Best Author
sangdedi

743,613
octa

486,297
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,181
dwi

313,549
adit

310,096
resta-andara

275,157
benedict

261,583
rahadian

240,940
bara

228,942
nabilalalala

216,884
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,191
suranto

100,765
admin

99,004
iwan

80,055
kupukupu

78,106

memahami inti dan kata dalam membaca

Memahami Gagasan Utama
Paragraf adalah serangkaian kalimat yang disusun secara sistematis dan logis sehingga membentuk satu kesatuan pokok pembahasan. Paragraf yang baik terdiri atas satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Di dalam kalimat utama terdapat gagasan utama dan di dalam kalimat penjelas terdapat gagasan penjelas.
Untuk memahami gagasan utama dalam paragraf, kita harus mencermati kata-kata kunci, antara
lain:
Jadi,
(1)    Ada beberapa,
(2)    Dengan demikian,
(3)    Pada dasarnya,
(4)    Intinya,
(5)    Sebagai simpulan.

Ciri-ciri gagasan penjelas:
(1)    uraian-uraian kecil,
(2)    contoh-contoh,
(3)    peristiwa ilustrasi,
(4)    kutipan-kutipan.

Memahami Inti Wacana dari Penalaran
Pada dasarnya, ada ada dua macam penalaran karangan, yakni induktif dan deduktif.

a.    Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian/contoh, dan diakhiri kesimpulan umum yang merupakan inti wacana atau gagasan utama.
Penalaran induktif dibagi menjadi tiga macam, yakni: generalisasi, analogi, dan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala (data) yang bersifat khusus atau yang sejenis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum. Analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan suatu objek sampai kesimpulan yang berlaku umum. Sebab akibat adalah proses penalaran berdasarkan hubungan sebab akibat atau akibat sebab.

Contoh 1: Generalisasi
Besi apabila dipanaskan dalam suhu tertentu akan memuai. Tembaga jika dipanaskan pada suhu tertentu juga memuai. Emas dan perak pun jika dipanaskan akan memuai. Jadi, semua logamjika dipanaskan pada suhu tertentu akan memuai.

Contoh 2: Analogi
Triana adalah guru bahasa Indonesia SMK Bunda Kandung, lulusan Universitas Negeri Jakarta. la seorang guru yang profesional. Siswa-siswinya sangat senang karena apa yang diajarkan selalu dapat dipahami dengan baik. Wajarlah kalau nilai ujian nasional bahasa Indonesia siswa-siswi SMK Bunda Kandung selalu baik. Namun, sangat disayangkan tahun ini Ibu Triana harus pindah tugas karena mengikuti suaminya bekerja di Kalimantan. Oleh karena itu, Bapak Usman harus mencari guru baru lulusan Universitas Negeri Jakarta dengan harapan iajuga guru yang profesional seperti Ibu Triana.

Contoh 3: Sebab akibat
Banjir di India tahun ini disebut para pejabat sebagai yang terburuk dalam puluhan tahun di India Selatan. Banjir ini menggenangi jutaan hektare ladang, termasuk perkebunan tebu. Banyak pohon tebu rusak dan tidak dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan baku gula pasir. Jadi, sudah dapat dipastikan produksi gula pasir di Karnataka-penghasil guia pasir terbesar nomor tiga di India-akan anjlok tahun ini.

b.    Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan penyajian fakta yang bersifat umum, disertai dan diakhiri dengan fakta atau sikap yang berlaku khusus.
Contoh:
Hujan deras dan angin kencang, Selasa (6/10) terjadi di Mojokerto, Jawa Timur. Angin itu menumbangkan sejumlah pohon dan papan reklame. Sebuah gapura penanda batas wilayah Desa Kepuhanyar dan Desa Mojoanyar nyaris ambruk. Ranting pohon tanjung dan sonokeling di sepanjang Jalan Gajah Mada, Jalan Pahlawan, dan Jalan Majapahit di Kota Mojokerto tampak berserakan. Bahkan, lampu pengatur lalu lintas pun tak dapat berfungsi dengan baik.

c.    Penalaran Deduktif-Induktif
Pada hakikatnya kalimat topik dalam satu paragraf hanya satu. Akan tetapi, ada kalimat topik yang ditempatkan di awal dan di akhir paragraf. Penalaran semacam itu disebut penalaran deduktif-induktif. Contoh:
Penyakit kaki gajah disebabkan oleh cacing filarial. Cacing ini berbentuk silindris, halus seperti benang putih serta berukuran panjang 55-100 mm dan tebal 0,16 mm. Cacing jantan lebih kecil, berukuran 55 mm x 0,09 mm. Larva mikrofilaria sekali keluar jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu berukuran 200-600 mikron. Cacing ini diisap oleh nyamuk dan dipindahkan ke tubuh manusia malalui gigitannya. Kegiatan cacing mini ini menyebabkan kaki dan tangan penderitanya berubah berukuran besar atau yang disebut penyakit kaki gajah.
Pikiran utama     :   Penyebab penyakit kaki gajah.
Pikiran penjelas   :    (1)     Ukuran cacing filarial.
(2)      Ukuran cacing jantan (filarial).
(3)      Jumlah larva mikrofilaria sekali ke luar.
(4)      Nyamuk memindahkan cacing filaria ke tubuh manusia.
Pikiran utama     :  Kegiatan cacing mini menyebabkan penyakit kaki gajah.

