Kesetimbangan Akan Bergeser Ke Kanan Jika

Kesetimbangan Akan Bergeser Ke Kanan Jika

Pergeseran Kesetimbangan Kimia

Azas Le Chatelier

Dalam kimia, prinsip Le Chatelier atau disebut pula asas Le Chatelier atau “Hukum Kesetimbangan”, dapat digunakan untuk memprediksi efek perubahan di dalam kondisi pada kesetimbangan kimia. Prinsip ini dinamai dari Henry Louis Le Chatelier dan terkadang dari Karl Ferdinand Braun yang menemukan prinsip ini secara mandiri. Prinsip ini dapat dinyatakan sebagai:“Ketika suatu sistem pada kesetimbangan mengalami perubahan konsentrasi, suhu, volume, atau tekanan, maka sistem menyesuaikan (sebagian) dirinya untuk meniadakan pengaruh perubahan yang diterapkan dan keseimbangan baru tercapai.”Dengan kata lain: “Setiap kali sistem dalam kesetimbangan terganggu sistem akan menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga efek dari perubahan tersebut akan dibatalkan”.

Prinsip ini memiliki berbagai nama, tergantung pada disiplin ilmu yang menggunakannya. Prinsip Le Chatelier juga dijadikan sebagai basis bagi pengamatan yang lebih umum di masyarakat, yang secara kasar menyatakan bahwa: “Setiap perubahan dalam status quo akan menghasilkan reaksi berlawanan dari sistem yang bersangkutan”. Dalam kimia, prinsip ini digunakan untuk memanipulasi hasil dari reaksi bolak-balik (reversibel), sering kali dapat meningkatkan rendemen reaksi.

Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Kesetimbangan

Menurut Le Chatelier, jika sistem yang berada dalam keadaan kesetimbangan diganggu, system akan berusaha mengurangi gangguan dengan cara menggeser posisi kesetimbangan, baik ke arah pereaksi maupun hasil reaksi sehingga gangguan tersebut minimum dan tercapai keadaan kesetimbangan yang baru. Hal- hal apa sajakah yang dapat mempengaruhi kesetimbangan?

1. Efek Perubahan Konsentrasi

Jika konsentrasi unsur/senyawa di salah satu ruas ditambah, kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dan jika konsentrasi unsur/senyawa di salah satu ruas dikurangi, kesetimbangan akan bergeser ke arah dirinya sendiri.

Misalnya:
reaksi Nitrogen (N2) dan hidrogen (H2) membentuk amonia (NH3)

Berdasarkan reaksi diatas, pergeseran kesetimbangan dijelaskan sebagai berikut:

    1. Jika konsentrasi reaktan (N2
      atau H2) ditambah atau konsentrasi produk dikurangi, kesetimbangan akan bergeser ke arah produk (NH3) atau ke ruas kanan.
    2. Jika konsentrasi reaktan (N2
      atau H2) dikurangi atau konsentrasi produk ditambah, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaktan (N2
      dan H2) atau ke ruas kiri.

2. Efek perubahan suhu

Suhu dapat dinaikkan atau diturunkan untuk menggeser kesetimbangan kimianya.Jika suhu dinaikkan, sistem akan berupaya untuk menurunkan kembali suhu menjadi normal dan menghasilkan reaksi eksoterm. Sebaliknya, jika suhu diturunkan, sistem akan berusaha untuk menaikkan suhu dan menghasilkan reaksi endoterm.
Dengan kata lain: J
ika suhu dinaikkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah pembentukkan senyawa-senyawa yang menyerap panas (endoterm). Ciri reaksi ini adalah harga ∆H nya positif (+). ∆H adalah harga perubahan panas atau kalor. Sebaliknya, jika suhu diturunkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah pembentukkan senyawa-senyawa yang melepas panas (eksoterm). Ciri reaksi ini adalah harga ∆H nya negatif (-)

Misalnya:
reaksi Nitrogen (N2) dan hidrogen (H2) membentuk amonia (NH3)

