Best Author
sangdedi

743,613
octa

486,247
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,157
dwi

313,549
adit

310,096
resta-andara

275,123
benedict

261,583
rahadian

240,910
bara

228,942
nabilalalala

216,882
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,175
suranto

100,765
admin

98,998
iwan

80,055
kupukupu

78,106

Penghapusan Politik Apartheid (Afrika Selatan)

Uni Afrika Selatan merupakan negara terkaya dan paling maju di Benua Afrika. Negara ini mulai terbentuk pada 31 Mei 1910 yang terdiri dari empat buah provinsi, yaitu Cape Town, Natal, Transvaal, dan Orange Free States. Negara yang baru dibentuk ini dipimpin Perdana Menteri Louis Botha. Sejak masa pemerintahannya, ia melaksanakan langkah politik, yaitu
1. menjadikan Uni Afrika Selatan sebagai anggota Persemakmuran Inggris, dan
2. merintis pelaksanaan politik pemisahan ras.

Dalam merealisasi sistem pemisahan ras, Pemerintah Afrika Selatan mengeluarkan undang-undang yang memisahkan kepentingan orang-orang kulit putih dengan pribumi yang berkulit hitam. Kebijakan politik tersebut menjadi wahana penindasan pertama terhadap orang-orang berkulit hitam. Peraturan-peraturan itu di antaranya sebagai berikut.
1. Land Act (1913), yaitu undang-undang yang melarang warga kulit hitam memiliki tanah di luar wilayah yang telah ditentukan.
2. Urban Areas Act (1923), yaitu undang-undang yang mengatur pemisahan tempat tinggal warga kulit putih dengan kulit hitam.

Nama politik apartheid (pemisahan) mulai dikenal masyarakat internasional sejak tahun 1948. Politik apartheid secara tegas dilaksanakan di masa pemerintahan Dr. Daniel Francois Malan (1948-1954). Ia memberi tempat tersendiri kepada penduduk kulit hitam yang disebut homeland. Setiap homeland mempunyai pemerintahan sendiri yang mengurus masalah-masalah lokaL.Uni Afrika Selatan memberi kemerdekaan kepada empat homeland, yaitu Transkei, Ciskei, Venda, dan Bhoputhatswana.

Pelaksanaan politik apartheid dapat digambarkan sebagai berikut.
1. Perkawinan di antara penduduk kulit putih dan kulit hitam dianggap sebagai pelanggaran hukum.
2. Warga kulit putih tinggal di kota-kota yang strategis, sedangkan kulit hitam di daerah-daerah yang kumuh.
3. Beberapa fasilitas kehidupan dibedakan untuk kulit putih dan kulit hitam.
4. Warga kulit hitam tidak diperbolehkan terlibat dalam kegiatan politik.

Politik apartheid yang dijalankan Afrika Selatan mendapat kecaman dari dunia internasional. Banyaknegara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Afrika Selatan. Begitu pula setiap pertemuan bertaraf internasional dan regional banyak membahas upaya penghapusan politik apartheid. Dengan demikian, Afrika Selatan menjadi terpojok dan terkucil dalam tata pergaulan internasional.

Di dalam negeri, perjuangan menentang diskriminasi ras telah dirintis sejak tahun 1912 oleh African National Congress (ANC). Tokoh ANC terkemuka ialah Nelson Mandela. la dengan gigih memperjuangkan hak-hak orang-orang kulit hitam. la banyak memimpin demonstrasi bersama para mahasiswa di beberapa tempat penting, seperti di Johannesburg. Oleh karena itu, ia senantiasa iincar dan dikejar-kejar pemerintah minoritas kulit putih.

