Monthly Archives: June 2011

Gaya belajar pada anak

Belajar di bidang formal tidak selalu menyenangkan. Apalagi jika kamu harus belajar dengan terpaksa. Misalnya, kamu harus belajar, karena itulah satu-satunya cara untuk lulus, mendapat pekerjaan atau bahkan kenaikan pangkat. Contoh lain dari keterpaksaan adalah jika kamu menyukai belajar di kelas sedangkan kamu terpaksa kuliah di Universitas Terbuka (UT) yang mempunyai sistem belajar jarakjauh.
Menghadapi keterpaksaan untuk belajar jelas bukan hal yang menyenangkan. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk berkonsentrasi belajar jika ia merasa terpaksa. Oleh karena itu, kamu perlu mencari jalan bagaimana agar belajar menjadi hal yang menyenangkan, atau …. walaupun tetap terpaksa, tapi dapat menjadi lebih mudah dan efektif.
Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar sebagai cara untuk mencari jalan agar belajar menjadi hal yang mudah dan menyenangkan. Sebagaimana kita ketahui, belajar membutuhkan konsentrasi. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajarmu. Jika kamu mengenali gaya belajar, maka kamu dapat mengelola pada kondisi apa, dimana, kapan, dan bagaimana kamu dapat memaksimalkan belajarmu. Apa gaya belajar itu?

Cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut.
Atau
Cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut.

Gaya belajar setiap orang dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan . Jadi ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diubah dalam diri seseorang bahkan dengan latihan sekalipun. Tetapi ada juga hal-hal yang dapat dilatihkan dan disesuaikan dengan lingkungan yang terkadang justru tidak dapat diubah.
Mengenali gaya belajar sendiri. belum tentu membuat kamu menjadi lebih pandai. Tapi dengan mengenali gaya belajar, kamu akan dapatmenentukan cara belajaryang lebih efektif. Kamu tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar secaramaksimal, sehinggahasilbelajarmu dapat optimal.
Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.
1.    Visual (belajar dengan cara melihat)
Lirikan ke atas bila berbicara; berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/ penglihatan (visual). Dalam hai mi metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke objek-objek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang rnempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar. dan video Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi,
Ciri-ciri gaya belajar visual:
a.    Bicara agak cepat
b.    Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
c.    Tidak mudah terganggu oleh keributan
d.    Mengingatyang dilihat, dari pada yang didengar
e.    Lebih suka membaca dari pada dibacakan
f.    Pembaca cepat dan tekun
g.    Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
h     Lebih suka meiakukan demonstrasi daripada pidato
i.     Lebih suka musik daripada seni
j.    Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta     bantuan orang untuk mengulanginya.
Strategi untuk mempermudah proses belaiaranak visual:
k.  Gunakan materi visual, seperti gambar-gambar, diagram dan peta
I.   Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
m.  Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi
n.   Gunakan multimedia (contohnya’komputer dan video)
o.   Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam   gambar

2.    Auditori (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan ke kiri/ke kanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang-sedang saja. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya). Untuk itu guru sebaiknya harus memerhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan mejalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset. Ciri-ciri gaya belajar auditori:
a.     Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
b.     Penampilan rapi
c.     Mudah terganggu oleh keributan
d.     Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
e.     Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
f.     Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
g.     Biasanya ia pembicara yang fasih
h.     Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
i.      Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
j.      Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
k.     Berbicara dalam irama yang terpola
I.      Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori:
m.    Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
n.     Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
0.     Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
p.     Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
q.     Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kasetdan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

3.    Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan ke bawah jika berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
a.    Berbicara perlahan
b.    Penampilan rapi
c.    Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
d.    Belajar melalui memanipulasi dan praktek
e.    Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
f.     Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
g.     Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
h.     Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
i.      Menyukai permainan yang menyibukkan
j.      Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
k.     Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang  mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak’kinestetik:
a.    Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
b.    Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil
bersepeda, gunakan objek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
c.    Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
d.    Gunakan warna terang untuk meng-high high hal-hal penting dalam bacaan.
e.    Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Ada beberapa gaya belajar yang biasa dilakukan orang antara lain :
1.    Belajar dengan Kata-Kata
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.
2.    Belajar dengan Pertanyaan
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat jika itu diiakukan dengan cara bermain dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing ke’inginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiap kali muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil akhir atau kesimpulan.
3.    Belajar dengan Gambar
Ada sebagian orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu.
4.    Belajar dengan Musik
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya men^egarkan musik jazz, ialu tergeliik bagaimana lagu itu dibuat, siapa yang membuat, di mana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu.
5.    Belajar dengan Bergerak
Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untnk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika kamu termasuk kelompok yang aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti menari atau berolahraga.
6.    Belajar dengan Bersosialisasi
Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.
7.    Belajar dengan Kesendirian
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempatyang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika kamu termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantumu bisa belajar secara mandiri.