Efek suhu terhadap pergeseran kesetimbangan kimia

Berdasarkan reaksi diatas, pergeseran kesetimbangan dijelaskan sebagai berikut: Reaksi pembentukan NH3
adalah eksoterm (∆H-nya negatif ). Kebalikan dari reaksi eksoterm adalah endoterm. Jika reaksi pembentukan NH3
adalah eksoterm maka reaksi N2
dan H2
adalah endoterm, dengan demikian:

    1. Jika suhu dinaikkan, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaktan atau endoterm (N2
      dan H2) karena sistem akan menyerap panas melalui reaksi N2
      dan H2
      (reaksi endoterm, ∆H-nya positif)
    2. Jika suhu diturunkan, kesetimbangan akan bergeser ke arah produk atau eksoterm (NH3) karena sistem akan melepaskan panas melalui pembentukan NH3
      (reaksi eksoterm, ∆H-nya negatif).
Baca :   Perubahan Energi Yang Terjadi Pada Proses Fotosintesis

3. Efek Perubahan Tekanan

Jika tekanan diperbesar dengan menurunkan volume maka kesetimbangan bergeser ke koefisien (jumlah mol) yang lebih kecil. Sebaliknya, jika tekanan diperkecil dengan meningkatkan volume maka kesetimbangan bergeser ke koefisien reaksi (jumlah mol) yang lebih besar.

Contoh:
reaksi Nitrogen (N2) dan hidrogen ( H2) membentuk amonia (NH3)

Efek tekanan terhadap pergeseran kesetimbangan kimia

Berdasarkan reaksi diatas, pergeseran kesetimbangan dijelaskan sebagai berikut:

    1. Jika tekanan ditambahkan, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang memiliki jumlah koefisien atau jumlah mol lebih kecil. Jumlah mol produk (NH3) lebih kecil dari jumlah mol reaktan (N2
      dan H2). Jadi kesetimbangan akan bergeser ke arah produk (kanan).
    2. Jika tekanan dikurangi, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang memiliki jumlah koefisien atau jumlah mol lebih besar. Jumlah mol jumlah mol reaktan (N2
      dan H2) lebih besar dari jumlah mol produk (NH3). Jadi kesetimbangan akan bergeser ke arah reaktan (kiri).

4. Efek Perubahan Volume

Ketika volume pada sistem berubah, tekanan parsial gas berubah. Jika volume ditingkatkan dengan menurunkan tekanan, kesetimbangan bergeser ke sisi yang memiliki lebih banyak mol. Sistem mencoba untuk menetralkan penurunan tekanan parsial molekul gas dengan menggeser ke sisi yang memberi tekanan lebih besar. Demikian pula, jika volume diturunkan dengan meningkatkan tekanan, kesetimbangan bergeser ke sisi yang memiliki lebih sedikit mol. Sistem mencoba untuk menetralkan peningkatan tekanan pasrsial molekul dengan menggeser ke yang memberikan tekanan lebih sedikit.

Misalnya:
reaksi Nitrogen (N2) dan hidrogen (H2) membentuk amonia (NH3)

Efek volume terhadap pergeseran kesetimbangan kimia

Berdasarkan reaksi diatas, pergeseran kesetimbangan dijelaskan sebagai berikut:

    1. Jika volume diturunkan/dikurangi, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang memiliki jumlah koefisien atau jumlah mol lebih kecil. Jumlah mol produk (NH3) lebih kecil dari jumlah mol reaktan (N2
      dan H2). Jadi kesetimbangan akan bergeser ke arah produk (kanan).
    2. Jika volume ditambah, kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang memiliki jumlah koefisien atau jumlah mol lebih besar. Jumlah mol jumlah mol reaktan (N2
      dan H2) lebih besar dari jumlah mol produk (NH3). Jadi kesetimbangan akan bergeser ke arah reaktan (kiri).

