Best Author
sangdedi

743,613
octa

486,297
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,181
dwi

313,549
adit

310,096
resta-andara

275,157
benedict

261,583
rahadian

240,940
bara

228,942
nabilalalala

216,884
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,191
suranto

100,765
admin

99,004
iwan

80,055
kupukupu

78,106

SEMUA ORANG SEJATINYA adalah WARTAWAN

SEMUA ORANG SEJATINYA adalah WARTAWAN

Menjadi wartawan, dalam persepsi banyak orang, masih tergolong profesi yang mentereng. Anggapan awam, wartawan adalah sosok yang cerdas, kritis, pemberani, memiliki kepekaan yang luar biasa, berilmu, pandai menganalisa dan menuangkannya dalam tulisan yang bernas, serta –ini yang banyak orang jadi jiper– memiliki latar belakang akademis. Wartawan, bagai sebagian kalangan– yang tidak memiliki perkara hukum— adalah teman yang sangat disegani dan disukai. Sebab mereka memiliki banyak informasi yang kerap berkategori ‘A1′ (valid). Namun, wartawan bagi sebagian kalangan – yang memiliki/ terindikasi terjerat kasus hukum— adalah musuh yang harus dibungkam dengan berbagai cara, termasuk penghilangan nyawa. Inilah sosok wartawan dalam persepsi masyarakat.

Namun benarkah wartawan itu adalah sosok yang prestisius semacam itu, sehingga hanya orang-orang tertentu yang boleh jadi wartawan sedang yang lain tidak? —Orang-orang tertentu yang dimaksud adalah mereka yang bekerja dalam sebuah industri media baik cetak maupun elektronik, red–. Jika pertanyaan ini diajukan  di era Soeharto berkuasa, saya boleh menjawabnya : YA. Namun, di era mudahnya akses internet –yang bermuatan informasi dengan segala infrastrukturnya– bertebaran dimana-mana, maka dengan tegas saya menjawab : TIDAK.

Dalam sebuah bukunya, ‘Wahyu & Revolusi”, Dr. Zia Ul-Haq menyebut bahwa tugas para Nabi adalah menyampaikan risalah dan berita. Dan itu sama halnya dengan tugas para penulis dan juga wartawan. Wartawan memiliki tugas yang ‘nyaris’ sama dengan para pendakwah, yakni menyampaikan BERITA dan RISALAH (tulisan penting yang harus disampaikan). Artinya, dikehendaki dan disadari atau tidak, wartawan telah melakukan tugas para NABI & Rasul. An-Nabiy dari kata An-Naba’ yang berarti Berita sedang Ar-RASUL dari kata Ar-Risalah yang tulisan/ catatan penting yang harus disampaikan.

Jika kita sepakat dengan hal di atas, maka jelas bahwa SETIAP ORANG ‘DAPAT’ menjadi WARTAWAN. Dalam kontek Islam, Rasulullah saw bahkan menganjurkan dengan amat sangat untuk menyampaikan apapun yang berasal dari beliau meski pun hanya satu bukti (ayat) : Baligho ‘anny walau ayah. Jika mengambil gambaran ini, maka setiap muslim harusnya adalah seroang wartawan. Nah, masalahnya adalah seperti apa wartawan itu? Inilah yang kemudian harus dipelajari. Apa kaidah & syarat seorang wartawan? bagaimana kerjanya? bagaimana mereka mengolah informasi melalui berbagai kejadian dan nara sumber? bagaimana menuangkan seluruh gagasan yang teranalisa dengan baik dan cermat ke dalam tulisan yang tidak bertele-tele namun tidak juga terlalu singkat, sehingga mampu dipahami pembaca dengan nyaman? Seluruh pertanyaan di atas adalah berbagai hal yang harus dipelajari dan mampu diimplemtasikan dengan baik oleh seorang yang ingin mengemban tugas KEWARTAWANAN ini.

Wartawan harus BENAR & JUJUR

Setuju! Sebagaimana para Nabi & Rasul, maka dalam kehidupan ini mereka punya musuh yakni setan & iblis. Setan & Iblis juga memiliki peran mengganggu, mendistorsi, merusak, memanipulasi  bahkan melenyapkan informasi yang baik dan benar. Di dunia wartawan, maka model-model semacam ini ada dan niscaya itu. Karena, dalam informasi kerap terjadi proses tarik ulur dan benturan antara Haq & Batil. Maka dalam segi konten, peperangan ini selalu dan niscaya terjadi. Namun penggambaran ini bukan lantas melegitimasi, bahwa wartawan adalah pewaris para Nabi & Rasul. Tidak. Sebab dalam konteks ini lebih ditekankan pada peran para pewarta ini.