Pada tahun 1960 muncul beberapa kerusuhan rasial seperti di Sharpeville, Cape Town, dan Transkei. Dalam kerusuhan itu polisi menembaki sekelompok penduduk kulit hitam yang tak bersenjata hingga menewaskan sekitar 69 warga Sharpeville. Kejadian yang berlangsung pada 21 Maret 1960 itu merupakan peristiwa berdarah pertama yang mendapat kecaman dunia. Meskipun demikian, Nelson Mandela tidak menghentikan perjuangannya. Secara diam-diam ia membentuk Umkhonto We Swize (Ujung Tombak Bangsa), yakni sebuah organisasi sayap militer ANC.

Pada 16 Desember 1961 organisasi itu melakukan aksi pertama berupa sabotase terhadap benda-benda milik kulit putih dan menyebarkan bom-bom untuk membunuh warga minoritas tersebut. Gerakan ini lambat-laun tercium pemerintah. Tidak ayal lagi pemerintah segera menangkap Nelson Mandela dan tokoh-tokoh lainnya dengan tuduhan menyulut api revolusi. Pada 12 Juni 1964 Nelson Mandela dijatuhi hukuman seumur hidup. Akibatnya, aksi protes, demonstrasi, dan huru-hara terus berlangsung di Afrika Selatan. Korban jiwa pun terus berjatuhan. Demi menghindari perjuangan yang digerakkan di balik terali besi, pemerintah Afrika Selatan segera memindahkan Nelson Mandela ke Penjara Pulau Rubben. Kemudian ia dipindahkan lagi ke Penjara Pollsmoor, dekat Cape Town.

Pada tahun 1989 peristiwa politik bergulir dengan cepat. Keadaan ekonomi Afrika Selatan memburuk. Pertumbuhan ekonomi terganggu karena kerusuhan di dalam negeri tiada pernah berhenti. Ditambah lagi adanya sanksi dan embargo ekonomi yang diterapkan sejumlah negara kepada Afrika Selatan. Bersamaan dengan itu, Presiden P.W. Botha diganti oleh Frederick Willem de Klerk.

Munculnya F.W. de Klerk di panggung politik Afrika Selatan menandai berakhirnya politik apartheid. Saat pengambilan sumpah sebagai presiden, ia berjanji akan mengadakan reformasi politik di Afrika Selatan. Reformasi politik yang akan dijalankan berkaitan dengan semakin keras dan gencarnya tekanan internasional. Sebagai langkah nyata, pada 11 Februari 1990 F.W. de Klerk membebaskan tokoh’ANC, Nelson Mandela yang telah mendekam di penjara selama 27 tahun. Setahun kemudian, pemerintah menghapuskan beberapa undang-undang yang menjadi landasan utama politik apartheid, seperti Land Act dan Urban Areas Act.

F.W. de Klerk dan Nelson Mandela berusaha menjadikan Afrika Selatan sebagai negara yang menjamin kebebasan, perdamaian, dan keadilan. Kedua tokoh ini mengembangkan hubungan yang mendalam di antara warga kulit putih dan kulit hitam. Berkat jasa-jasanya itu, mereka mendapat penghargaan internasional berupa nobel perdamaian pada tahun 1993. Pada 26-29 April 1994 diadakan pemilu multiras untuk yang pertama di Afrika Selatan. Pemilu ini diikuti 19 partai. Dalam pemilu tersebut, ANC berhasil meraih lebih 50% suara sehingga memperoleh kemenangan. Atas dasar kepercayaan rakyat yang begitu besar, pada 10 Mei 1994 Nelson Mandela terpilih dan dilantik menjadi Presiden Afrika Selatan. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya dominasi kulit putih di negara ini.

Penghapusan Politik Apartheid (Afrika Selatan), 4.5 out of 5 based on 2 ratings

Penulis :
Telah menulis sebanyak 49 artikel
Mendapatkan 588 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

3 Comments

  1. MONICA

    April 5, 2011 at 5:28 pm

    KEREN!!! :!: :-)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Putri D

    May 29, 2011 at 6:27 am

    Thankk u :)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. octa

    octa

    June 20, 2011 at 2:47 pm

    ya sama2..
    semoga bergna ya.

    VN:F [1.9.22_1171]
    Rating: -1 (from 1 vote)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>