1. Karbondioksida (CO2)

Karbondioksida, suatu gas yang penting, tetapi keberadaannya yang tidak seimbang akan membuat fenomena alam yang mampu merusak bumi. Mulai dari tenggelamnya beberapa pulau di dunia sampai musnahnya beberapa jenis spesies di bumi. Oleh karena itu, kadar konsentrasi karbondioksida yang sesuai harus dipertahankan. Dan komposisi karbondioksida dalam udara bersih seharusnya adalah 314 ppm.


a) Dampak Terhadap Hewan

Efek CO2 terhadap hewan cenderung mirip dengan efek terhadap manusia, yaitu tidak berakibat langsung pada tubuh hewan.


b) Dampak Terhadap Tumbuhan

Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan dan produksi tanaman. Dampak langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah peningkatan tingkat fotosintesis daun.


c) Dampak Terhadap Material

Dalam produksi gas dan minyak, CO2 selain H2S merupakan salah satu faktor utama penyebab korosi. Gas ini tidak bersifat korosif jika berada dalam keadan kering dan tidak terlarut dalam air. Jika terlarut dalam air gas ini akan membentuk suatu asam lemah H2CO3 yang bersifat korosif. Laju korosi pada korosi CO2 ditentukan oleh sifat lapisan produksi korosi yang terbentuk pada permukaan logam. Jika lapisan terbentuk pada keadaan yang sesuai maka akan terbentuk lapisan protektif yang dapat menurunkan laju korosi.


d) Dampak Terhadap Ekosistem dan Lingkungan

Adanya gas CO2 yang berlebihan di udara atau di atmosfer tidak berakibat langsung kepada manusia. Tetapi CO2
membentuk lapisan transparan (tembus pandang) di atmosfer yang mengisolasi di sekililing bumi. Hal itu yang mengakibatkan suhu udara di bawah lapisan gas CO2 dan dipermukaan bumi semakin tinggi, sehingga akan mempengaruhi makluk hidup. Sifat gas CO2 seperti diatas itu dikenal dengan istilah efek rumah kaca atau green house effect.

Sebenarnya, Karbon dioksida tidak berbahaya bagi manusia. akan tetapi, karbon dioksida tergolong gas rumah kaca, sehingga peningkatan kadar karbon dioksida di udara dapat mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu karena meningkatnya kadar gas-gas rumah kaca di udara disebut pemanasan global. Pemanasan global dapat mempengaruhi iklim, mencairkan sungkup es di kutub dan berbagai akibat lainnya.


2. Metana (CH4)


a) Dampak tehadap Manusia

Efek akut dari terpapar oleh gas metana adalah kekurangan oksigen, yaitu < 16%. Masalah kesehatan akan timbul bila terpapar metana dalam konsentrasi tinggi. Gejala timbul karena efek kekurangan oksigen (asphixia ), yaitu:

  • napas menjadi cepat
  • denyut nadi meningkat
  • koordinasi otot menurun
  • emosi meningkat
  • mual, muntah
  • kehilangan kesadaran
  • gagal napas
  • kematian


b) Pengaruh dari Lingkungan

Gas metana mempunyai efek pemanasan 25 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan CO2. Perhitungan ini berdasarkan rata-rata dari efek pemanasan metana selama 100 tahun. Akan tetapi, setelah 1 dekade, gas metana sulit dilacak dan hampir menghilang setelah 20 tahun, dengan demikian secara dramatis akan menghabiskan rata-rata 1 abad untuk mengurangi dampaknya. Dan karena kita tidak mempunyai waktu 100 tahun untuk mengurangi efek gas rumah kaca kita, maka perhitungan terbaru menunjukkan bahwa selama periode 20 tahun efek pemanasan metana menjadi 72 kali lebih kuat.

