Konfrontasi dengan Malaysia

Antara tahun 1963-1964 terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia yang bermula dari pembentukan Federasi Malaysia. Gagasan pembentukan Federasi Malaysia pertama kali dilontarkan Perdana Menteri Malaya, Tengku Abdul Rachman pada 27 Mei 1961. Menurutnya, federasi yang akan dibentuk terdiri dari Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah.

Untuk mewujudkan gagasan itu, pada bulan Oktober 1961 diadakan perundingan antara Perdana Menteri Malaya dan Perdana Menteri Inggris Harold Mc Millan di London, Inggris. Dari hasil pertemuan itu, Inggris menyampaikan dukungannya terhadap cita-cita pembentukan Federasi Malaysia. Hal ini disebabkan Malaya merupakan bekas wilayah jajahan Inggris yang terikat dalam British Commonwealth (Persemakmuran Inggris). Di lain pihak, rencana pembentukan Federasi Malaysia mendapat tantangan dan kecaman dari Filipina dan Indonesia. Filipina menentang pembentukan federasi ini karena memiliki keinginan atas wilayah Sabah di Kalimantan Utara. Filipina menganggap Sabah secara historis merupakan milik Sultan Sulu. Indonesia menentang karena menganggap federasi merupakan gagasan Inggris dan bukan gagasan rakyat Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah. Selain itu, Inggris dicemaskan akan mengepung Indonesia di sebelah utara. Pembentukan Federasi Malaysia merupakan proyek neokolonialisme yang membahayakan revolusi Indonesia.

Dalam upaya meredakan ketegangan di antara ketiga negara, sejak bulan April 1963 dirintis beberapa pertemuan para menteri luar negeri Indonesia-Malaya-Filipina. Melalui pertemuan-pertemuan tersebut ketegangan menjadi berkurang. Delegasi ketiga negara berhasil mencapai pengertian bersama dalam memecahkan persoalan-persoalan yang timbul sebagai akibat dari rencana pembentukan Federasi Malaysia. Upaya damai ketiga negara ini diperkuat dengan diselenggarakannya KTT Maphilindo (Malaya, Philipina, dan Indonesia) di Manila (Filipina) pada 31 Juli – 5 Agustus 1963. Pertemuan ini dihadiri tiga kepala negara/pemerintahan yaitu PM Malaya Tengku Abdul Rachman, Presiden Indonesia Ir. Soekarno, dan Presiden Filipina Diosdado Macapagal.

KTT Maphilindo berhasil merumuskan tiga dokumen penting, yaitu Deklarasi Manila, Persetujuan Manila, dan Komunike Bersama. Isi pokok ketiga dokumen tersebut, yakni Indonesia dan Filipina menyambut baik pembentukan Federasi Malaysia seandainya rakyat Kalimantan Utara mendukungnya. Untuk keperluan ini, ketiga negara meminta Sekjen PBB membentuk suatu tim penyelidik.Sekjen PBB menunjuk delapan orang sekretariat di bawah pimpinan Lawrence Michelmore sebagai tim penyelidik PBB. Mereka mulai bertugas di Malaysia pada 14 September 1963. Sebelum misi PBB menyelesaikan pekerjaan dan menyampaikan laporan, tiba-tiba’ Malaya memproklamasikan berdirinya Federasi Malaysia pada 16 September 1963. Tindakan ini sangat mengejutkan pihak Indonesia dan Filipina. Indonesia menilai tindakan Malaya sebagai pelanggaran terhadap martabat PBB. Selain itu, Malaya dipandang telah melakukan tindakan tidak bersahabat terhadap Indonesia.

Sebagai reaksi terhadap proklamasi Federasi Malaysia, rakyat Jakarta mengadakan demonstrasi terhadap Kedutaan Besar Malaya dan Inggris di Jakarta. Rakyat Malaya membalas dengan berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur. Sejak 17 September 1963 hubungan diplomatik Indonesia dan Malaya terputus.

Puncak konfrontasi kedua negara semakin tampak tatkala Indonesia mengumandangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964 di Jakarta yang berisi dua pernyataan.
a. Perhebat ketahanan revolusi Indonesia.
b. Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak, dan Brunei untuk menggagalkan negara boneka Malaysia.

Timbulnya konfrontasi Indonesia-Malaya ternyata merugikan kedua belah pihak. Persahabatan kedua negara menjadi retak. Kekuatan perekonomian melemah karena sumber keuangan negara dialihkan untuk dana perang. Selain itu, citra Indonesia memburuk di mata masyarakat dunia karena Indonesia dinilai telah berani mencampuri urusan dalam negeri negara lain, yang berarti telah melanggar Piagam PBB. Di dalam negeri, konfrontasi Indonesia-Malaya telah menguntungkan PKI. Mulai saat itu hubungan Indonesia dengan negara-negara komunis semakin erat.

Penulis :
Telah menulis sebanyak 41 artikel
Mendapatkan 86 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>