Best Author
sangdedi

743,259
octa

484,417
fitrotinnikm

456,613
idjah

444,779
dwi

312,891
adit

309,762
resta-andara

273,837
benedict

261,571
rahadian

240,306
bara

228,914
nabilalalala

216,608
kurnitap_

154,132
kuswanto

139,189
suranto

100,765
admin

98,850
iwan

80,055
kupukupu

78,090

TINGKATAN DAN MACAM-MACAM NORMA DALAM MASYARAKAT

Kita telah membahas tentang hakikat norma sosial. Namun, mungkin kalian bertanya bagaimana proses terjadinya suatu norma dalam masyarakat? Adakah tingkatan norma dalam masyarakat dan apa saja jenis-jenis norma yang umumnya berlaku dalam masyarakat? Kita akan coba mencari jawabannya dalam uraian ini.

A. Tingkatan Norma
Pada mulanya norma terbentuk secara tidak terencana. Pada saat itu, norma hanya sebagai konsekuensi hidup bersama. Aturan atau norma ini hanya berupa perintah lisan dari orang yang lebih tua atau orang yang dituakan. Lama-kelamaan, perintah lisan tersebut berkembang menjadi aturan atau norma tertulis yang sengaja dibuat agar lebih mudah dipelajari dan tidak mudah untuk berubah-ubah. Dengan demikian, diandaikan akan adanya kepastian dalam pelaksanaannya. Sebagai contoh, dalam praktik jual beli, pada mulanya perantara (calo) tidak mendapat keuntungan dari penjual maupun pembeli. Apabila ada imbalan, itu hanya sebatas kerelaan saja. Namun, lama-kelamaan perantara tersebut mendapat bagian keuntungan dan imbalan jasa dengan jumlah tertentu dari transaksi yang terjadi. Akhirnya, memberi upah bagi calo merupakan sesuatu yang lazim berlaku dalam proses jual beli.
Dilihat dari kekuatan mengikat terhadap anggota masyarakat, norma dibedakan menjadi beberapa tingkatan, yaitu cara, kebiasaan, dan tata kelakuan.
1.    Cara (usage) adalah norma yang paling lemah daya pengikatnya karena orang yang melanggar hanya mendapat sanksi dari masyarakat berupa cemoohan atau ejekan saja. Cara atau usage menunjuk pada suatu perbuatan yang berkaitan dengan hubungan antarindividu dalam masyarakat. Sebagai contoh, ketika sedang makan orang yang bersendawa atau mengeluarkan bunyi tertentu sebagai tanda kenyang. Tindakan tersebut bagi masyarakat tertentu dianggap tidak sopan. Sanksi terhadap tindakan ini berupa sikap tersinggung dan cemoohan.
2.    Kebiasaan (folkways) adalah suatu aturan dengan kekuatan mengikat yang lebih kuat daripada usage karena kebiasaan merupakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi bukti bahwa orang yang melakukannya menyukai dan menyadari perbuatannya. Kebiasaan ini apabila dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat disebut dengan tradisi dan menjadi identitas atau ciri masyarakat yang bersangkutan.
Contoh:
•    Kebiasaan menghormatd dan mematuhi orang yang lebih tua.
•    Kebiasaan menggunakan tangan kanan apabila hendak memberikan sesuatu kepada orang lain.
•    Kebiasaan mengunjungi kerabat yang lebih tua pada hari raya keagamaan.
3.    Tata Kelakuan (mores) adalah aturan yang sudah diterima masyarakat dan dijadikan alat pengawas atau kontrol, secara sadar atau tidak sadar, oleh masyarakat kepada anggota- anggotanya. Tata kelakuan mengharuskan atau melarang anggota masyarakat untuk menyesuaikan tindakan terhadap apa yang berlaku. Pelanggaran terhadap tata kelakuan akan diberi sanksi berat seperti diarak di depan umum atau bahkan dirajam.
Contoh:
•    Larangan buang air kecil di sembarang tempat.
•    Larangan berzina

