Pemilu Brasil: ‘Para pendeta menyebarkan ketakutan dari altar’, gereja-gereja evangelis diduga sebarkan hoaks

  • Oleh Juliana Gragnani – @julianagragnani
  • Tim Disinformasi World Service

Sumber gambar,

EVARISTO SA/AFP/Getty Images

Keterangan gambar,

Para pendeta di Brasil dituduh menyebarkan disinformasi yang bertujuan mengubah suara jemaat mereka.

Ana sedang beribadah di sebuah gereja evangelis yang biasa dia kunjungi di timur laut Brasil. Saat pendeta berkhotbah, dia fokus pada ayat yang sudah dikenal jemaat.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33).

Tetapi, interpretasi sang pendeta agak lain dari biasanya.

“Dia mengatakan kita harus melindungi Kerajaan Tuhan dengan memilih calon presiden yang tidak akan menutup semua gereja di negara ini,” kata Ana.

Baca juga:

  • Kemenangan ‘historis’ perempuan adat dalam pemilu Brasil
  • Tiga hal yang perlu Anda ketahui tentang pemilu Brasil: Mulai dari masa depan Amazon, hingga polarisasi politik
  • Ketika kostum timnas Brasil dipolitisasi menjelang pemilihan presiden

Pada Minggu (30/10), rakyat Brasil akan memilih pemimpin mereka selanjutnya. Pilihannya adalah presiden petahana Jair Bolsonaro dan mantan presiden Luiz Inácio Lula da Silva.

Tidak ada kandidat yang menyatakan akan menutup gereja, tapi Bolsonaro menyiratkan bahwa Lula akan melakukan itu jika terpilih. Para pendukung Bolsonaro pun telah menyebarkan klaim palsu itu.

Pesan yang disampaikan dalam pendeta dalam khotbah di gereja sudah jelas bagi Ana: pilih Bolsonaro. Namun, Ana merasa sedih.

“Saya merasa frustrasi dan muak. Saya ingin pergi. Saya sudah memutuskan akan kembali (ke gereja) ketika pemilu selesai,” kata Ana, yang namanya kami ubah karena dia khawatir ditegur di gereja.

Sumber gambar,

Buda Mendes/Getty Images

Keterangan gambar,

Sebagian besar gereja Protestan evangelis disebut telah menyebarkan disinformasi guna mendukung Presiden petahana Jair Bolsonaro, yang beragama Katolik namun dekat dengan kalangan evangelis.

Pengalaman Ana mencerminkan apa yang terjadi di seluruh gereja evangelis di Brasil, di mana para pendeta diduga menyebarkan disinformasi yang bertujuan mengubah pilihan politik jemaat mereka.

Baca :   Cara Menghilangkan Tinta Spidol Di Baju

Penganut evangelis

Mayoritas warga Brasil beragama Katolik. Namun sejak 1950-an, Protestan evangelis menyebar ke seantero negeri, dan terbukti sangat populer di kalangan penduduk berkulit hitam, perempuan, dan miskin.

Penganut Protestan evangelis mencapai sepertiga dari populasi Brasil saat ini. Mereka banyak terlibat dalam komunitas dan semakin berpengaruh dalam politik: 20% anggota parlemen di Majelis Rendah adalah penganut Protestan evangelis dan mereka membentuk kaukus yang kuat.

Kedua kandidat presiden, yang beragama Katolik, mencoba merayu penganut Protestan evangelis. Tetapi untuk memengaruhi suara mereka, kampanye para kandidat diwarnai dengan disinformasi.

‘Menodai iman’

Banyak gereja Protestan evangelis memiliki layar lebar yang biasanya menampilkan ayat-ayat dari Alkitab. Tapi sekarang, layar itu juga digunakan untuk menayangkan video hoaks politik.

Potongan rekaman video Lula yang dituduh mengatakan bahwa iblis “mengambil alih dirinya” ditayangkan di gereja tempat Patricia beribadah di Negara Bagian Minas Gerais, Brasil belahan tenggara.

Video yang juga tersebar di media sosial itu telah dimanipulasi. Kata-kata yang diucapkan telah diedit dan dibuat di luar konteks sehingga mengubah makna aslinya.

Baca juga:

  • Kesaksian para pendeta Gereja Ortodoks Rusia di Ukraina yang memberontak melawan Moskow
  • Desmond Tutu – pastor Afsel yang menginspirasi, suka memberontak, dan humoris

Sumber gambar,

Ricardo Stuckert

Keterangan gambar,

Video palsu soal mantan presiden Lula berisi disinformasi soal hubungannya dengan iblis menjadi viral di media sosial.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca

Podcast

Akhir dari Podcast

Patricia, bukan nama sebenarnya, menjadi sukarelawan di gereja sejak 1996. Dia memutuskan hengkang sekitar dua pekan yang lalu karena apa yang dia saksikan selama kampanye pemilu.

Menurut Patricia, pendeta mengirim video itu di grup WhatsApp, yang menjadi sarana koordinasi antara relawan dan pendeta.

