Best Author
sangdedi

743,613
octa

486,265
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,167
dwi

313,549
adit

310,096
resta-andara

275,123
benedict

261,583
rahadian

240,910
bara

228,942
nabilalalala

216,882
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,175
suranto

100,765
admin

99,000
iwan

80,055
kupukupu

78,106

Tsunami

Apa Tsunami Itu?
” Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang secara harafiah berarti “ombak besar di pelabuhan” adalah sebuah ombak yang terjadi setelah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi di laut meletus, atau hantaman meteor di laut. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Dengan demikian, apabila gelombang menghampiri pantai, ketinggiannyameningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang tsunamibergerak pada kelajuan tinggi, sehingga hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saatmelintasi air dalam. Tsunami bisa menyebabkan kerusakan dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan kepulauan.Magnitudo tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4-24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.Yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis pensesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun. Hal-hal di atas merupakan pemicu terjadinya tsunami di daerah Kepulauan Seram, Ambon, Kepulauan Banda, dan Kepulauan Kai.Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba 1977). Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.Bukti menunjukkan tidak mustahil terjadinya mega tsunami, yang menyebabkan beberapa pulau tenggelam.

B.    Penyebab Terjadinya TsunamiTsunami dapat terjadi jika terjadi peristiwa yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air laut, seperti letusan gunung api di laut, gempa bumi di laut, longsor, maupun meteor yang jatuh ke laut. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.Gerakan vertikal pada kerak bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, di mana lempeng samudra menelusup ke bawah lempeng benua.Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh ke laut. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

C.   Tsunami dalam Sejarah Sebenarnya bencana tsunami sudah beberapa kali melanda dunia, namun karena jarak waktunya yang lama kemungkinan kita lupa bahwa ada bencanayang harus kita waspada terutama jika kita tinggal di pesisir pantai. Sejarah telah menulis bahwa telah terjadi peristiwa tsunami pada 1 November 1755. Tsunami tersebut telah menghancurkan Lisboa, ibu kota Portugal, dan menelan 60.000 korban jiwa. Kemudian pada 26 Agustus 1883 Indonesia mengalami tsunami akibat dari meletusnya Gunung Krakatau dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Oleh karena jarak yang terlalu lama dan kurangnya sosialisasi mengenai bahaya tsunami maka ketika terjadi tsunami pada tanggal 25-26 Desember 2004, gempa besar yang menimbulkan tsunami menelan korban jiwa lebih dari 250.000 di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Tsunami tersebut juga mencapai Lhoksumawedi ProvinsiNanggroeAceh Darussalam sehari setelah kejadian tsunami tersebut, paraprajurit TNI mencari jenazah korban baik yang berada di atas pohon maupun di rumah dan bangunan yang telah hancur. Kemudian yang terakhir terjadi di Indonesia yaitu pada tanggal 17 Juli 2006 gempa yang terjadi di selatan Pulau Jawa, menyebabkan tsunami setinggi 10 meter dan memakan korban jiwa lebih dari 500 orang.Berdasarkan katalog gempa (1629-2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami sebanyak 109 kali, yakni 1 kali akibat lo’ngsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi, dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik.

D.   Sistem Peringatan Dini
Si Amin terlihat terperangah ketika sedang menikmati sinetron favoritnya tiba-tiba muncul di televisi sebuah gambar yang menampilkan sebuah peringatan dari Badan Meteorologi Geofisika (BMG) Indonesia bahwa telah terjadi gempa dan berpotensi tsunami.Itulah salah satu usaha pemerintah Indonesia berupa iklan layanan masyarakat untuk memperingatkan kepada masyarakat agar sedini mungkin melakukan langkah antisipatif supaya tidak menimbulkan terlalu banyak korban ketika terjadi bencana.Kebanyakan kota di sekitar Samudra Pasifik, terutama di Jepang dan juga di Hawaii, mempunyai sistem peringatan dini dan prosedur pengungsian sekiranya tsunami diramalkan akan terjadi. Tsunami akan diamati oleh pelbagai institu siseismologi seluruh dunia dan perkembangannya di pantau melalui satelit.Perekam tekanan dasar yang menggunakan buoy sebagai’alat komunikasinya, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsupami pernah dicoba di Hawaii pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika Serikat membuat Pasific Tsunami Warning Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965.Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project dipasang di pantai barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawaii oleh USGS, NOAA, dan Pacific Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik universitas.Hingga kini, sistem prediksi tsunami masih merupakan ilmu yang tidak sempuma, dalam arti belum dapat sepenuhnya mendeteksi kejadian tsunami. Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar perpindahan massa air yang terjadi. Walaupun begitu, karena faktor alamiah yang sering tak termodelkan dan tak terduga, sering terjadi peringatan palsu.

Penulis :
Telah menulis sebanyak 45 artikel
Mendapatkan 102 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>