3. Nitrogen Oksida (NOx)

a)Lingkungan

Gas nitrogen oksida (Nox) ada dua macam , yakni gas nitrogen monoksida (NO) dan gas nitrogen dioksida (NO2). Kedua macam gas tersebut mempunyai sifat yang berbeda dan keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan. Gas NO yang mencemari udara secara visual sulit diamati karena gas tersebut tidak berwarna dan tidak berbau. Sedangkan gas NO2 bila mencemari udara mudah diamati dari baunya yang sangat menyengat dan warnanya coklat kemerahan. Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali jika gas NO berada dalam konsentrasi tinggi. Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada system saraf yang mengakibatkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan menjadi lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehinggga menjadi gas NO2.

Pencemaran udara oleh gas NOx dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetil Nitrates yang disingkat dengan PAN. Peroxi Acetil Nitrates ini menyebabkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata terasa pedih dan berair. Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di udara dapat menyebabkan terjadinya kabut foto kimia atau Photo Chemistry Smog yang sangat berdampak terhadap lingkungan dan bersifat karsiogenik. Salah satu dampaknya terhadap lingkungan yaitu akibat timbulnya asap tebal dapat menyebabkan terhentinya alat-alat transportasi karena dikhawatirkan akan terjadi tabrakan.

Photo Chemistry Smog atau asap kabut foto kimia merupakan campuran kompleks dari berbagai pencemar yang terbentuk karena reaksi-reaksi kimia yang terjadi dengan adanya sinar matahari. Asap kabut fotokimia disebabkan oleh beberapa senyawa polutan dari beberapa sumber yang merupakan aktivitas manusia sehari-hari.

b) Hewan

Penelitian terhadap hewan percobaan yang dipajankan NO dengan dosis yang sangat tinggi, memperlihatkan gejala kelumpuhan sistim syarat dan kekejangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tikus yang dipajan NO sampai 2500 ppm akan hilang kesadarannya setelah 6-7 menit, tetapi jika kemudian diberi udara segar akan sembuh kembali setelah 4–6 menit. Tetapi jika pemajanan NO pada kadar tersebut berlangsung selama 12 menit, pengaruhnya tidak dapat dihilangkan kembali, dan semua tikus yang diuji akan mati. NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru ( edema pulmonari ). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang.

c) Tumbuhan

Udara yang telah tercemar oleh gas nitrogen oksida tidak hanya berbahaya bagi manusia dan hewan saja, tetapi juga berbahaya bagi kehidupan tanaman. Pengaruh gas NOx pada tanaman antara lain timbulnya bintik-bintik pada permukaan daun. Pada konsentrasi yang lebih tinggi gas tersebut dapat menyebabkan nekrosis atau kerusakan pada jaringan daun. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi sempurna sebagai temapat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Akibatnya tanaman tidak dapat berproduksi seperti yang diharapkan. Konsentrasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat menurunkan kemampuan fotosintesis daun sampai sekitar 60% hingga 70%

d) Material

NOx terdiri dari dua macam, yaitu gas Nitrogen Monoksida dan gas Nitrogen Dioksida. NOx dibebaskan ke udara terbanyak diproduksi oleh aktivitas bakteri dan aktivitas manusia. NOX disini memiliki andil juga sebagai penyumbang sifat hujan asam, dimana dari hujan asam ini dapat mengakibatkan pelapukan bebatuan dan pengkaratan logam.

4. CFC

a) Dampak terhadap Manusia

Baca :   2 2x 2 X 1 8

Jika udara yang terpapar CFC terhirup, akan mengganggu kesehatan (menimbulkan keracunan). Efek yang timbul diantaranya :

  1. Susah bernapas (penyebab dada sesak nafas)
  2. Sakit tenggorokan akut
  3. Gangguan penglihatan
  4. Nyeri perut akut
  5. Bengkaknya tenggorokan
  6. Hidung, bibir, lidah, seperti terbakar
  7. Mata seperti terbakar
  8. Infeksi kerongkongan
  9. Muntah darah
  10. Darah dalam feses
  11. Detak jantung tidak normal

b) Dampak CFC Terhadap Lingkungan

CFC mengakibatkan lapisan ozon menipis. Berikut dampak dari penipisan lapisan pelindung bumi tersebut, seperti berikut :