Contoh Soal

Pada reaksii kesetimbangan: PCl3 (g) + Cl2 (g) ⇌ PCl5 (g) ΔH = + a kJ. Ke arah manakah reaksi akan bergeser apabila:

  • GasCl2ditambahkan ke dalam campuran
  • GasPCl5ditambahkan ke dalam campuran
  • Suhu dinaikkan
  • Tekanan diperbesar

Pembahasan:

  • Penambahan gasCl2berarti penambahan konsentrasi gas Cl2. Dengan demikian, reaksi kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan atau ke arah pembentukan PCl5.
  • Penambahan gasPCl5berarti penambahan konsentrasi gas PCl5. Dengan demikian, reaksi kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri atau ke arah reaktan (PCl3
    dan Cl2).
  • Pembentukan gas PCl5
    terjadi dalam reaksi endoterm atau menyerap panas (ΔH positif) maka reaksi PCl3
    dan Cl2
    adalah eksoterm atau melepaskan panas. Dengan demikian, peningkatan suhu akan menggeser reaksi ke arah endoterm, yaitu ke arah kanan atau pembentukan gas PCl5.
  • Jumlah mol reaktan (2) lebih besar dari jumlah mol produk (1). Dengan demikian, jika tekanan diperbesar, reaksi akan bergeser ke arah kanan atau produk yang jumlah mol-nya lebih sedikit.

Soal Latihan

Pada hidrolisis ester menurut reaksi: CO2(g) + H2(g) ⇌ CO(g) + H2(g) ∆H = +41,2 kJ, ke arah mana kesetimbangan akan bergeser, jika pada suhu tetap:

  • Ditambah gas hidrogen dan pengaruhnya terhadap konsentrasiCO2
  • Suhu dinaikkan
  • Tekanan diperbesar
Baca :   Bahan Isolator Dapat Berfungsi Sebagai Konduktor Jika

Efek Penambahan Gas Inert

Suatu gas inert (atau gas mulia), seperti helium, tidak bereaksi dengan unsur-unsur atau senyawa lain. Penambahan gas inert ke dalam kesetimbangan fasa-gas pada volume konstan tidak menimbulkan pergeseran. Hal ini karena penambahan gas non-reaktif tidak mengubah persamaan kesetimbangan, karena gas inert muncul di kedua sisi persamaan reaksi kimia. Sebagai contoh, jika A dan B bereaksi membentuk C dan D, tapi X tidak berpartisipasi dalam reaksi:

aA + bB + xX  <==>  cC + dD = xX

Meskipun benar bahwa tekanan total sistem meningkat, tekanan total tidak memiliki efek pada konstanta kesetimbangan; tetapi, itu adalah perubahan tekanan parsial yang akan menyebabkan pergeseran kesetimbangan. Namun, jika volume diperbolehkan untuk meningkat dalam proses, tekanan parsial semua gas akan menurun yang mengakibatkan pergeseran ke arah sisi dengan jumlah mol gas yang lebih besar.

Efek katalis

Suatu katalis mampu meningkatkan laju reaksi tanpa dikonsumsi dalam reaksi. Penggunaan katalis tidak mempengaruhi posisi dan komposisi kesetimbangan reaksi, karena baik reaksi maju dan reaksi mundur keduanya dipercepat dengan faktor yang sama. Sebagai contoh, perhatikan proses Haber untuk sintesis amonia (NH3):

N2
+ 3H2
⇌ 2 NH3

Pada reaksi di atas, besi (Fe) dan molibdenum (Mo) akan berfungsi sebagai katalis jika digunakan. Mereka akan mempercepat reaksi apapun, tetapi mereka tidak mempengaruhi keadaan kesetimbangan.

Proses Haber dalam sintesis ammonia

Gambar 5. Proses Haber dalam sintesis ammonia

Kesetimbangan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Pengaturah pH darah

Dalam tubuh, pH darah yang harus dipertahankan sekitar 7,4. Yang akan mempertahankannya adalah larutan penyangga, yaitu asam karbonat H2CO3. Plasma darah memiliki gas karbon dioksida CO2. Gas CO2
membentuk pasangan asam-basa konjugasi antara asam karbonat (H2CO3) dengan ion hidrogen (H+) untuk mempertahankan pH.