B. Macam-Macam Norma
Norma-norma yang berlaku di masyarakat dapat diklasifikasikan dalam 5 jenis, yaitu norma agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan, dan hukum.
1.    Norma agama, adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran atau kaidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak dan mengharuskan ketaatan bagi para pemeluk atau penganutnya. Yang taat akan diberikan keselamatan di akhirat, sedangkan yang melanggar akan mendapat hukuman di akhirat. Agama bagi masyarakat Indonesia mampu membentuk masyarakat religius yang hidup penuh keseimbangan jasmani dan rohani.
Contoh:
•    Norma agama Islam antara lain adalah kewajiban melaksanakan rukun Islam dan rukun Iman.
•    Dalam agama Kristen, kewajiban menjalankan sepuluh perintah Allah.
•    Dalam agama Hindu, kepercayaan terhadap reinkarnasi, yaitu adanya kelahiran kembali bagi manusia yang telah meninggal sesuai dengan karmanya, sesuai dengan kehidupannya di masa lampau.
2.    Norma kesusilaan, didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Norma kesusilaan bersifat universal. Artinya, setiap orang di dunia ini memilikinya, hanya bentuk dan perwujudannya saja yang berbeda. Misalnya, perilaku yang menyangkut nilai kemanusiaan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan pengkhianatan, pada umumnya ditolak oleh setiap masyarakat di manapun.
3.    Norma kesopanan, adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat seperti cara berpakaian, cara bersikap dalam pergaulan, dan berbicara. Norma ini bersifat relatif. Maksudnya, penerapannya berbeda di berbagai tempat, lingkungan dan waktu. Misalnya, menentukan katagori pantas dalam berbusana antara tempat yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Demikian pula antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin.
Contoh:
•    Tidak memakai perhiasan dan pakaian yang mencolok ketika menghadiri suasana berkabung.
•    Mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan pertolongan atau bantuan.
•    Meminta maaf ketika berbuat salah atau membuat kesal orang lain.
4.  Norma kebiasaan (habit), merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara  berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Orang yang tidak melakukan norma ini biasanya dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya.
Contoh:
•    Kebiasaan melakukan “selametan” atau doa bagi anak yang baru dilahirkan.
•    Kegiatan mudik menjelang hari raya.
•    Acara memperingati arwah orang yang sudah meninggal pada masyarakat Manggarai, Flores.
5.  Norma hukum, adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (negara). Sanksi norma hukum bersifat mengikat dan memaksa. Sanksi ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang memiliki kedaulatan, yaitu negara.
Ciri norma hukum antara lain adalah diakui oleh masyarakat sebagai ketentuan yang sah dan terdapat penegak hukum sebagai pihak yang berwenang memberikan sanksi. Tujuan norma hukum adalah untuk menciptakan suasana aman dan tenteram dalam masyarakat.
Contoh:
•    Tidak melakukan tindak kriminal, seperti mencuri, membunuh, dan menipu.
•    Wajib membayar pajak.
•    Memberikan kesaksian di muka sidang pengadilan.
Dari uraian di atas terlihat bahwa ada perbedaan antara rorma-norma tersebut. Tiap norma tersebut memiliki perbedaan. Namun, kelima norma itu memiliki hubungan yang sangat erat. Isi masing-masing norma saling mempengaruhi, kadang saling memperkuat, tetapi juga bisa saling meniadakan. Sebagai contoh, berdasarkan norma agama dan hukum, pembunuhan, pencurian, dan perzinahan sama-sama tidak dapat dibenarkan. Dengan demikian, norma agama dan hukum saling memperkuat satu sama lain.
Perbuatan-perbuatan pidana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), misalnya, hampir seluruhnya merupakan perbuatan-perbuatan yang berasal dari norma kesusilaan dan agama. Norma kesusilaan sering melarang beberapa perbuatan yang oleh norma hukum sama sekali tidak dihiraukan seperti tentang kumpul kebo dan berbohong. Selain itu, sering kali antara norma hukum dan kesusilaan terjadi kontradiksi. Sebagai contoh, Hida dan Mery mengadakan perjanjian hutang piutang, di mana dari perjanjian tersebut timbul kewajiban Hida membayar kembali sejumlah uang yang dipinjam dari Mery. Akan tetapi, perjanjian itu tidak memenuhi syarat-syarat formal yang ditentukan oleh hukum, seperti ditulis di atas secarik kertas yang ditandatangani kedua belah pihak. Terhadap kasus ini, norma kesusilaan mewajibkan Hida membayar utang tersebut. Namun menurut hukum, Hida tidak perlu menunaikan kewajiban tersebut, karena tidak ada bukti.
Norma kesopanan sering ditiadakan oleh norma hukum, tetapi ada kalanya diakui. Norma kesopanan dapat menjadi norma hukum jika masyarakat menganggap atau mengakuinya sebagai peraturan tentang perilaku manusia yang seharusnya dilakukan. Sebagai contoh, kesopanan dalam berpakaian dapat menjadi norma hukum jika masyarakat menganggapnya perlu dilakukan.

TINGKATAN DAN MACAM-MACAM NORMA DALAM MASYARAKAT, 3.0 out of 5 based on 2 ratings

Penulis :
Telah menulis sebanyak 39 artikel
Mendapatkan 130 komentar
  Rating tulisan 5 dari 5

8 Comments

  1. muhammad ahassa qalbain

    July 24, 2011 at 3:36 pm

    :D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen:

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. alex jefri

    August 8, 2011 at 10:26 am

    sok tau lw :twisted:

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. natan

    September 18, 2011 at 3:22 am

    masa u gak tau

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  4. jimmy

    October 6, 2011 at 9:04 am

    kurang banyak contohnya…….
    bisa ditambahkan lagi tidak ????

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Nada

    October 27, 2011 at 12:56 pm

    :D :!: :P :lol: 8) :o

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. muhammadgafar

    November 19, 2011 at 1:06 pm

    :twisted: :cry: :cry: :cry: :cry: :oops: :oops: :P :P :x :x :lol: :lol: 8) 8) :? :? :arrow: :arrow: :arrow:

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. muhammadgafar

    November 19, 2011 at 1:10 pm

    kk mau g ketemuan ma aku

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. nilam cahya

    September 24, 2013 at 1:51 pm

    kurang banyak contoh pelaksanaanya

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>