  1. Meningkatnya sinar ultraviolet B (UV B). Bahaya sinar ultravioletyang sampai ke bumi karena lapisan ozon yang rusak, dapat mengakibatkan kanker kulit dan menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.
  2. Radiasi sinar ultraviolet di laut, misalnya. Dapat mempengaruhi populasi hewan laut. Sehingga hasil laut bisa berkurang.
  3. Radiasi sinar ultraviolet di darat mengakibatkan turunnya kualitas tanaman. Karena daya tahan tanaman tersebut juga lemah, jadi berefek pada jumlah yang dihasilkannya (hasil panen) dan kualitas yang kurang baik.
  4. Merusak imunitas tubuh hewan
  5. Terjadinya global warming. Inilah akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai aktifitas manusia. Suhu bumi yang meningkat berdampak pada perubahan iklim yang tak menentu. CFC berperan dalam terjadinya efek rumah kaca yang dapat meningkatkan suhu bumi (pemanasan global).

Efek rumah kaca yang berperan dalam meningkatkan suhu bumi, dapat kita kurangi dengan beberapa usaha, contohnya:

  • Gemar tanam pohon. Jika menebang pohon, harus diiringi dengan penanaman bibit yang banyak. Menggunakan pagar tanaman hidup di rumah.
  • Jangan membakar sampah atau hutan.
  • Gunakan bahan bakar ramah lingkungan untuk kendaraan kita.
  • Hemat energi.
  • Memantau emisi gas buangan agar baik (untuk industri dan kendaraan bermotor).

5. Sulfur Dioksida

a) Manusia

Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi pada sistem pernafasan. Udara yang tercemar SOx menyebabkan manusia mengalami gangguan pada sistem pernafasannya. Hal ini dikarenakan gas SOx mudah menjadi asam yang bisa menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran pernafasan yang lain sampai ke paru paru. Serangan gas SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena. Penelitan menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2  merupakan polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular. Individu dengan indikasi penyakit tersebut sangat sensitif terhadap kontak dengan SO2, meskipun dengan kadar yang relatif rendah. SO2 juga bersifat iritan kuat pada kulit dan lendir, pada konsentrasi 6 – 12 ppm mudah diserap oleh selaput lendir saluran pernafasan bagian atas, dan pada kadar rendah dapat menimbulkanspesmetergores otot otot polos pada broncholi, speme ini dapat berubah menjadi semakin parah pada keadaan dingin dan pada konsentrasi yang lebih besar dapat membuat produksi lendir di saluran pernafasan bagian atas, dan apabila kadarnya bertambah besar maka akan terjadi reaksi peradangan yang hebat pada selaput lendir disertai dengan paralysis cilia dan apabila berulang kali terkena paparan maka adanya iritasi yang berulang ulang dapat menyebabkan terjadi hyper plasia dan meta plasia pada sel sel epitel dan dapat menyebabkan terjadinya kanker.

b) Lingkungan

Selain menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil (misalnya: minyak bumi, batu bara) juga melepaskan gas-gas, antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx),dan sulfur dioksida (SO2) yang menyebabkan pencemaran udara (hujan asam, smog dan pemanasan global).

Emisi gas  SO2 ke udara dapat bereaksi dengan uap air di awan dan membentuk asam sulfat (H2SO4) yang merupakan asam kuat. Jika dari awan tersebut turun hujan, air hujan tersebut bersifat asam (pH-nya lebih kecil dari 5,6 yang merupakan pH “hujan normal”), yang dikenal sebagai “hujan asam”.