Selain itu, tabiat manusia secara umum adalah memberikan kabar. Setiap bertemu dengan siapapun, selalu ada ‘kabar’ yang ingin kita bagi. Maka tabiat ini kian menguatkan bahwa ‘kewartawanan’ adalah sebuah keniscayaan yang telah dilakukan manusia secara fitrah. Hanya saja dalam ‘membagi kabar’ ini kaidah BENAR dan JUJUR harus ditaati. BENAR dalam proses, cara, konten serta faktanya. JUJUR dalam penyampaian, analisa dan kesimpulannya. Sebab dua aspek ini sangat menentukan hasil dari informasi yang dikehendaki, oleh karenanya mereka tidak boleh terpenuhi salah satu. harus keduanya.

Contoh, Presiden melakukan tindakan yang BENAR namun tidak JUJUR dalam penyampaian, analisa dan kesimpulan hasilnya dapat membuat masyarakat kehilangan kepercayaan dan rezim pun jatuh. Pun juga ketika Presiden Jujur dalam penyampaian, analisa dan kesimpulan, namun tindakannya pun tidak benar secara Fakta, proses dsb, akibatnya bisa ditebak pula rezim pun jatuh.

Namun bagaimana jika sebuah rezim mampu bertahan sekian lama dengan memanipulasi prinsip BENAR & JUJUR itu? Ya, tetap saja, mereka tinggal menunggu waktu untuk jatuh atau hancur. Sebab, BENAR & JUJUR merupakan syarat utama dalam menyebarkan informasi.

Wartawan dapat MEMANIPULASI berita

Telah disinggung di atas, bahwa selain para NABI & RASUL yang mendapat mandat menegakkan KEBENARAN & KEJUJURAN (AL-HAQ) dan memerangi DUSTA & KHIANAT (AL-BATHIL), terdapat syetan dan iblis yang berupaya merusak kaidah haq dan batil ini. para ‘kru’ setan dan iblis selalu berupaya keras agar yang haq dipandang ‘batil’ sedang yang batil diyakini sebagai yang ‘haq’. jika pola ‘switching’ ini gagal, maka agen-agen iblis dan setan ini berupaya sekuat tenaga agar terjadi proses senyawa antara haq dan batil. Inilah yang dimaksud dengan ‘distorsi’ atau ‘manipulasi’ berita.

Kejadian menjadi sebuah berita atau tidak, Beritanya menjadi benar atau tidak. Disampaikannya dnegan jujur atau tidak semua sangat dipengaruhi oleh ‘siapa wartawannya’. Maka wartawan memiliki peran sentral yang mengendalikan itu semua.

Semua Orang bisa jadi WARTAWAN

Saya membayangkan, jika Facebook, Tweeter, Blog, WordPress, Multyply, Google, Yahoo, Kaskus dan sebagainya itu sudah memasyarakat di era 80-an, saya yakin 100%, rezim Soeharto bakal jatuh di era itu. Sekarang ini, semua orang memanfaatkan fasilitas di internet yang begitu luar biasa. Facebook menjadi etalase personal dalam mengekspresikan diri. Bahkan satu orang bisa memiliki lebih dari satu wahana hubungan sosial itu. Dengan kenyataan ini, maka ilmu ‘kewartawanan’ yakni JURNALISTIK bukan lagi domain kelas masyarakat tertentu saja.

Bagi teman-teman yang mengalami era 80-an, akan sangat jarang menemui seorang petani yang melakukan chatting di tengah sawah. Namun, saya sendiri melihat dengan mata kepala, betapa seorang petani (yang pasti pemilik lahan) membawa android-nya ke tengah sawah dan melakukan komunikasi dengan koleganya untuk menawarkan produknya. Foto dan langsung upload. Obyek sebagai fakta dipotret lantas ‘dikabarkan’ melalui posting ke wahana sosial yakni FACEBOOK dan E-mail. Saat itu juga saya tersenyum, lantas dengan bercanda saya berkata,”wah, sudah jadi wartawan nih”. betapa tidak, si bos ini dengan cekatan langsung mengetik beberapa kalimat yang menjelaskan apa saja produk yang lagi digarapnya. Lain lagi ojeker  dekat rumah, dengan nex**n-nya, dia asyik ketak-ketik menjawab obrolan via facebook. dan setelah itu dia ke warnet untuk membuka e-mail.

Kisah diatas hanya untuk menguatkan sebuah fakta bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat telah melakukan proses kerja besar yakni kerja ‘wartawan’. hanya saja mereka tidak menyadari. dan ini Kenyataan! lantas jika semua lapisan masyarakat sudah ‘berbudaya’ wartawan masihkan kalangan jurnalis merasa berada di puncak ‘menara eifel’… Jika itu yang anda lakukan, maka selamat sebentar lagi anda masuk dalam bagian orang yang paling terbelakang dalam gencarnya denyut wahana sosial. Mulai sekarang terbukalah…sebab akan muncul sebuah era dimana BERMILYAR MANUSIA mereka melakukan perannya sebagai WARTAWAN. wallahu’alam bishshowwab.

Penulis :
Telah menulis sebanyak 2 artikel
Mendapatkan 0 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>