Best Author
sangdedi

743,621
octa

486,319
fitrotinnikm

456,615
idjah

445,181
dwi

313,561
adit

310,130
resta-andara

275,261
benedict

261,583
rahadian

240,948
bara

228,942
nabilalalala

216,892
kurnitap_

154,132
kuswanto

140,247
suranto

100,765
admin

99,012
iwan

80,055
kupukupu

78,106

CERPEN : Keberjodohan

Kinanti tak beranjak dari tempat duduknya. Pandangan matanya sayu, wajahnya beku. Ia merapatkan kedua kakinya dengan perut. Ia juga menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Pikirnya, agar tak ada orang yang mengetahui kesedihannya malam ini. Di tepian dekat jendela kamar, hanya berteman dengan angin malam dan purnama yang masih setia menemaninya. Matanya dibuat tegar agar tak ada lagi air yang tertumpah deras membanjiri lekuk wajahnya. Agar ia lekas lupa dengan hari-hari sebelumnya. Pun demikian juga dengan hatinya, terkunci rapat-rapat agar tak ada seorangpun yang berkunjung malam-malam ini. Lalu, suara-suara kesakitan dan kepahitan tak didengarnya. Itu semua hanya membuatnya semakin benci dan risih, terlebih sosok bertubuh jangkung yang mengenalnya luar-dalam beberapa tahun ini. Dan secarik surat yang digenggamnya kini tergolek lemas di atas karpet kamarnya. Ia baru saja meremas dan mencabi-cabik menjadi serpihan-serpihan kecil. Beterbangan di udara, lalu terhempas berpencar memenuhi sudut-sudut kamarnya. Ia masih tak terima dengan keputusannya. Orang yang berhasil merenggut bilah hatinya. Orang yang bersedia membagi kebahagiaannya. Orang yang senantiasa menyanyikan lagu favoritnya sebelum beranjak tidur. Orang yang terkasihi oleh Tuhan maupun oleh dirinya sendiri. Teramat berharga.

Dering panggilan telepon beberapa kali ia biarkan begitu saja. Berapa kali ia harus mendengar ucapan bernada sok tabah dan sabar dari kerabat dekat dan teman seperjuangan semasa kuliah. Sebab mereka yang mengatakan dan mencoba menenangkannya itu tak tahu-menahu apa yang saat ini ia rasakan. Orang mana yang tak pingsan mendengar berita duka pagi buta tadi? Bahkan hampir saja rohnya berhasil dicuri malaikat. Hampir, jika saja dokter langganan orang tuanya tak datang tepat waktu. Namun, nyatanya Kinanti sedang beruntung hari ini.

Dirasakannya ngilu sekujur tubuhnya, gemetar hebat layaknya pemakai obat-obatan terlarang. Bahkan, ia yang sekarang setengah gila. Untuk sekadar melihat kenyataan dari dunia yang kejam. Bengis. Tak memandang umur, pangkat, status sosial, atau harta yang dimiliki. Tuhan memang tak adil baginya. Kinanti merasa tak salah, ia bukanlah egois untuk memperkarakan ini. Tapi, Kinanti merasa dikhianati. Kinanti teriang pada baris terakhir: cintailah aku sampai mati!

“Hah..,tak ada manusia yang sejernih air pikirannya. Mengapa kamu bisa berkata demikian? Aku memang terbiasa menyimak ujaran halusmu, namun untuk kali saja aku tak mau memepercayaimu,” lirih Kinanti melalui hati kecilnya.