Dampak dari hujan asam ini yaitu :
·         Menghambat perkembang biakan binatang yang hidup di air akan mati, pH yang semakin kecil akan menghambat pertumbuhan larva ikan, sehingga membuat ikan sulit untuk berkembang biak, seperti ikan trout.
·         Memusnahkan berbagai jenis ikan, menurut penelitian, plankton tidak dapat bertahan hidup apabila pH pada air dibawah 5, sedangkan plankton adalah makanan dasar dari ikan dan keadaan tersebut dapat menyebabkan putusnya rantai makanan, pH yang terlalu kecil juga akan membuat beberapa jenis logam akan bercampur seperti alumunium, keadaan tersebut dapat menyebabkan ikan mengeluarkan banyak lendir dari ingsan nya seghingga ikan akan sulit berespirasi.
·         Racun bagi manusia, hujan asam juga dapat berdampak bagi kesehatan manusia. Hujan asam akan menyebar ke sungai, danau dan tempat menampunyan air, pH yang terlalu rendah sangat tidak baik untuk manusia
·         Kerusakan lingkungan, hujan asam dapat menyebabkan tumbuhan mati. Hujan asam akan menghancurkan zat lilin yang terdapat pada tumbuhan. Nutrisi yang ada pada tumbuhan tersebut akan hilang, sehingga tanaman tersebut dapat dengan mudah terserang penyakit seprti jamur. Kerusakan hutan yang paling banyak terkena dampaknya adalah di pegunungan, karena di daerah tersebut sering terjadi hujan.
·         Hujan asam juga dapat mengganggu estetika bangunan. Hujan asam bersifat korosif sehingga bangunan-bangunan menjadi lapuk dan berkarat.

Proses Terjadinya Hujan Asam

The National Academy Of Sciences (1978) dapat menyimpulkan pengaruh pH terhadap ikan. Di Norwegia presipitasi asam juga mempunyai pengaruh terhadap perikanan komersial. Wright dkk (1977) melaporkan bahwa penurunan penangkapan ikan salmon di sungai-sungai selama seratus tahun yang lalu, disebabkan oleh penurunan pH yang tetap.

Dengan turunnya pH, terjadi serangkaian perubahan kimiawi yang menyebabkan penurunan laju daur zat makanan dalam sistem perairan. Dengan demikian, terdapat penurunan jumlah bahan organik dalam suatu daerah dan suatu pergeseran keadaan oligotropik di danau. Perubahan ekologis mengikuti pengaruh umum zat toksik terhadap ekosistem. Turunnya pH akibat hujan asam juga dapat menyebabkan kematian plankton. Apabila plankoton mati, maka ikan-ikan kecil tidak akan mendapatkan pasokan makanan sehingga ikan kecil pun akan mati. Apabila ikan kecil mati, ikan besar akan ikut mati. Begitu seterusnya, sehingga rantai makanan akan terganggu.

c) Tumbuhan

Pencemaran SOx menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan pada tanaman terjadi pada kadar sebesar 0,5 ppm. Sulfur dioksida mencemari tanaman melalui fase gas yang diserap oleh mesofil daun melalui stomata. Beberapa tanaman air dapat mentoleransi konsentrasi yang masuk. Pada fase tersebut mula-mula sel berubah menjadi tidak aktif dengan atau tanpa plasmolysis, kemudian mati. Ketika sebagian besar bagian dari tanaman itu mati, jaringan melumpuh dan kemudian mengering.

Contoh Dampak SO2 Terhadap Material

d) Material

Kadar sulfur dioksida yang tinggi di udara telah diketahui dapat mengakibatkan kerusakan bangunan. Akan tetapi kadar SO2 yang rendah pun dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bangunan. Hal ini dapat diakibatkan meningkatnya konsentrasi ozon dan nitrogen di dalam lingkungan perkotaan. Percobaan-percobaan yang dilakukan telah memperlihatkan bahwa campuran pencemar-pencemar seperti ozon, nitrogen dioksida dan sulfur merusak batu lebih cepat dibandingkan dengan satu persatu pencemar tersebut.