Baca :   Warna Cat Pagar Besi Minimalis Terbaru

“Mereka bilang kita harus memviralkannya, kalau tidak berarti kita tidak bersama Tuhan.”

Disinformasi lainnya mengklaim bahwa pemerintah sayap kiri akan mengizinkan aborsi (hukum Brasil saat ini sangat ketat mengatur aborsi), membuat toilet unisex untuk anak-anak, dan membiarkan homoseksualitas “merajalela di Brasil”. Isu-isu itu terbukti menjadi perhatian pemilih Protestan evangelis.

“Saya sangat sedih. Para pendeta menyebarkan ketakutan dari altar. Mereka menodai iman,” kata Patricia.

Para peneliti menggambarkan situasi ini sebagai “tsunami” berita palsu baik daring maupun luring, kata pakar politik dari Institut Studi Agama di Brasil, Ana Carolina Evangelista.

Sebagian besar konten hoaks itu fokus pada ketakutan akan hilangnya kebebasan beragama dan kepanikan moral.

Mario Henrique de Souza, yang pernah menjadi anggota militer dan sekarang bekerja sebagai pengacara di selatan Brasil mengatakan, “Saya sudah menjadi penganut evangelis sejak 18 tahun. Selalu ada retorika ini selama pemilu, tetapi dengan cara yang lebih halus.”

Dalam masa pemilu saat ini, de Souza mendengar di gereja bahwa kalau kelompok kiri menang, mereka akan menyita rumah dan anak-anak berusia enam tahun di sekolah akan diajarkan cara berhubungan seks.

Menurut Evangelista, disinformasi yang menyebar di gereja-gereja ini “mempermainkan ketakutan yang terkadang nyata”.

“Kondisi kehidupan di Brasil telah memburuk, jadi kepanikan bisa lebih mudah dipicu. Penganut evangelis masih minoritas yang percaya bahwa kebebasan beragama mereka pernah tidak dihormati.”

Sumber gambar,

Dokumen pribadi Mario Henrique de Souza

Keterangan gambar,

Pengacara Mario Henrique de Souza mengaku sudah mendengar disinformasi terkait agama di gerejanya.

Evangelista meyakini campur tangan pemilu di dalam gereja telah efektif memengaruhi pikiran orang.

Survei yang dilakukan lembaga jejak pendapat Datafolha menunjukkan bahwa populasi evangelis pada masa awal kampanye terbagi rata mendukung kedua kandidat.

Baca :   Wood Background Free for Commercial Use

Pada Mei, 47% evangelis akan memilih Bolsonaro, sementara 45% akan memilih Lula. Lima bulan kemudian, pada pertengahan Oktober, 65% menyatakan berniat memilih Bolsonaro dan sekitar 31% memilih Lula.

‘Mencicipi racunnya sendiri’

Setelah pemungutan suara putaran pertama, tim kampanye Lula membalas, yang secara tidak resmi dikomando secara online oleh seorang anggota kongres sayap kiri evangelis bernama André Janones.

Dia mendorong pengikut Lula untuk membuat Bolsonaro “mencicipi racunnya sendiri”.

Beberapa pihak benar-benar melakukannya. Sebuah video tentang Bolsonaro yang berbicara di tempat perkumpulan pengikut Freemason pada 2017 muncul kembali.

Banyak penganut Kristen percaya bahwa Freemason tidak sesuai dengan iman mereka. Video itu pun menjadi viral.

Bolsonaro membenarkan bahwa dia pergi ke tempat berkumpul pengikut Freemason. Dia mengatakan bahwa dia melakukan itu karena dia adalah presiden “dari semua kalangan”.

Janones kemudian merekam video di sebuah gereja evangelis besar di Sao Paolo dengan judul: “GENTING! Bolsonaro membuat perjanjian dengan sekte Freemason untuk memenangkan pemilihan”.

Namun di dalam video itu juga, dia menahan diri membicarakan tuduhan palsu yang dimuat di judul, dan justru membuat komentar yang meragukan tentang hubungan Bolsonaro dengan Freemason.

“Saya melakukannya dengan keraguan, saya tidak menyebarkan berita palsu. Saya menggunakan modus yang sama seperti mereka, tapi saya yakin ini layak dilakukan demi demokrasi,” kata Janones.

“Saya tidak membenarkan apa yang saya lakukan. Tetapi jika lawan mengarahkan senapan ke arah saya, saya tidak bisa membalasnya dengan menawarkan bunga. Saya harus menggunakan senapan juga.”

Tetapi semua disinformasi yang ditujukan kepada para penganut agama ini dapat menjadi bumerang.

“Mereka mengubah Injil menjadi sesuatu yang tidak benar. Injil bukan kebohongan, injil adalah kebenaran. Injil bukan tentang kebencian, tapi tentang cinta,” kata pengacara Mario Henrique de Souza.

Tiga minggu yang lalu, de Souza memilih berdiri dan hengkang dari gereja di tengah-tengah khotbah pendeta. Dia tidak menoleh lagi ke belakang.