C02(g) + H2O(ℓ)  H2C03(aq)

Jika darah bersifat basa, jumlah ion H+
akan berkurang sebab diikat ion OH
basa akibatnya kesetimbangan bergeser ke kanan. Namun jika darah bersifat asam, kesetimbangan bergeser ke kiri karena ion H+
dari asam menambah konsentrasi ion H+
pada H2CO3. Jadi jika sedikit saja pH darah terganggu maka bisa berbahaya bagi tubuh karena mengganggu pengikatan oksigen

2. Siklus oksigen dalam tubuh

Dalam tubuh Oksigen diangkut dan diikat oleh hemoglobin dalam darah. Proses ini berlangsung dalam reaksi kesetimbangan ini:

Hb (aq) + O2
(aq)  HbO2
(aq)

Oksigen diangkut oleh darah menuju paru-paru. Semakin lama, jumlah oksigen dalam darah semakin bertambah banyak. Di dalam paru-paru kesetimbangan bergeser ke kanan. Kesetimbangan akan bergeser ke kiri jika oksigen berada dalam jaringan. Kesetimbangan ke kiri mengeluarkan oksigen yang dipakai untuk proses pembakaran.

3. Proses Fotosintesis

Seperti yang kita tahu, tumbuhan mendapatkan makanan dari proses fotosintesis. Reaksinya:

6CO₂ + 6H2O  C6H12O6
+ 6O2.

Fotosintesis pada tumbuhan hijau, proses pernapasan (respirasi) pada hewan dan manusia ternyata juga merupakan reaksi kesetimbangan. Reaksi kesetimbangan mengarah ke ke kanan merupakan reaksi fotosintesis. Saat kesetimbangan bergeser ke kanan reaksi, maka jumlah oksigen akan bertambah. Oksigen ini akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk bernapas atau proses respirasi. Saat kesetimbangan bergeser ke kiri, proses respirasi akan berlangsung cepat, mengeluarkan gas CO2. Gas CO2
selanjutnya dipakai lagi oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Proses ini berlangsung terus-menerus membentuk siklus sehingga di alam terjadi kesetimbangan antara gas O2
dan gas CO2.

Penerapan Kesetimbangan dalam Industri

Dalam industri yang melibatan reaksi kesetimbangan kimia, produk reaksi yang dihasilkan tidak akan bertambah ketika sistem telah mencapai kesetimbangan. Produk reaksi akan Kembali dihasilkan, jika dilakukan perubahan konsentrasi, perubahan suhu, atau perubahan tekanan dan volume.