Selain itu, apabila kandungan sulfur bereaksi dengan uap air membentuk hujan asam juga dapat menyebabkan terjadinya korosi dan pelapukan pada material bangunan.


Proses Terjadinya Gas Rumah Kaca

Matahari memancarkan sinarnya dalam bentuk radiasi ultraviolet ke bumi yang akan diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah.  Sinar matahari masuk ke bumi sebagai panas, yang sebagiannya dipantulkan kembali ke angkasa (oleh permukaan bumi yang berwarna muda — tutupan salju, awan, dll), sebagiannya lagi diserap baik oleh permukaan bumi yang berwarna agak gelap maupun oleh “gas-gas rumah kaca” yang terkandung dalam atmosfer.  Gas-gas rumah kaca ini bertindak seperti layaknya “benda hitam”, di mana cahaya yang datang akan dipantulkan kembali sebagai panas (cahaya dengan panjang gelombang pendek yang disebut inframerah.  Semakin pendek panjang gelombangnya, semakin panas).  Semakin banyak kandungan atau konsentrasi gas-gas rumah kaca ini, semakin banyak panas yang dilepaskan, maka semakin panaslah atmosfer bumi.  Ini yang disebut sebagai efek rumah kaca(greenhouse effect).

Lapisan atmosfir bumi terdiri atas troposfir, stratosfir, mesosfir dan termosfer. Lapisan terbawah (troposfir) adalah bagian yang terpenting dalam kasus efek rumah kaca. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel. Sisanya yang 65% masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan troposfir oleh molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah.

Skema proses

Secara sederhana, proses terjadinya efek rumah kaca dimulai saat panas matahari merambat dan masuk ke permukaan bumi. Kemudian panas matahari tersebut akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa melalui atmosfer. Sebagian panas matahari yang dipantulkan tersebut akan diserap oleh gas rumah kaca yang berada di atmosfer. Panas matahari tersebut kemudian terperangkap di permukaan bumi, tidak bisa melalui atmosfer sehingga suhu bumi menjadi lebih panas.


Adaptasi Mitigasi

Mitigasi dan Adaptasi

(Sumber: http://ghinaghufrona.blogspot.com/2012/01/)

Mitigasi, dilansir dalam kamus John M. Echols dan Hassan Shadily memiliki arti “pengurangan”. Adapun adaptasi artinya penyesuaian diri. Apabila dikaitkan dengan perubahan iklim,
mitigasi merupakan upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim. Usaha yang dapat dilakukan pada mitigasi, salah satunya adalah mengurangi sebab pemanasan global dari sumbernya agar laju pemanasan itu melambat, dan pada saat bersamaan dapat mempersiapkan diri utuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sementara itu,
adaptasi
dapat diartikan sebagai upaya menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim, mencakup bertindak untuk mengurangi berbagai pengaruh negatifnya atau memanfaatkan efek-efek positifnya . Dua strategi utama, yakni mitigasi dan adaptasi merupakan konsep pada United Nations Framework Concention on Climate Change (UNFCC) yang diberlakukan pada tahun 1994. Sejatinya, kedua upaya mitigasi dan adaptasi harus dilakukan beriringan agar pengelolaan perubahan iklim dapat berjalan dengan optimum. Berikut adalah berbagai contoh upaya adaptasi dan mitigasi:

Baca :   Voltmeter Adalah Alat Ukur Yang Digunakan Untuk Mengukur Besarnya

Beberapa Contoh Adaptasi

  • Adaptasi dalam Perencanaan Pembangunan

Merubah pola pembangunan negeri yang tadinya didasarkan pada eksploitasi sumber daya alam dengan manfaat ekonomi yang dinikmati di perkotaan dan biaya lingkungannya dibebankan ke wilayah pedesaan, menjadi baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan menargetkan pembangunan yang berkelanjutan. Perubahan ini memerlukan strategi adaptasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat sipil dan sektor swasta