Kinanti masih belum beranjak. Untuk sekadar mengambil minum atau cemilan. Bukan ia sedang diet atau karena kurang bernafsu menghabiskan sepiring nasi goreng kesukaannya. Atau mungkin saja melumat koleksi buku-buku yang dimiliknya. Mulai dari buku sastra, ensiklopedia, kumpulan cerpen dan catatan harian yang Dewa buat untuk Kinanti, atau buku berjudul mantra bahagia yang Kinanti dapatkan dari seorang karibnya. Bahkan satu-dua barang pemberian Dewa Bagaskara tak tersentuh oleh tangannya yang halus. Sehalus benang sutra seperti kebanyakan. Apapun itu, ia tak memiliki gariah. Sedikitpun ia tak mempedulikannya. Apalagi untuk tersenyum. Kalaupun iya, senyumnya mengejek yang dicintainya, kemudian celoteh dan candaan yang Dewa tulis lewat surat itu, Kinanti tertawakan dengan sinis. Kecendurungan Kinanti untuk bergantung pada raga lain amatlah besar. Ia belum bisa menerima takdir Tuhan lewat perantara malaikat. Terlepas setiap sedu sedan yang ia goreskan lewat mimik wajahnya, muncul gambaran setengah jiwanya terbagi dua. Satunya bijaksana, satunya lagi membelot melakukan tindakan di luar akal manusia. Minum racun atau lompat dari apartemen!

“Cara inilah yang kau pilih untuk mengurangi sedikit kesakitan di dadaku? Sudahkah kau berpikir secara matang? Apa kau butuh bantuanku untuk menghitung harus berapa kali kau berpikir sedemikian presisi dan penuh pretensi? Aku lelah. Teramat lelah. Kau berbeli-belit mengatakannya,” Kinanti bicara pada kaca jendela, pada bayangannya sendiri.

Ketiba bayangan dirinya tertawa, entah Tuhan menghardik ucapannya atau iblis di tangan kirinya, sebuah pajangan jatuh dari kaitnya. Kurang lebih ukurannya 20x30cm, di sekitar bingkainya penuh dengan coretan bebungaan kesukaan Kinanti. Di belakang bingkainya tersirat deretan angka-angkan dan sepatah dua patah kalimat:

            10-10-2010

            Aku, kau, dan Keraton Yogyakarta.

            Don’t forget this moment.

Tangisnya semakin menjadi-jadi, pecah seperti kaca yang membingkai, sekaligus pelindung agar kenangan dalam bentuk kertas itu tak luntur catnya. Anehnya, meski pelindungnya telah retak, bingkai yang membungkus di dalamnya masihlah menarik di mata dan hatinya. Secepat kilat, Kinanti meninggalkan bayangannya. Otaknya memerintahkan mengambil pajangan itu. Dengan pelan-pelan diangkatlah bingkai itu, lalu tangannya mengelus kaca yang telah retak secara lembut. Ia  bergegas merengkuh sosok bertubuh jangkung dalam gambar itu. Didekapnya erat-erat, penuh keyakinan jika doa yang senantiasa ia kirim ke Tuhan mampu terkabulkan agar terkasihnya selamat di dunia maupun akhirat.  Ia sangat yakin, Dewa Bagaskara akan menjadi malaikat di kemudian hari. Ia akan menjaga Kinanti di setiap malam, menemani dirinya bercengkrama dengan waktu, berlarian mengejar angan-angan, dan segenap rasa yang semakin membuncah terwujudkan di pelaminan. Semua terangkum pada Dewa Bagaskara.

“Kau tahu, ini milik kita saja. Hanya kita berdua. Berisikan kisah perjalanan yang telah kita arungi selama ini. Tentu sebelum kau menjatuhkan dalam pelukku, aku masih tersenyum. Seperti katamu yang memaksaku untuk terus tersenyum, sepahit apapun itu keadaanku. Aku lakukan, namun tidak untuk saat ini. Kau jahat! Jahat, Bagas,” jemari tangan Kinanti mulai mengucurkan darah. Lebih deras dari isak tangisnya.

“Tahukah kau? Apa yang sekarang ini aku ingin lakukan? Aku ingin terbang bersama angin malam. Aku harap, kau tangkaplah aku, dekaplah aku penuh kehangatan. Sebelum aku menjerit lebih keras di hadapan calon mertuaku.”

 ***

Cerita-cerita lainnya bisa juga dibaca di icalpbsi.blogspot.com

Penulis :
Telah menulis sebanyak 2 artikel
Mendapatkan 0 komentar
  Rating tulisan 0 dari 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>