Best Author
sangdedi

743,945
octa

487,323
fitrotinnikm

456,625
idjah

445,515
dwi

313,971
adit

310,310
resta-andara

276,029
benedict

261,609
rahadian

241,206
bara

228,950
nabilalalala

217,056
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,847
suranto

100,765
admin

99,130
iwan

80,055
kupukupu

78,106

PERAN FILSAFAT BAHASA INDONESIA PADA PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA

A. Pengertian Filsafat Bahasa

Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat bahasa sehari-hari. Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual knowledge melalui pemahaman terhadap bahasa. Dalam rangka mencari pemahaman ini, para filsuf telah juga mencoba mendalami hal-hal lain, misalnya fisika, matematika, seni, sejarah, dan lain-lain. Cara bagaimana pengetahuan itu diekspresikan dan dikomunikasikan di dalam bahasa, di dalam fisika, matematika dan lain-lain itu diyakini oleh para filsuf berhubungan erat dengan hakikat pengetahuan atau dengan pengetahuan konseptual itu sendiri. Jadi, dengan meneliti berbagai cabang ilmu itu, termasuk bahasa, para filsuf berharap dapat membuat filsafat tentang pengetahuan manusia pada umumnya.

Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa. Jadi, para sarjana bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat bahasa itulah tujuan akhir kegiatannya, sedangkan filsafat bahasa mencari hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan konseptual. Dalam usahanya mencari hakikat pengetahuan konseptual itu, para filsuf mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.

 

B. Kaitan Filsafat Bahasa Indonesia dengan Karakter Bangsa

Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sifat-sifat kejiwaan , akhlaq  atau  budi pekerti. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadikan ciri khas setiap individu untu hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa atau negara. Seperti yang diketahui bersama, bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup manusia. Manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antarsesamanya sejak berabad-abad silam. Bahasa hadir sejalan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa sebagai fungsi sosial menjadi hal pokok manusia untuk mengadakan interaksi sosial dengan sesamanya. Keraf (1980:03) yang menyatakan bahwa bahasa apabila ditinjau dari dasar dan motif pertumbuhannya, bahasa berfungsi sebagai (1) alat untuk menyatakan ekspresi diri; 2) alat komunikasi; 3) alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi social; dan 4) alat untuk mengadakan kontrol sosial. Empat fungsi yang diungkapkan Keraf di atas, salah satunya menunjukkan cara yang bisa dikategorikan sebagai lingkungan pendidikan yaitu masyarakat. Di dalam lingkungan daerah yang terisolir maupun daerah yang jauh dari pusat kota, pendidikan di luar sekolah tentu saja yang berada dalam masyarakat sangat dibutuhkan karena bagi daerah seperti ini lingkungan pendidikan yang menyediakan ilmu pengetahuan, keterampilan, atau performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar utama.

Pendidikan merupakan proses budaya, untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia” pendidikan berlangsung seumur hidup dan dapat dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Perlu diketahui jika bahasa sebagai produk sosial atau produk budaya. Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan manusia. Sebagai produk sosial atau budaya, bahasa berfungsi sebagai wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, serta sebagai wadah penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Pendidikan berbasis karakter merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, penanaman karakter pada anak dianggap sebagai hal pokok. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Sedikitnya terdapat empat ciri dasar dalam pendidikan karakter, yaitu 1) keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai dengan nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan; 2) koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang; 3) otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain; 4) keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini, lebih lanjut memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan format seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Paparan di atas  semakin mendukung program pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan anak dalam pengertian kecerdasan dan keterampilan melainkan program pendidikan juga menadarkan tentang pentingnya menjaga moralitas dan peningkatan kemampuan pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan. Apabila segala fenomena tentang pentingnya pendidikan tidak terealisasi dengan baik, maka keberhasilan pemperhati pendidikan karakter akan mengalami kegagalan. Dampak yang dinilai sangat mempengaruhi pendidikan anak adalah lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat, dan pemberian pendidikan akan tersampaikan dengan baik jika penggunaan bahasa diberikan dengan tepat. Bahasa dapat pula berperan sebagai alat integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial. Hal ini mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa sangat diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya mengerti melalui sebuah alat yang disebut bahasa.

Ada pengaruh penting terhadap pendidikan karakter yaitu bahasa adalah seperangkat kebiasaan. Kebiasaan bisa dikatakan adat, dalam situs Wikipedia menyebutkan bahwa adat ialah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. Pengajaran bahasa digunakan untuk meningkatkan harga diri, menumbuhkan pikiran positif, meningkatkan pemahaman diri, menumbuhkna keakraban dengan orang lain, dan mampu menemukan kelebihan dan kelemahan diri. Dari pernyataan tersebut maksud pengajaran bahasa berorientasi pada pemerolehan nilai sesuai pendidikan karakter yaitu, menumbuhkan pikiran positif dan menumbuhkan keakraban dengan orang lain.

 

 

 

C. Cara Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa

Pendidikan karakter sebaiknya di ajarkan dengan menyesuaikan sasaranya atau objek yang akan dituju. Akan tetapi pendidikan karakter yang diinginkan ialah pendidikan karakter yang mudah dipahami dan dimengerti, baik di kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Bahasa diberikan pada lingkungan pendidikan dan dimulai dari usia anak-anak sehingga penanaman nilai-nilai yang diberikan sejak anak-anak dinilai lebih maksimal daripada diberikan pada usia dewasa. Pendidikan karakter terbagi menjadi tiga tahap yaitu :

  1. Pengetahuan tentang kebaikan

Tahap ini ialah tahap awal dalam pembentukan karakter  yang baik. Ini mudah untuk diajarkan karena banyak sekali sumbernya, terutama buku yang mengajarkan tentang kebaikan. Untuk sekarang ini  sudah banyak yang mengajarkan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. Pengetahuan tentang kebaikan juga dapat tumbuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak-anak yang sudah pubertas sebagian besar sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara  yang haq dan yang bathil.