  • Adaptasi dalam Pertanian

Pertimbangan berbagai varietas tanaman pangan sesuai dengan kapasitas adaptasi secara alamiah, serta mengaplikasikan upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan organic supaya lebih mampu menahan air. Pengelolaan air yang lebih baik dengan penggunaan irigasi mumpuni juga membuat petani lebih tangguh menghadapi perubahan iklim

  • Adaptasi Wilayah Pesisir

Penduduk yang menghadapi masalah kenaikan muka air laut dapat melakukan tiga strategi umum, yaitu ‘membuat perlindungan’ dengan menanam tanaman mangrove, ‘mundur’ dengan bermukim jauh di pantai, serta ‘melakukan penyesuaian ‘dengan beralih ke sumber nafkah yang lain.

  • Adaptasi Untuk Penyediaan Air

Menerapkan pengelolaan sumber air yang lebih terpadu dengan melestarikan ekosistem disertai dengan perbaikan waduk dan infrastruktur lain

  • Adaptasi untuk Bidang Kesehatan

Pengawasan kesehatan yang lebih handal untuk memonitor penyebaran penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue, dengan vektor-vektor yang memiliki jenis baru dan menyebar lebih cepat.

Beberapa Contoh Mitigasi (dilansir dari laman Ditjen PPI)

  • Sektor Kehutanan

Kegiatan deforestasi (pengalih fungsian lahan hutan menjadi bentuk penggunaan lahan lainnya) dan adanya ndakan perusakan hutan dalam skala luas, berpengaruh sangat besar baik secara langsung maupun dak langsung terhadap peningkatan emisi GRK. Secara umum, kegiatan yang dapat mendukung mitigasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penambahan stok karbon dengan cara penanaman. Berbagai kegiatan penanaman telah dilakukan di Indonesia, antara lain melalui pembangunan Hutan Rakyat (HR), Hutan Kemasyarakatan (HKm), dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kegiatan- kegiatan tersebut mampu meningkatkan kapasitas lahan untuk menyerap dan menyimpan emisi terutama di luar kawasan hutan atau di kawasan hutan yang berstatus lahan kritis .

  • Sektor Pertanian

Beberapa kegiatan dalam sector pertanian yang berpotensi menjadi sumber emisi antara lain adalah: berasal dari pembakaran, pelepasan gas N2O dari kegiatan pemupukan, dan CO2 dari proses respirasi tanaman dan dekomposisi (pelapukan). Program-program aksi mitigasi di sector pertanian antara sebagai berikut:

  • Penerapan Teknologi Budidaya Tanaman, Contoh : Program SLPTT, SRI, Varietas padi rendah emisi)
  • Pemanfaatan pupuk organik dan biopestisida contoh : UPPO ( Unit Pengolahan Pupuk Organik)
  • Pemanfaatan kotoran/urin ternak dan limbah pertanian untuk biogas contoh : program BATAMAS (Biogas Asal Ternak Bersama Masyarakat)
  • Penggunaan varietas padi rendah emisi gas CH4
  • Penggunaan limbah pertanian untuk bioenergi dan kompos.
  • Pengembangan pupuk organik untuk peningkatan simpanan karbon dalam tanah
  • Pengembangan teknologi biogas dan pakan untuk mengurangi emisi GRK dari ternak
  • Sektor Limbah Rumah Tangga

Tumpukan sampah baik organik maupun anorganik akan mengalami pelapukan yang menghasilkan gas CH4 dan gas CO2 lepas ke udara.Beberapa kebijakan aksi mitigasi yang dilakukan di sector limbah antara lain melalui :

  • Peningkatan pengelolaan air limbah di perkotaan
  • Pengurangan timbulan sampah melalui 3R (reduce, reuse, recycle)
  • Perbaikan proses pengelolaan sampah di TPA
  • Peningkatan/pembangunan/rehabilitasi TPA
  • Pemanfaatan limbah/ sampah menjadi 
produksi energi yang ramah lingkungan
  • Sektor Industri

