Best Author
sangdedi

743,603
octa

486,235
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,157
dwi

313,549
adit

310,096
resta-andara

275,123
benedict

261,583
rahadian

240,910
bara

228,942
nabilalalala

216,882
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,175
suranto

100,765
admin

98,982
iwan

80,055
kupukupu

78,106

People Power di Filipina

Pada 30 Desember 1965 Ferdinand Edralin Marcos dilantik sebagai Presiden Filipina. la terpilih sebagai presiden karena dipandang memiliki kemampuan kuat dalam memerangi kemiskinan, kejahatan, dan korupsi yang merajalela di kalangan aparat pemerintahan. Selain itu, sejak masa pemerintahan sebelumnya, ia telah dipercaya sebagai staf ahli pemerintahan.

Dalam masa pemerintahannya, ternyata Filipina tidak mengalami banyak kemajuan. Bahkan banyak para pengamat politikmenilai Marcos sering melakukan tindakan inkonstitusional. Situasi demikian mendorong partai-partai oposisi Filipina menggalang persatuan untuk melancarkan gerakan perlawanan menentang Marcos. Tokoh oposisi paling terkemuka di Filipina pada saat itu ialah Benigno Aquino. Selain itu, pemerintahan Marcos dianggap tidak berdaya menghadapi aksi perlawanan yang digalang kaum gerilya komunis, New People Army (NPA) atau Tentara Rakyat Baru yang mendapat dukungan senjata dan dana dari negara-negara komunis dan Front Pembebasan Mow yang berkeinginan mendirikan negara sendiri di Mindanao (Filipina Selatan).

Dalam menghadapi situasi seperti itu, pada tahun 1973 Presiden Marcos mengeluarkan Undang-undang Darurat Perang. Undang-undang ini memberi kekuasaan lebih besar bagi Marcos untuk mengambil segala tindakan demi menyelematkan negara dari kehancuran. Pihak oposisi jelas menentang undang-undang ini. Pihak oposisi menuduh undang-undang tersebut akan dimanfaatkan Marcos untuk melestarikan kekuasaannya.

Sejak diberlakukan Undang-undang Darurat Perang, Marcos banyak menangkapi tokoh-tokoh Filipina yang tidak disukainya. la memerintahkan pengawasan yang ketat terhadap partai-partai politik, media massa, dan serikat pekerja. Media massa yang banyak memojokkannya segera dibreidel. Marcos menggunakan pasukan militer dan badan intelijen untuk melaksanakan pengawasan itu. Tangan kanan Marcos yang setia, yaitu Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Fabian C. Ver.

Lawan-lawan politik Marcos banyak yang dijebloskan ke penjara sehingga banyak tokoh oposisi Filipina yang menyingkir atau disingkirkan dari Filipina. Kendati demikian, gerakan oposisi tidak mengendur, bahkan semakin seru. Di berbagai tempat sering terjadi bentrokan fisik dan demonstrasi-demonstrasi. Perkembangan politik seperti itu membawa kemerosotan ekonomi di Filipina.

Pada tahun 1980 Benigno Aquino menderita sakit jantung. la diizinkan Marcos untuk berobat ke Amerika Serikat. Ternyata, izin itu justru diberikan Marcos sebagai taktik untuk menyingkirkan Benigno Aquino dari Filipina. Buktinya, setelah Benigno Aquino sembuh dan menyatakan keinginannya untuk pulang, Marcos melarangnya. Kendati demikian, Benigno Aquino bersikeras untuk kembali ke Filipina. Setelah cukup lama tinggal di Amerika Serikat, pada 21 Agustus 1983 Benigno Aquino nekad pulang kembali ke negaranya. Namun, sebelum sempat menginjakkan kakinya di lapangan udara internasional Manila, ia ditembak mati oleh seorang penembak. Pengumuman resmi pemerintah menyatakan bahwa penembakan itu dilakukan oleh Rolando Galman. Tidak ada motif apa pun di belakang peristiwa terbunuhnya Aquino tersebut, kecuali tindakan kriminal biasa.

