Cara Mencegah Penyakit Ikan Gurame

Cara Mencegah Penyakit Ikan Gurame.

Hama dan penyakit sering mudarat usaha budidaya ikan gurame start bersumber penyerbukan, pendederan sebatas pembesaran.

Wereng dan masalah perlu diantisipasi sejak dini, start dari pengamatan periodik, pemantauan setakat tindakan pengendaliannya.

Daftar isi:

  • Pengendalian Wereng Ikan Gurame
  • Cara Mencegah Keburukan Ikan Gurame
    • 1. Basil
    • 2. Argulus
    • 3. Clinostomum
    • 4. Bintik Biram
    • 5. Nyonyor Insang dan Jasmani (Myxosporesis)
    • 6. Cacing Insang, Sirip, dan Selerang (Dactypogyrus dan Girodactyrus)

Pengendalian Hama Iwak Gurame

Hama penting nan sering mencerca ikan gurame dan mandu pengendaliannya laksana berikut:

  1. Bebeasan (Notonecta). Hama ini mengamati dengan cara menyengat benih lauk gurame. Cara pengendaliannya, dengan menumpahkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 m².
  2. Uncrit atau ulat mago cybister. Hama ini menyerang dengan mandu menjepit dan merobek jasad lauk gurame. Prinsip pengendaliannya, hindari bahan organik menumpuk di sekeliling kolam.
  3. Kangkung (Rana sp.). Hama ini menyerang dengan prinsip bersantap telur-telur iwak gurame. Kaidah pengendaliannya, membuang telur kangkung mengapung.
  4. Ular cabai. Hama ini menyerang alias memangsa mani ikan gurame. Cara pengendaliannya, penangkapan ular dan pembatasan kolam.
  5. Linsang atau biawak. Wereng ini memperhatikan dengan kaidah meratah ikan gurame puas malam hari. Prinsip pengendaliannya, meletuskan jebakan berumpun.
  6. Penis. Hama ini menyerang dengan cara memakan semen ikan, terutama benih ikan yang bercat menyala. Cara pengendaliannya, diberi sekatan semoga musykil menerkam, pun rumbai-rumbai alias tali penahan.
  7. Lauk gabus. Iwak ini memangsa benih lauk gurame kecil. Mandu pengendaliannya, dilakukan penggerebekan.

Cara Mencegah Penyakit Lauk Gurame

Penyakit Ikan Gurame

Salah satu kendala sreg budidaya ikan gurame adalah adanya serangan ki kesulitan. Beberapa masalah terdepan yang kerap kecam ikan gurame dan cara pengendaliannya sebagai berikut:

1. Bibit penyakit

Penyebab penyakit bakterial yaitu bakteri
Aeromonas hydrophila
dan
Enterobacter. Serangan kelainan ini dapat menyebabkan kematian ikan gurame antara 30-80%. Gejala ofensif secara visual menunjukkan perlambang sebagai berikut:

  • Pada latar bodi lauk ada putaran-putaran nan berwarna abang darah, terutama di putaran dada, alat pencernaan, dan sumber akar sirip.
  • Selaput lendir (mucus) menjadi berkurang, sehingga tubuh ikan tak sekali lagi licin, melainkan kesat (garang) dan ikan mudah ditangkap atau dipegang.
  • Di beberapa bagian tubuh ikan, tampak sugi dan sungkap, sedangkan kulitnya menjadi melepuh.
  • Sirip punggung dan radai dada serta sirip ekor tampak tembelang, bahkan rajin pecah-mulai sejak.
  • Insang rusak dan berwarna keputih-putihan sampai kebiru-biruan.
  • Keadaan iwak lemah, enggak cacar, dan kehilangan keseimbangannya.
  • Matanya menonjol (exopthalmus)
Baca :   Cara Menghilangkan Mata Minus Alami

Usaha pencegahan dan sanitasi yang boleh dilakukan dengan cara-mandu sebagai berikut:

  1. Sebelum ditebari iwak, kolam sebaiknya dikeringkan. Taburkan secara merata kapur dengan dosis 100 g/m².
  2. Air dimasukkan kembali secara perlahan-Iahan dan biarkan lebih kurang 15 hari.
  3. Jangan memasukkan atau mendatangkan ikan dan air dari daerah nan terkena pandemi.
  4. Hindari habis lintas ikan hidup terbit wilayah hilir ke negeri hulu aliran sungai.
  5. Asingkan lauk nan memerlihatkan gejala awal penyakit dan obati secara terpisah.
  6. Iwak-ikan yang terserang parah sebaiknya dimusnahkan.
  7. Jangan membawa lauk dan sisa-tinja iwak yang terinfeksi ke n domestik tambak alias ke rotasi air.
  8. Kolam nan mutakadim terjangkit penyakit segera dikeringkan dan lakukan pengapuran dosis 200 g/m² selama satu minggu.
  9. Perabot-gawai penangkapan dan penampungan lauk dijaga agar tidak terkontaminasi, bahkan berbarengan-waktu didesinfektan dengan larutan PK 20 ppm alias dengan kaporit 0,5 ppm (0,5 g/m3 air).
  10. Tingkatkan zat makanan ikan dengan apendiks vitamin cak bagi menggunung anak kunci tahan badan lauk.
  11. Gunakan jenis ikan ulung nan memiliki kancing resistan tinggi terhadap komplikasi.

Usaha pengendalian dan pengobatan penyakit bakterial terhadap ikan nan situasi infeksinya belum parah, artinya paru-paru ikan belum rusak dan rataan tubuh masih cukup beringus, dapat segera diobati dengan Kalium Permanganat (KmnOA) ataupun Permanganat Kalikus (PK).

Pengelolaan bagaikan pengobatan ikan gurame ialah:

  • Sediakan air mata air alias air sumber yang kudus kerumahtanggaan bak atau bejana penampungan, sesuai dengan jumlah bobot ikan nan akan diobati, dengan perbandingan rumit ikan dan debit air maksimal 1 kg ikan per 40 liter air.
  • Buat larutan PK dengan kepekatan 20 ppm internal volume air umpama atau bejana penampungan tersebut, ialah dengan melumerkan 20 9 PK saban 1 m³ air maupun 1,5 sendok teh PK per 1 m³ air.
  • Rendam iwak-lauk yang akan diobati dalam larutan FK selama 30-60 menit dengan diawasi terus-menerus. Apabila lauk memerlihatkan gejala keracunan, kembalikan lekas ikan ke dalam air yang bersih.
  • Sehabis direndam selama 30-60 menit, kembalikan iwak ke dalam bendungan nan sirkulasi airnya baik.
  • Apabila diperlukan, pengobatan dapat diulangi 3-4 hari kemudian.
Baca :   Contoh Soal Dan Pembahasan Identitas Trigonometri

Kerjakan iwak induk berukuran berat lebih mulai sejak 0,5 kg/ekor yang terinfeksi terka parah dapat diobati dengan oxytetracyclin HCI melalui penyuntikan intramuskular dengan dosis 25 mg/1 kg rumpil ikan.

Penyuntikan dengan pembeli antibiotik ini sahaja untuk pengobatan indung ikan cuma, lain dianjurkan untuk ikan-ikan konsumsi.

Obat antibiotik harus diberikan dalam dosis yang tepat bakal mencegah timbulnya resistensi pada bakteri penyebab keburukan ikan tersebut. Tata laksana pengobatannya adalah:

  1. Timbang ikan yang akan diobati dengan tepat.
  2. Hitung dosis pelelang yang akan disuntikkan sesuai dengan susah badan iwak.
  3. Obat oxytetracyclin HCI yang digunakan adalah Terramycin cairan.
  4. Suntikkan sebanyak 1 cc obat tersebut bikin setiap kg berat ikan.
  5. Penyuntikan dilakukan secara intramaskular di adegan tubuh ikan sebelah bawah radai telapak.
  6. Ikan yang telah disuntik dikembalikan dengan segera ke kerumahtanggaan tebat yang revolusi airnya baik.

Bila hal lauk yang terinfeksi belum parah boleh dilakukan pengobatan di tebat-bendungan pemeliharaan dengan menggunakan PK dosis 3 ppm.

Manajemen andai pengobatannya adalah:

  1. Ukur luas dan kedalaman rata-rata kolam yang akan digunakan dalam pengobatan, dan hitung volume air tersebut.
  2. Tentukan banyaknya PK nan diperlukan buat dilarutkan ke privat air kolam, sehingga diperoleh konsentrasi PK sekeliling 3 ppm alias 3 g/m³ air.
  3. Tutup saluran penyerahan dan pengeluaran air kolam.
  4. Larutan penawar PK yang telah ditentukan banyaknya kerumahtanggaan beberapa ember air dan percikkan secara merata di permukaan air kolam, sebaiknya pakai alat semprot atau alat penyiram tanaman.
  5. Biarkan air kolam bukan mengalir sepanjang 24 jam dengan pengawasan setiap saat, dan apabila terjadi gejala intoksikasi pada ikan segera alirkan kembali air empang.
  6. Apabila teradat, pengobatan dapat diulangi 3-4 hari sampai semua iklan dapat pulih kembali.

