Best Author
sangdedi

743,741
octa

486,687
fitrotinnikm

456,617
idjah

445,235
dwi

313,717
adit

310,206
resta-andara

275,585
benedict

261,599
rahadian

241,006
bara

228,942
nabilalalala

216,928
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,505
suranto

100,765
admin

99,032
iwan

80,055
kupukupu

78,106

Cara Mensosialisasikan Budaya

Sosialisasi melibatkan proses pemelajaran. Pemelajaran bukan sekadar di sekolah formal melainkan berjalan di setiap saat dan di mana saja. Belajar atau pembelajaran adalah modifikasi perilaku seseorang yang relatif permanen yang diperoleh dari pengalamannya di dalam lingkungan sosial/fisik. Seseorang selalu mengucapkan salam pada saat bertemu orang lain yang dikenalnya, perilaku tersebut merupakan hasil belajar yang diperoleh dari lingkungan di mana dia dibesarkan.
Ada tiga teori yang relatif kuat. yang dapat menjelaskan proses pembelajaran dalam sosiaiisasi.
a.    Teori pembelajaran sosial (social learning theory).
b.    Teori perkembangan dan pembelajaran (developmental theory).
c.    Teori interaksi simbolis (symbolic interaction theory).

a.     Berdasarkan teori pembelajaran sosial
Berdasarkan teori pembelajaran sosial, pembelajaran terjadi melalui dua cara, yaitu dikondisikan dan meniru perilaku orang lain. Tokoh utama yang mengemukakan pendekatan pertama adalah B.F. Skinner (1953), yang terkenal dengan konsep operant conditioning. Skinner memperkenalkan konsepnya tersebut berdasarkan berbagai percobaan melalui tikus dan merpati. Perilaku yang sekarang ditampilkan merupakan hasil konsekuensi positif atau negatif dari perilaku yang sama sebelumnya. Misalnya, seorang anak rajin belajar karena memperoleh hadiah dan orang tuanya. Seorang murid yang memperoleh nilai baik, dipuji-puji di depan orang banyak. Memuji dan memberi imbalan merupakan cara untuk memunculkan bentuk perilaku tertentu. Memarahi dan memberi hukuman merupakan cara untuk menghilangkan perilaku tertentu. Dengan demikian jika generasi awal ingin melestarikan berbagai bentuk perilaku kepada generasi sesudahnya maka kepada setiap perilaku yang dianggap perlu dilestarikan harus diberikan imbalan. Misalnya. seorang anak diminta berdoa sebelum makan dan setelah selesai berdoa orang tuanya memujinya.
Pendekatan kedua dikenal dengan nama observational learning. Tokoh di balik konsep tersebut adalah Albert Bandura. Inti pendekatan ini adalah bahwa perilaku seseorang diperoleh melalui proses peniruan perilaku orang lain. Individu meniru perilaku orang lain karena konsekuens yang diterima oleh orang lain yang menampilkan perilaku tersebut positif dalam pandangar individu tadi. Jika kita ingin mensosialisasikan hidup secara teratur dan disiplin maka caranya adalah dengan memberikan contoh. Di samping itu bisa juga menciptakan model yang layak untuk ditiru.

b.     Berdasarkan teori-teori perkembangan dan pembelajaran

Berdasarkan teori-teori perkembangan dan pembelajaran, sosialisasi di tahap awal melibatkan serangkaian tahapan. Setiap tahap akan memunculkan bentuk perilaku tertentu dan setiap manusia perilakunya berkembang melalui tahapan yang sama. Misalnya, tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Erik Ericson (1950), ada delapan tahapan. Tahap pertama pengembangan rasa percaya pada lingkungan, tahap kedua pengembangan kemandirian, tahap ketiga pengembangan inisiatif. tahap keempat pengembangan kemampuan psikis dan pisik, tahap kelima pengembangan identitas diri. Kelima tahapan tersebut terjadi pada saat sosialisasi di masa kanak-kanak. Tahap perkembangan setelah itu adalah tahap keenam merupakan pengembangan hubungan denaan or-ang lain secara intim, tahap ketujuh pengembangan pembinaan keluarga/keturunan, dan tahap kedelapan pengembangan penerimaan kehidupan.
Interaksi dengan manusia lain dalam proses sosialisasi merupakan satu keharusan. Interaksi senantiasa mengandalkan proses komunikasi dan salah satu alat komunikasi adalah bahasa. Kapasitas berbahasa seseorang dipengaruhi oleh akar biologis yang sangat dalam, namun pelaksanaan kapasitas tersebut sangat ditentukan oleh lingkungan budaya di mana kita dibesarkan. Berdasarkan teori perkembangan ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah di tahun pertama, yaitu tahapan sebelum seorang anak berbahasa (prelinguistic stage), yang disebut sebagai “sebelum berbahasa” karena bunyi yang dikeluarkan belum disebut kata-kata. Misalnya, “a-a-a-a, det-det-det, dan ga-ga-ga,”. Tahap kedua adalah tahap di mana anak sudah mulai belajar berjalan (toddlers) dan.mulai belajar bicara, misalnya “tu-tu” untuk kata “itu”, “dul” untuk kata”tidur”, dan “mi-mi” untuk kata “minum”. Di samping bahasa verbal, dalam tahapan itu juga anak sudah mulai menggunakan bahasa nonverbal (body language). Menganggukkan kepala untuk mengatakan ya dan menunjuk dengan jari untuk mengatakan itu. Tahap ketiga sebelum masuk sekolah, di mana anak sudah bisa bicara dengan kata-kata dan struktur bahasa yang sederhana serta terbatas pada apa yang diajarkan oleh keluarga. Tahap berikutnya terjadi setelah anak mulai sekolah.
Dalam tahapan ini anak memperoleh perbendaharaan kata yang lebih banyak. Mereka juga beiajar menyusun kata-kata secara lebih benar sesuai dengan ejaan yang secara umum digunakan oleh masyarakat luas.
Selain perkembangan dalam hal-hal tersebut, sebelumnya manusia mengalami perkembangan moral (moral development). Salah satu konsep yang banyak dibahas adalah teori yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg (1984).
c.    Berdasarkan teori interaksi simbolis
Asal teori interaksi simbolis dari disiplin sosiclcgi, yaitu satu teori yang memusatkan pada kajian tentang bagaimana individu menginterpretasikan dan memaknakan ineraksi-interaksi sosialnya. di dalam teori ini ditekankan bagaimana peran aktif seorang anak dalam sosialisasi. Sejak masa kanak-kanak, kita beiajar mengembangkan kemampuan diri. Menurut Herbert Mead (1934), ada tiga proses tahapan pengembangan diri yang memungkinkan seorang anak menjadi mampu berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial. Tahap pertama adalah preparatory stage, tahap kedua play stage, dan tahap terakhir adalah game stage.
Pada tahapan pertama, anak belum mampu memandang perilakunya sendiri. Mereka meniru perilaku orang lain yang ada di sekitamya dan mencoba memberikan makna. Anak juga mulai belajar menangkap makna dari bahasa yang digunakannya. Pada tahapan kedua, anak mulai beiajar berperan seperti orang lain. Berperilaku seperti ayahnya. ibunya, dan atau guru. Meialui berbagai oeran yang beraneka ragam itu anak mempelajari pola-pola perilaku individu lainnya. Adapun tahap Ketiga merupakan tahapan di mana anak melatih keterampilan sosialnya. Dia beiajar bagaimana memenuhi harapan orang lain yang jumlahnya tidak hanya satu.

Penulis :
Telah menulis sebanyak 39 artikel
Mendapatkan 146 komentar
  Rating tulisan 5 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>