Emisi GRK dari proses produksi adalah emisi yang dihasilkan dari reaksi kimia atau secara fisik menghasilkan zat sisa yang diklasifikasikan sebagai emisi GRK. Dalam upaya mitigasi perubahan iklim, pada sektor industri, Kementerian Perindustrian meminta pelaku industri untuk melaksanakan alih teknologi yang efisien. Salah satunya adalah teknologi Regenerative Burner Combustion System (RBCS), yaitu teknologi yang digunakan pada tungku pemanasan ulang dengan fungsi memanfaatkan kembali gas buang yang masih mengandung energi cukup besar sehingga mampu menghemat energi di industri. Dengan teknologi tersebut, konsumsi bahan bakar basis gas dapat dihemat sekitar 30 persen. Teknologi RBCS telah dimanfaatkan oleh industri besi dan baja di Indonesia. Pada tahun 2006, alih teknologi ini diaplikasikan oleh PT. Gunung Garuda.

  • Sektor Energi

Emisi CO2 sektor energi dapat berasal dari penggunaan bahan bakar fosil, seperti: batubara, minyak bumi dan gas bumi, serta dari industri semen. Aksi mitigasi sector energy dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain penghematan energi atau konservasi energi, diversifikasi energi. Konservasi atau penghematan energi dapat dilaksanakan melalui peningkatan efisiensi peralatan, penggunaan peralatan yang lebih efisien serta melaksanakan manajemen energi. Diversifikasi energi atau penggantian bahan bakar dengan jenis energi lain, bertujuan untuk mengurangi pengunaan bahan bakar yang mempunyai kandungan karbon tinggi dengan jenis energi yang mempunyai kandungan karbon rendah atau tanpa kandungan karbon antara lain melalui :

  • Substitusi Energi yaitu upaya untuk mengganti energi yang ada dengan jenis energi lain yang lebih murah, mudah secara teknis dan tanpa mengurangi kinerja alat. Sebagai contoh dalam pembangkitan listrik maka penggantian minyak solar pada PLTD dengan biofuel atau mikro hidro.
  • Penggunaan Teknologi Rendah Karbon Pemanfaatan teknologi rendah karbon sebagai pengganti PLT Bahan Bakar Fosil secara drastis akan dapat mengurangi pelepasan gas rumah kaca (CO2) ke atmosfir. Teknologi yang termasuk dalam kategori ini antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), PLTS, PLTMH (Mikrohidro),

Untuk mencapai target mitigasi gas-gas rumah kaca, salah satu kebijakan yang dapat diberlakukan adalah dengan menerapkan
Emission Trading System. ETS merupakan pasar karbon utama pertama dan terbesar di dunia, serta merupakan alat utama untuk memerangi perubahan iklim dan mengurangi biaya efektif penguranggan emisi gas rumah kaca.

Emisi dari Industri

(Sumber: https://ec.europa.eu/clima/policies/ets_en)

Dua komponen utama dalam ETS adalah batas dan perdagangan. Batasan ditentukan terhadap jumlah total emisi gas rumah kaca tertentu yang diperbolehkan untuk diemisikan oleh instalasi, dan batas ini seiring waktu akan direduksi sehingga terjadi penurunan total emisi. Untuk memenuhi batasan tersebut, perusahaan dapat menerima atau membeli tunjangan emisi yang dapat diperdagangkan satu sama lain sesuai dengan kebutuhan. Perusahaan juga dapat membeli kredit internasional dalam jumlah terbatas dari proyek-proyek penghematan emisi di seluruh dunia. Setiap tahun, perusahaan diwajibkan untuk menyerahkan biaya yang cukup untuk menutupi semua emisinya. Jika tidak, perusahaan akan dikenakan sanksi atau denda yang besar. Apabila suatu perusahaan mengurangi emisi yang dihasilkan, perusahaan tersebut juga dapat menyimpan cadangan untuk memenuhi kebutuhannya di masa depan atau menjualnya ke perusahaan lain yang kekurangan cadangan emisi. Adanya perdagangan emisi ini dapat menciptakan fleksibilitas dan memastikan emisi tereduksi dengan biaya yang paling murah. Harga karbon yang kuat juga dapat mendorong investasi dalam teknologi bersih yang rendah emisi.