Pihak oposisi dan rakyat Filipina tidak mempercayai keterangan resmi pemerintah tersebut. Mereka menuduh Presiden Marcos dan Jenderal Fabian C. Ver beserta para pimpinan militer berada di balik peristiwa pembunuhan. Rolando Galman hanyalah kambing hitam dari terbunuhnya tokoh oposisi itu. Oleh karena itu, tewasnya Benigno Aquino menjadi momentum yang kuat bagi pihak oposisi untuk semakin meningkatkan perlawanan terhadap Marcos.

Perjuangan menentang Marcos kemudian diteruskan janda Benigno Aquino, yaitu Ny. Maria Aquino yang lebih dikenal dengan nama Corazon Aquino atau Cory Aquino dan Salvador Laurel. Corazon langsung mengambil alih kepemimpinan kaum oposisi untuk menetang Marcos. Tampilnya Corazon ke panggung politik Filipina mendapat dukungan sebagian besar rakyat, beberapa kalangan militer, dan kalangan gereja. Demonstrasi dari beragam lapisan masyarakat membanjiri Manila. Aksi-aksi yang digelar para demonstran bertujuan menumbangkan kepemimpinan Marcos yang otoriter. Pihak keamanan tidak banyak berbuat sesuatu untuk menindak para demonstran sehingga aksi-aksi jalanan semakin berani dan merajalela, Untuk meredakan suhu politik yang memanas, Marcos memutuskan akan menyelenggarakan pemilihan umum pada 17 Februari 1986. Melalui pemilu, rakyat bisa menjatuhkan pilihan kepada Marcos atau kepada Corazon.

Pada bulan Februari 1986 hasil pemilu diumumkan yang menyatakan Marcos sebagai pemenangnya. Pihak oposisi menolak pengumuman pemerintah itu. Pihak oposisi menuduh pemerintah telah melakukan kecurangan dalam perhitungan suara. Dalam suasana saling tuduh dan merebaknya aksi demonstrasi, Presiden Marcos mempercepat proses pengambilan sumpah dan pelantikan dirinya sebagai presiden. Hal serupa dilakukan pula oleh Corazon yang mendapat dukungan berbagai kalangan. Dengan demikian, Filipina pada suatu ketika sempat mempunyai dua orang presiden.

Dalam perkembangan selanjutnya, aksi-aksi pihak oposisi semakin bertambah berani. Kaum demonstran di jalan-jalan banyak meneriakkan yel-yel anti-Marcos. Mereka menuntut Marcos meletakkan jabatan dan segera meninggalkan Filipina. Bentrokan-bentrokan dengan petugas keamanan pun tidak dapat dihindarkan. Letusan-letusan senjata sering terdengar di sana-sini. Akhirnya, Filipina berada dalam situasi yang mengarah kepada perang saudara.Pada saat krisis mengancam persatuan dan kesatuan negara, dua tokoh terkemuka Filipina menyampaikan pernyataan yang mengejutkan banyak pihak. Kedua tokoh itu ialah Jenderal Juan Ponce Enrile (Menteri Pertahanan dan Keamanan) dan Letjen Fidel Ramos (Kepala Deputi Angkatan Bersenjata). Kedua tokoh yang selama itu bungkam, kemudian menyatakan menggabungkan diri dengan Corazon Aquino. Bergabungnya kedua perwira tinggi itu ternyata mempercepat tersingkirnya Marcos. Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan mendesak Marcos menyerahkan kekuasaan dan segera menyingkir dari Filipina. Permintaan tersebut akhirnya diterima Marcos dengan pertimbangan supaya tidak terjadi pertumpahan darah.

Dengan menggunakan pesawat Amerika Serikat, Marcos dan keluarga dibawa pergi ke Guam, kemudian ke Hawaii. Akibatnya, berakhirlah era Marcos yang telah memangku jabatan presiden selama hampir 20 tahun. Pada 25 Februari 1986 Majelis Nasional melantik Ny. Corazon Aquino sebagai Presiden Filipina dan Salvador Laurel menjadi wakilnya.

People Power di Filipina, 5.0 out of 5 based on 2 ratings

Penulis :
Telah menulis sebanyak 39 artikel
Mendapatkan 143 komentar
  Rating tulisan 5 dari 5

1 Comment

  1. Rendra Budi

    November 8, 2011 at 5:00 am

    Bagus gan…
    bisa buat referensi tugas nih… :!:

    From Fakta Unik

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>