d.    Penalaran Induktif-Deduktif
Paragraf induktif-deduktif adalah paragraf yang diawali dan diakhiri dengan kalimat penjelas sedangkan kalimat utamanya terletak di tengah paragraf.
Contoh:
(1) Pasar Induk Kramat Jati setiap hari dibanjiri pembeli. (2) Sejak pukul 01.00 dini hari pasar ini sudah mulai ramai. (3) Boleh dikatakan, pasar yang menjual aneka buah dan sayur mayur itu tak pernah sepi. (4) Para pembeli berdatangan silih berganti dari penjuru Jakarta. (5) Bahkan, ada juga yang datang dari Tangerang dan Bekasi.
Pikiran penjelas :  (1)     Pasar Induk Kramat Jati dibanjiri pembeli.
(2)     Pukul 01.00 dini hari sudah mulai ramai.
Pikiran utama   :   (3)     Pasar Induk Kramat Jati tak pernah sepi.
Pikiran penjelas :  (4)     Pembeli berdatangan silih berganti.
(5)     Ada juga yang datang dari Tangerang dan Bekasi.

Memahami Paragraf yang Baik
Paragraf yang baik harus memiliki kepaduan kalimat atau kalimat-kalimatnya berhubungan secara logis. Kepaduan (koherensi) ini dapat dibangun melalui pengulangan kata kunci atau sinonim, kata ganti, dan kata atau frasa transisi.

a.    Pengulangan Kata Kunci
Kalimat-kalimat dalam paragraf dihubungkan dengan kata kunci atau sinonimnya. Kata kunci yang telah disebutkan di kalimat pertama diulang lagi di kalimat berikutnya, misalnya:
•    teknologi dengan teknologi,
•    tidak melanggar dengan selalu menaati.
Contoh:
(1) Perkembangan teknologi layar sentuh bukanlah hal yang baru muncul dalam hitungan hari. (2) Ada beberapa titik yang menandai perkembangan teknologi tersebut. (3) Ambil saja contoh telepon genggam, yang disebut-sebut telah mempercepat kehadiran inovasi teknologi layar sentuh. (4) Bahkan kini, seiring dengan pengembangan dan inovasi yang dilakukan, layar sentuh menjadi tren yang akan mengisi dunia teknologi informasi dan komunikasi dalam waktu dekat.
Kata kunci paragraf di atas adalah teknologi yang diperkuat pula dengan kata perkembangan dan frasa layar sentuh.

b.    Kata Ganti atau Padanannya
Kepaduan antarkalimat dalam paragraf dapat pula dijalin dengan menggunakan kata-ganti, misalnya:
pemain              =      dengan ia atau dia
para pemain      =      dengan mereka
soya dan dia      =     dengan kami
sdya dan kamu  =     dengan kita
Kesebelasan Indonesia bermain seri melawan kesebelasan Kuwait   = dengan Hal ini menyebabkan ….
Contoh:
(1) Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan paling berkuasa di muka bumi ini. (2) Dia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupnya. (3) Mereka tidak diizinkan untuk menyia-nyiakannya atau menyakiti dan merusaknya. (4) Tuhan pasti murka kepadanja kalau itu terjadi.
Kata ganti paragraf di atas adalah dia, mereka, dan -nya.

c    Kata atau Frasa Transisi
Kata atau frasa transisi adalah kata atau frasa penghubung, konjungsi atau perangkai, baik intrakalimat maupun antarkalimat. Kata atau frasa transisi menyatakan hubungan sebagai berikut:
•    Penegasan        :   jadi, dengan demikian
•    Pertentangan    :   namun, tetapi, akan tetapi, berbeda dengan, sebaliknya, meskipun demikian, kecuali, daripada, padahal
•    Sebab, akibat, atau hasil  :   sebab, karena, akibatnya, dampaknya, oleh sebab itu, oleh karena itu, hasilnya, sehingga
•    Waktu    :   ketika, saat itu
•    Syarat    :   jika, apabila, kalau
•    Urutan    :   pertama, mula-mula, akhirnya, selanjutnya
•    Tambahan informasi      :   selain itu, singkatnya, tambahan pula, di samping itu, dengan Kata lain
Contoh:
Kerusakan lingkungan kini terjadi di mana-mana. Bukan saja kerusakan hutan, tetapi limbah-limbah rumah tangga dan pabrik sudah merajalela. Bau tidak sedap dan busuk sering kita hirup. Seolah-olah kita tidak merasakan bau itu karena sudah terbiasa. Padahal, bibit penyakit tersebar ke mana-mana. Akibatnya fatal, yaitu menjadikan generasi kita rentan penyakit sehingga orang sakit semakin hari semakin banyak.
Konjungsi intrakalimat: tetapi, karena, dan sehingga Kata transisi antarkalimat : padahal, akibatnya