  1. Menumbuhkan perasaan senang dan cinta terhadap kebaikan.

Anak-anak yang sudah dewasa memang kebanyakan dapat membedakan yang baik dan yang buruk akan tetapi belum tentu ia dapat menumbuhkan rasa senang ataupun cinta dalam dirinya terhadap kebaikan. Maka dari itu ini adalah tahap yang paling sulit untuk diterapkan. Syarat yang harus terpenuhi agar tahap ini dapat terlaksana ialah pengetahuan tentang kebaikan yang ada pada tahap pertama. Jadi, antara tahap yang pertama dan yang kedua sangat erat kaitanya. Kesulitan dalam tahap ini karena rasa cinta terhadap kebaikan itu akan muncul apabila kesadaranya pun juga tumbuh sehingga kita harus menumbuhkan rasa kesadaran pentingnya kebaikan. Selain itu perlu adanya teladan yang patut dijadikan contoh. Jika kita menyampaikan kebaikan lewat lisan maka hanya akan diletakkan di samping telinga, jika kita menyampaikan kebaikan lewat hati maka kebaikan itu akan masuk sampai ke hati, begitu pula jika kita menyampaikan kebaikan lewat akal maka akan masuk sampai ke akal.

  1. Melakukan perbuatan baik,  perasaan senang atau cinta terhadap kebaikan diharapkan dapat menjadi mesin penggerak sehingga akan menjadikan seseorang secara sukarela melakukan perbuatan yang baik. Pada tahap ini disebut juga tahap untuk mengambil tindakan (action). Setelah seseorang mengetahui tentang kebaikan dan sudah menyukai kebaikan maka mereka akan terus menjaga agar kebaikan itu tidak hilang dari dirinya. Mereka mengangap bahwa kebaikan adalah bagian dari hidup.

Dalam penanaman pendidikan karakter yang paling utama adalah keteladanan. Orang tua memberikan perilaku dan contoh yang positif kepada anak-anaknya. Guru memberi contoh  kepada  anak didiknya. Sementara itu, para pemimpin memberikan teladan karakter yang baik kepada masyarakat. Penanaman pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Strategi yang dapat dilakukan antara lain 1) memasukkan pendidikan karakter ke dalam semua mata pelajaran di sekolah; 2) membuat slogan-slogan atau yel-yel yang dapat menumbuhkan kebiasaan semua masyarakat sekolah untuk bertingkah laku yang baik; 3) membiasakan perlaku yang positif di kalangan warga sekolah; 4) melakukan pemantauan secara kontinyu; dan (5)  memberikan hadiah (reward) kepada warga sekolah yang selalu berkarakter baik.

 

D. Hubungan Bahasa dengan Pendidikan Karakter

Bahasa menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Menurut Plato, bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. Berdasar penjelasan Palto tersebut, dapat diartikan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.  Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi masih kalah dengan bahasa. Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambangan. Terlepas dari itu semua, prinsip pembelajaran bahasa Indonesia secara umum ada delapan, antara lain 1)  pembelajaran bahasa Indonesia harus diarahkan untuk lebih banyak memberikan porsi kepada pelatihan berbahasa yang nyata; 2) tata bahasa diajarkan hanya untuk memberikan kesalahan ujar siswa; 3) keterampilan berbahasa nyata menjadi tujuan utama; 4) membaca sebagai alat untuk belajar; 5) menulis dan berbicara sebagai alat berekspresi dan menyampaikan gagasan; 6) kelas menjadi tempat berlatih menulis, membaca, dan berbicara dalam bahasa Indonesia; 7) penekanan pengajaran sastra pada membaca sebanyak-banyaknya sastra Indonesia; dan 8) pengajaran kosakata diarahkan untuk menambah kosakata siswa.

Berdasarkan hal itu, nampak bahwa pembelajaran bahasa Indonesia adalah banyak berlatih di kelas dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasi, baik yang nyata ”senyatanya’ melalui diskusi maupun yang nyata ”tidak senyatanya” melalui kegiatan bermain peran.  Melalui diskusi dan bermain peran dalam pembelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat melakukan olah rasa, olah batin, dan olah budi secara intens sehingga secara tidak langsung siswa memiliki perilaku dan kebiasaan positif melalui proses apresiasi dan berkreasi melalui karya sastra.  Melalui karya sastra, siswa juga akan mendapatkan pengalaman baru dan unik yang belum tentu bisa mereka dapatkan dalam kehidupan nyata.  Melalui karya sastra siswa bisa belajar dan bergaul secara langsung tentang berbagai karakter mulia.  Cara orang-orang tua kita dahulu menanamkan nilai-nilai luhur melalui dongeng tentang tokoh-tokoh yang memiliki karakter kuat mampu terserap ke dalam alam logika dan hati nurani anak hingga terbawa sampai dewasa. Sikap toleran, moderat, rendah hati, kreatif, empati, dan nilai-nilai budi pekerti lainnya sangat kuat mengakar ke dalam memori anak dan diaplikasikan ke dalam kehidupannya sehari-hari.  Hal ini menunjukkan bahwa melalui pendidikan bahasa Indonesia kita dapat membentuk karakter bangsa.

Penulis :
Telah menulis sebanyak 6 artikel
Mendapatkan 1 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

1 Comment

  1. andika

    August 4, 2017 at 8:25 am

    maaf keluar dari topik, saya hanya kagum dengan web ini, jumlah penulisnya banyak banget. :)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>