Referensi:

  1.    Boden, T.A., G. Marland, and R.J. Andres. 2009. Global, Regional, and National Fossil-Fuel CO2 Emissions. Carbon Dioxide Information Analysis Center, Oak Ridge National Laboratory, U.S. Department of Energy, Oak Ridge, Tenn., U.S.A. doi 10.3334/CDIAC/00001
  2.   IPCC (2007). Summary for Policymakers. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. EXIT Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor and H.L. Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA.
  3.    Denman, K.L., G. Brasseur, A. Chidthaisong, P. Ciais, P.M. Cox, R.E. Dickinson, D. Hauglustaine, C. Heinze, E. Holland, D. Jacob, U. Lohmann, S Ramachandran, P.L. da Silva Dias, S.C. Wofsy and X. Zhang. Couplings Between Changes in the Climate System and Biogeochemistry. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, 2007.
  4.    “Volcanic Gases and Climate Change Overview.” U.S. Geological Survey. http://volcanoes.usgs.gov/hazards/gas/climate.php (accessed August 2, 2014).
  5.    U.S. DOE. Carbon Cycling and Biosequestration: Integrating Biology and Climate Through Systems Science; Report from the March 2008 Workshop, DOE/SC-108. U.S. Department of Energy Office of Science, 2008.
  6.    Introducing to Radiative Forcing – http://www.co2offsetresearch.org/aviation/RF.html © Stockholm Environment Institute and Greenhouse Gas Management Institute 2011
  7.    NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration). 2016. The NOAA Annual Greenhouse Gas Index. Accessed June 2016. www.esrl.noaa.gov/gmd/aggi.
  8.    PCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2013. Climate change 2013: The physical science basis. Working Group I contribution to the IPCC Fifth Assessment Report. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press. www.ipcc.ch/report/ar5/wg1.
  9.    https://www.mongabay.co.id/
  10.    https://airpollution2014.weebly.com/dampak-pencemaran-udara—nitrogen-oksida
  11.    http://dataloggerhobo.blogspot.com
  12.    https://mazara30.wordpress.com/2012/06/16/dampak-penggunaan-chlorofluorocarbons-cfc-bagi-atmosfer-bumi/
  13.    https://www.kompasiana.com/yosuauo/59fc43ce1774da6cb32fcb13/peranan-sektor-pertanian-terhadap-pengurangan-emisi-gas-rumah-kaca?page=all
  14.    https://airformation.weebly.com/gas-rumah-kaca.html
  15.    http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/aksi/mitigasi
  16.    https://ec.europa.eu/clima/policies/ets_en
  17.    United Nations Development Programme-Indoensia. 2007. Sisi Lain Perubahan Iklim – Mengapa Indonesia Harus Beradaptasi untuk Melindungi Rakyat Miskinnya. ISBN 978-979-17069-0-2.
  18.    Meiviana, Armely dkk. 2004. Bumi Makin Panas – Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia. Kerjasama Kementrian Lingkungan Hidup Bidang Pelestarian Lingkungan. Pelangi dan JICA. Dalam http://ghinaghufrona.blogspot.com/2012/01/mitigasi-adaptasi-perubahan-iklim.html

Seluruh laman diakses pada 30/3/2019

Meningkatkan Kadar Gas Co2 Di Udara Dapat Mengakibatkan

Sumber: https://blogs.itb.ac.id/pencemud19kel08/2019/03/30/perubahan-iklim-tugas-02/

Check Also

Harga Beras 10 Kg Di Pasar

Harga Beras 10 Kg Di Pasar 4 menit Kamu pasti sudah sering sekali mendengar ungkapan, …