Perbedaan Fakta dan Opini
Fakta adalah sesuatu (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan. Maksudnya, sesuatu dikatakan fakta apabila benar-benar ada atau terjadi. Sedangkan opini adalah pendapat, pikiran, atau pendirian seseorang tentang sesuatu.
Kunci:
•    Fakta:
logis (masuk akal)
objektif (apa adanya)
faktual (berdasarkan kenyataan atau kebenaran)

•    Opini:
pendapat
pemikiran
asumsi (memperkirakan kebenarannya)
subjektif (menggunakan kata-kata seperti sebaiknya, mungkin, barangkali, menurut pendapat soya, dsb.)
Contoh:
(1) Sebanyak 20 tim balap sepeda menyatakan keikutsertaannya di Speedy Tour d’lndonesia 2009. (2) Sembilan dari 20 tim itu adalah tim nasional luar negeri sedangkan 11 tim lainnya berasal dari dalam negeri. (3) Menurut panitia, salah satu dampak positif lomba ini adalah timbulnya minat klub sepeda lokal yang cukup tinggi. (4) Hal ini, setidaknya jika dibandingkan dengan peserta Tour d’ Indonesia 2008 yang hanya diikuti 8 klub dari dalam negeri. (5) Itu artinya, ada penambahan jumlah peserta lomba yang cukup menggembirakan (Kompas. 19 November 2009).
a.    Kalimat nomor (1), (2), dan (4) mengandung informasi berbentuk fakta (benar-benar terjadi).
b.    Kalimat nomor (3) dan (5) mengandung informasi berbentuk opini (pendapat). Frasa dampak positif pada kalimat nomor (3) dan cukup menggembirakan pada kalimat nomor (5) hanyalah suatu pendapat belaka.

Penanda Proses dan Hasil
a.    Penanda Proses
Dalam bentuk eksposisi, penanda proses biasanya berupa konjungsi: selanjutnya, kemudian, berikutnya, lalu, setelah itu, langkah berikutnya, dan sejenisnya. Sedangkan dalam bentuk gramatikal, ditandai dengan imbuhan pe-an.
Contoh penggunaan penanda proses dalam eksposisi:
Sebelum ujian hendaknya kita berdoa terlebih dahulu. Jangan lupa kita memohon kepada Tuhan agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan. Setelah itu, barulah kita mengerjakan setiap soal dengan teliti. Kerjakan soal yang lebih mudah terlebih dahulu. Kemudian baru mengerjakan soal yang lebih sulit. Jika mengalami kesulitan jangan menyontek. Kerjakan setiap soal dengan penuh percaya diri. Kemudian, kumpulkan hasil pekerjaan Anda apabila sudah selesai. Insya Allah hasil ujian Anda bagus.
Contoh penggunaan penanda proses dalam kata:
(1)    Pengobatan penderita penyakit kaki gajah di Jawa Barat tidak didasarkan atas pemeriksaan
pasien.
pe-an + obat ->pengobatan pengobatan: proses mengobati
(2)    Penulisan buku itu memerlukan waktu yang cukup lama.
pe-an + tulis -> penulisan
penulisan: proses menulis Perlu diingat bahwa tidak semua imbuhan pe-an bermakna proses. Perhatikan contoh berikut ini:
(1)    pemakaman artinya tempat memakamkan.
(2)    penggorengan artinya alat untuk menggoreng.
(3)    penghijauan artinya hal menghijaukan.

b.    Penanda Hasil
Penanda hasil biasanya berupa imbuhan -an. Imbuhan -an tidak memiliki variasi bentuk.
Contoh:
(1)    Lukisan Easuki Abdullah lebih bersifat natural,
lukis + -an -> lukisan
lukisan artinya hasil melukis.
(2)    Tulisan wartawan itu menggunakan huruf Steno.
tulis + -an -> tulisan
tulisan artinya hasil pekerjaan menulis.
Perlu juga diingat bahwa tidak semua imbuhan -an bermakna hasil. Perhatikan contoh berikut ini:
(1)    jebakan artinya alat untuk menjebak.
(2)    bacaan artinya sesuatu yang dibaca
(3)    harian artinya tiap-tiap hari

Penulis :
Telah menulis sebanyak 35 artikel
Mendapatkan 442 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>