Best Author
sangdedi

743,613
octa

486,247
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,157
dwi

313,549
adit

310,096
resta-andara

275,123
benedict

261,583
rahadian

240,910
bara

228,942
nabilalalala

216,882
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,175
suranto

100,765
admin

98,998
iwan

80,055
kupukupu

78,106

Dampak Gagasan dan Aktivitas Organisasi Pergerakan Nasional

Dengan keyakinan bahwa perjuangan yang dilakukan bersama akan lebih mudah untuk mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia maka pada tanggal 17-18 Desember 1927 dibentuklah suatu Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Perhimpunan ini terdiri atas beberapa organisasi pergerakan nasional, seperti PSII, BU, PNI, Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Kaum Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia.

PPPKI diharapkan mampu mempersatukan dan menjadikan gerakan politik nasional berada dalam satu koordinasi yang baik. Dalam perkembangan selanjutnya, PPPKI tidak mampu mewujudkan cita-citanya, hal ini disebabkan adanya pertentangan antara tokoh-tokoh partai yang tergabung di dalamnya. Tekanan dari Pemerintah Hindia Belanda juga menjadi salah satu sebab semakin menurunnya peran perhimpunan ini dalam pergerakan nasional Indonesia. Upaya untuk meraih kemerdekaan terus dilakukan, baik melalui perjuangan kooperatif maupun nonkooperatif. Belanda selalu menutup jalan dan melakukan penekanan terhadap gerakan nonkooperatif, sementara terhadap gerakan yang kooperatif pun diwajibkan selalu minta izin jika akan mengadakan kegiatan. Hal tersebut membuat kesal para tokoh pergerakan sehingga melalui Volksraad (Dewan Rakyat), partai-partai yang tergabung dalam PPPKI mengeluarkan petisi tanggal 15 Juli 1936. Petisi yang dikenal sebagai Petisi Sutardjo itu ditandatangani oleh Sutarjo, I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, DatukTumenggung, dan Kwo Kwat Tiong, berisi usulan kepada Pemerintah Belanda untuk membahas status politik Hindia Belanda sepuluh tahun mendatang. Dapat dipastikan bahwa Belanda menolak Petisi tersebut sehingga membuat para tokoh pergerakan kecewa.

Gagalnya Petisi Sutardjo merupakan tantangan bagi para tokoh pergerakan nasional. Untuk mengatasi kekecewaan tersebut maka para tokoh pergerakan nasional mendirikan organisasi bam, yaitu Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada tanggal 21 Mei 1939. GAPI merupakan gabungan dari Parindra (Partai Indonesia Raya), Gerakan Indonesia (Gerindo), Persatuan Minahasa, Partai Islam Indonesia (Pll), Partai Katolik Indonesia, Pasundan, dan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Langkah yang ditempuh GAPI adalah mengadakan Kongres Rakyat Indonesia (KRI).
Tujuan dari Kongres Rakyat Indonesia adalah Indonesia Berparlemen. GAPImenuniut agai rakyat Indonesia diberikan hak-hak dalam urusan pemerintahannya sendiri. Keputusan pentr; lain setalah Indonesia Berparlemen adalah penetapan merah putih sebagai bendera Indonesia Lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, dan penggunaan bahasa Indonesia bagiselurt-rakyat di Hindia Belanda. Tuntutan GAPI dilanggapi oleh Pemerintah Belanda dengan Komis Visman. Komisi ini bertujuan untuk menyelidiki keinginan bangsa Indonesia. Temyata komisi i bekerja tidak jujur dan lebih memihak kepada Belanda. Pemerintah Hindia Belanda hanya berjar. akan memberikan status dominion kepada Indonesia di kemudian hari. Pergerakan Nasiona indonesia fidak terlepas dari peranan pers dan peranan wanita.

Pada tahun 1909, E.F.E Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) memberikan sebuah uraian awal tentang pers di indonesia, bahwa kedudukan pers berbahasa Melayu lebih penting daripada pers Belanda karena dengan berbahasa Melayu simpati dari kalangan pembaca pribumi lebih besar. Perkembangan pers bumiputra yang berbahasa Melayu menimbulkan pemikiran di kalangan Pemerintah Kolonial untuk menerbftkan sendiri surat kabar berbahasa Melayu yang cukup besar dengan sumber-sumber pemberitaan yang baik. Menurut Douwes Dekker, secara kronologis surat kabar berbahasa Melayu yang tertua adalah Bintang Soerabaja (1861) dengan pokok pemberitaan mengenaj usaha menentang pemerintah dan pengaruhnya terhadap orang-orang Cina di Jawa Tlmur. Kemudian berikutnya adalah Pewarta Soerabaja (1902) dengan pembacanya terbanyak dari masyarakat Cina. Salah satu surat kabar yang terpenting adalah KabarPemiagaan (1902), ada pula mingguan oposisi Ho-Po. Pelopor pers nasional adalah Medan Prijaji yang dipimpin oleh R.M. Tirtoadisuryo, yang terbit tahun 1907 sebagai mingguan, dan sejak 1910 menjadi surat kabar harian. Sementara itu, surat kabar yang membawa suara pemerintah dalam bahasa Melayu adalah Pancaran Warta (1901) dan Bentara Hindia (1901). Peranan Pers dalam usaha membantu menumbuhkembangkan kesadaran nasional cukup besar artinya bagi langkah perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Ada keterkaitan yang erat antara pers nasional dengan pergerakan-pergerakan kebangsaan sebagai penerus ide-ide nasionalisme.

Berbagai macam bentuk organisasi pemuda tumbuh dan berkembang di nusantara. Pergerakan pemuda yang bercita-cita mencapai kemerdekaan tidak hanya terbentuk di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Didorong oleh semangat persatuan dan kesatuan bangsa maka organisasi pemuda mengadakan Kongres Pemuda I di Jakarta pada tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926. Kongres pertama telah berhasil menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, mereka menyadari bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuanlah bangsa Indonesia akan kokoh dan kuat dalam menghadapi segala bentuk rintangan.

Pada bulan Oktober 1928, secara resmi kegiatan-kegiatan budaya dan politik ke arah persatuan Indonesia disatukan pada Kongres Pemuda II yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 26-28 Oktober 1928. Pada rapat tersebut dihasilkan Sumpah Pemuda, di mana disetujui tiga pengakuan, yaitu satu tanah air, Indonesia; satu bangsa, Indonesia; dan satu bahasa, bahasa persatuan bahasa Indonesia. Dalam Kongres Pemuda II ini nadir wakil-wakil organisasi, seperti PNi, Budi Utomo, Pasundan, Partai Serikat Islam (PSI), dan Serikat Minahasa. Hadir pula tokoh-tokoh Belanda yang terkenal, seperti Van der Plas dan J.E. Stokvis.

Sumpah Pemuda ini merupakan sebuah momentum yang sangat penting karena sejak saat itu telah timbul suatu perasaan kebangsaan dan perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan semakin nyata. Untuk lebih jelasnya berikut ini dicantumkan hasil Kongres Pemuda Indonesia II yang disetujui pada tanggal 28 Oktober 1928.

Dampak Gagasan dan Aktivitas Organisasi Pergerakan Nasional, 3.7 out of 5 based on 3 ratings

Penulis :
Telah menulis sebanyak 41 artikel
Mendapatkan 99 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>