2. Argulus

Argulus sp.
hidup laksana ektoparasit, yaitu berhimpit pada tembakau atau sirip lauk. Kerugian yang disebabkan parasit ini terjadi pada kolam-balong penyerbukan.

Argulus berkembang biak dengan kopulasi dan meletakkan telur sreg substrat nan keras, misalnya batu atau kayu. Jumlah telur argulus bervariasi antara 20-30 butiran.

Ukuran telur, panjangnya 0,28-0,30 mm dan lebarnya 0,22-0,24 mm. Telur akan menetas sesudah berumur 12 perian pada suhu 15,2-26,1°C. Apabila ulat mago yang baru menetas tidak menemukan inangnya dalam waktu 36 jam, maka belatung tersebut akan mati.

Urut-urutan stadium larva hingga menjadi dewasa melewati 7 stadium. Apabila stadium dewasa tanpa suka-suka inang lebih bersumber 9 hari, maka aspergilus dewasa tersebut akan hening.

Baca :   Cara Menyemai Bunga Telang

Iwak nan terkontaminasi Argulus akan menunjukkan gejala serangan tubuhnya mersik karena kekurangan cairan tubuh yang dihisap oleh parasit Aspergiius.

Pengendalian maupun pencegahan Aspergilus pada iwak gurame bisa dilakukan dengan prinsip bagaikan berikut:

  1. Menggunakan korban ilmu pisah begitu juga Ammounkum Chlorida, Kalium Permanganat, Nevugon, dan Lysol.
  2. Pengeringan tambak nan kemudian dilakukan pengapuran.
  3. Secara mekanis dengan jujut parasit ini dengan menunggangi pinset.

3. Clinostomum

Pasilan Clinostomum sp.
besar perut ditemukan pada benih ikan yang dipelihara di sawah. Daur hayat terdiri atas fase telur, cercaria, dan metacercaria (dalam air) dan fase dewasa (internal lauk).

Serangan parasit Clinostomum menyebabkan bintiI-bintil yang mengandung cercaria Clinostomum sp. Ikan yang terinfeksi akan menunjukkan pertumbuhan nan terhambat.

Pengendalian pasilan clinostomum dapat dilakukan dengan cara-cara pengeringan bendungan, kemudian ditaburi dengan kapur atau garam dapur. Penawar Formalin 250 ppm ataupun Kalium Permanganat 5-10 ppm.

4. Bintik Merah

Bintik Berma (White Spot). Gejala serangan ki aib bintik berma ditanda Bintik Merah (White Spot). Gejala gempuran penyakit bintik merah ditandai pada bagian raga, terutama kepala, insang, dan sirip, tampak bintik-bintik zakiah.

Pada infeksi berat kelihatan jelas saduran putih, ikan menggosok-gosokkan badannya lega benda yang ada di sekitarnya dan berenang adv amat lemah serta bosor makan muncul di permukaan air.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara lauk yang terinfeksi direndam selama 24 jam n domestik larutan
Methylene blue
1% (1 g privat 100 cc air).

Larutan ini diambil 2-4 cc dicampur dengan 4 liter air alias direndam dalam enceran garam dapur NaCI selama 10 menit, dosisnya 1-3 g/100 cc air.

5. Bengkak Insang dan Badan (Myxosporesis)

Gejala terjangan kebobrokan nyonyor insang dan badan ditandai dengan tutup paru-paru ikan gegares terbuka maka itu bintik kemerahan, dan di fragmen jejak kaki terjadi pendarahan.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pendirian pengeringan kolam secara besaran, ditabur kapur tohor 200 g/m², kemudian dibiarkan selama 1-2 minggu.

6. Cacing Insang, Radai, dan Selerang (Dactypogyrus dan Girodactyrus)

Gejala serangan ki aib ini ditandai dengan ikan tertentang kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok, dan ikan menggisil-gosokkan badannya sreg benda gentur di sekitarnya, sehingga terjadi pendarahan dan menebal pada insang.

Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan dengan cara direndam dalam cairan formalin 250 g/m³ selama 15 menit ataupun dalam larutan Methylen blue 3 g/m³ sejauh 24 jam, dan hindari penebaran ikan yang berlebihan.

Cara Mencegah Penyakit Ikan Gurame

Source: https://titikdua.net/pengendalian-hama-dan-penyakit-ikan-gurame/

Check Also

Contoh Soal Perkalian Vektor

Contoh Soal Perkalian Vektor. Web log Koma – Setelah mempelajari beberapa operasi hitung pada vektor …