Baca :   Sebuah Penggaris Plastik Yang Digosokkan Pada Kain Wol Akan Bermuatan

1. Pembuatan Amonia (NH3) menurut Proses Haber-Bosch

Skema proses Haber BoschBerdasarkan prinsip kesetimbangan kondisi yang menguntungkan untuk ketuntasan reaksi ke kanan (pembentukan NH3) adalah suhu rendah dan tekanan tinggi. Akan tetapi, reaksi tersebut berlangsung sangat lambat pada suhu rendah, bahkan pada suhu 500°C sekalipun. Dipihak lain, karena reaksi ke kanan eksoterm, penambahan suhu akan mengurangi rendemen. Peranan katalisator dalam industri amonia juga sangat diperlukan untuk mempercepat terjadinya kesetimbangan. Tentunya kalian masih ingat dengan katalisator bukan? Katalisator adalah zat yang dapat mempercepat reaksi tetapi zat tersebut tidak ikut bereaksi. Untuk mengurangi reaksi balik, amonia yang terbentuk harus segera dipisahkan. Mula-mula campuran gas nitrogen dan hidrogen dikompresi (dimampatkan) hingga mencapai tekanan yang diinginkan. Kemudian campuran gas dipanaskan dalam suatu ruangan yang bersama katalisator sehingga terbentuk amonia. Keadaan reaksi untuk menghasilkan NH3 sebanyak-banyaknya disebut kondisi optimum. Kondisi optimum pada industri amoniak dilakukan pada suhu 600°C dan tekanan ruangan 1000 atm. (www.kkppbumn.depkeu.go.id)Nitrogen terdapat melimpah di udara, yaitu sekitar 78% volume. Walaupun demikian, senyawa nitrogen tidak terdapat banyak di alam. Satu-satunya sumber alam yang penting ialah NaNO3
yang disebut Sendawa Chili. Sementara itu, kebutuhan senyawa nitrogen semakin banyak, misalnya untuk industri pupuk, dan bahan peledak. Oleh karena itu, proses sintesis senyawa nitrogen, fiksasi nitrogen buatan, merupakan proses industri yang sangat penting. Metode yang utama adalah mereaksikan nitrogen dengan hidrogen membentuk ammonia. Selanjutnya amonia dapat diubah menjadi senyawa nitrogen lain seperti asam nitrat dan garam nitrat. Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen ditemukan oleh Fritz Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman. Sedangkan proses industri pembuatan amonia untuk produksi secara besar-besaran ditemukan oleh Carl Bosch, seorang insinyur kimia juga dari Jerman. Perhatikan skema proses Haber Bosch.

Gambar 6. Skema proses Haber Bosch.

2. Pembuatan Asam Sulfat

Asam sulfat merupakan bahan industri kimia yang penting, yaitu digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan pupuk. Proses pembuatan asam sulfat (H2SO4)sebenarnya ada dua cara, yaitu dengan proses kamar timbal dan proses kontak. Proses kamar timbal sudah lama ditinggalkan karena kurang menguntungkan. Proses kontak menghasilkan asam sulfat mencapai kadar 99% dan biayanya lebih murah.

Pembuatan asam sulfat di industri dikembangkan melalui proses kontak, meliputi 3 tahap, yaitu:

    1. Pembentukan belerang dioksida, persamaan reaksinya adalah: S(s) + O2(g) → SO2(g)
    2. Pembentukan belerang trioksida, persamaan reaksinya adalah: SO2(g) + O2(g) ⇌ SO3 (g) ΔH = –196 kJ
    3. Pembentukan asam sulfat, melalui zat antara, yaitu asam pirosulfat. Persamaan reaksinya adalah
      • SO3(g) + H2SO4(aq) → H2S2O7(aq)
      • H2S2O7(aq) + ½ O2(g) → 2H2SO4(aq)

Tahap penting dalam proses ini adalah reaksi (2). Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan dan eksoterm. Sama seperti pada sintesis amonia, reaksi ini hanya berlangsung baik pada suhu tinggi. Akan tetapi pada suhu tinggi justrkesetimbangan bergeser ke kiri. Untuk memperbanyak hasil harus memperhatikan azas Le Chatelier

      • Reaksi tersebut menyangkut tiga partikel pereaksi (2 partikelSO2dan 1 partikel gas O2 untuk menghasilkan 2 partikel SO3. Jadi, perlu dilakukan pada tekanan tinggi.
      • Reaksi ke kanan adalah reaksi eksoterm (∆H = -196 kJ), berarti harus dilakukan pada suhu Masalahnya, pada suhu rendah reaksinya menjadi lambat. Seperti pada pembuatan amonia, permasalahan ini dapat diatasi dengan penambahan katalisV2O5. Dari penelitian didapat kondisi optimum untuk proses industri asam sulfat adalah pada suhu antar 400-450°C dan tekanan 1 atm.

Skema Pembuatan Asam Sulfat

Gambar 7. Skema Pembuatan Asam Sulfat

Kesetimbangan Akan Bergeser Ke Kanan Jika

Sumber: https://mplk.politanikoe.ac.id/index.php/program-studi/28-matakuliahkimiadasar/kimia-dasar/859-pergeseran-kesetimbangan-kimia

Check Also

Contoh Soal Perkalian Vektor

Contoh Soal Perkalian Vektor. Web log Koma – Setelah mempelajari beberapa operasi hitung pada vektor …