Bakat & Minat pada anak

Setiap anak lahir dengan potensi dan bakatnya masing-masing. Sayang, tidak setiap orang tua dengan mudah memahaminya. Akibatnya banyak bakat yang tidak dapat terdeteksi sejak dini atau bahkan hilang begitu saja. “Tak ada jaminan bahwa bakat anak saat ini adalah bakatnya hingga dewasa”. Menurut Psikolog Verauli, M.Psi, perubahan ini sesuai dengan kondisi usia anak tersebut.Menurut Verauli, bakat anak bersifat majemuk, tergantung peran orang tua untuk membantu mengarahkan potensi yang dimiliki si anak, dapat mencakup, antara lain
1.    bakat musik;
2.    berpikir logis matematis;
3.    interpersonal;
4.    intrapersonal, dan sebagainya.

Penyebab utama bakat-bakat tidak tampil, alias terpendam hingga dewasa, antara lain:
1.    Ketidakpekaan orang tua terhadap bakat buah hatinya;
2.    Tempat tinggal atau lingkungan yang minim fasilitas penunjang;
3.    Lemahnya atau kurangnya pendidikan dan pelatihan.

Secara umum bakat adalah kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang atau individu untuk mencapai keberhasilan masa depan. Dengan demikian setiap orang dapat memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai tingkat tertentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bakat juga dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melaksanakan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat dapat berkembang jika mendapat kesempurnaan iatihan, pengalaman, pengetahuan dalam bidang tersebut.
Minat dan bakat memiliki perbedaan. la berbakat. Tapi, jika ketertarikannya hanya sesaat saja, berarti itu hanya minat. Anak yang berbakat, lanjutnya, biasanya memiliki kemampuan di atas rata-rata dan cerdas. Ciri-ciri anak berbakat, antara lain
1.    Dapat dengan mudah menangkap informasi yang disajikan;
2.    Memiliki ingatan yang baik;
3.    Memiliki penalaran tajam;
4.    Mampu berkonsentrasi dan senang mempelajarinya.

Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderunganyang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif anak terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memerhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang. Meichati mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif, dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melalukan suatu aktivitas.
Aspek minat terdiri atas aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu objek dan berpusat pada manfaat dari objek tersebut. Aspek afektif nampak dalam rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap objek tersebut.
Orang tua harus tahu perbedaan antara anak yang cerdas dan kreatif.. Anak yang cerdas belum tentu kreatif. Begitu juga sebaliknya, anak yang kreatif belum tentu cerdas. Anak yang kreatif biasanya memiliki rasa ingin tahu yang besar, punya banyak ide dan gagasan, serta mampu mengembangkan ide dan gagasannya tersebut. la juga memiliki daya imajinasi yang kuat, serta selalu senang mencoba hal-hal baru.
Ciri-ciri intelektual/belajar: mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.
Ciri-ciri kreativitas: dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan) dan sebagainya. Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperiihatkan anak-anak lain, dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
Ciri-ciri motivasi: tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya). Senang dan rajin beiajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Kecerdasan pada manusia

kecerdasan

Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.
Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg dan Slater mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif.
Kecerdasan dapat dibagi dua yaitu kecerdasan umum biasa disebut sebagai faktor-g maupun kecerdasan spesifik. Akan tetapi pada dasarnya kecerdasan dapat dipilah-pilah. Berikut ini pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:
1.    Pemahaman dan kemampunn verbal
2.    Angkadan hitungan
3.    Kemampuan visual
4.    Daya ingat
5.    Penalaran
6.    Kecepatan perseptual
Skala Wechsleryang umum dipergunakan untuk mendapatkan taraf kecerdasan membagi kecerdasan menjadi dua kelompok besar yaitu kemampuan kecerdasan verbal (VIQ) dan kemampuan kecerdasan tampilan (PIQ)
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu sebagai berikut :
1.    Biologis
2.    Lingkungan
3.    Budaya
4.    Bahasa
5.    Masalah etika

Kecerdasan tidak hanya diukurdari nilai akademis saja. Macam-macam kecerdasan antara lain :
1.    Kecerdasan Linguistik
Kemampuan dalam menggunakan bahasa untuk menceritakan suatu kejadian, membangun kepercayaan, dan kedekatan, mengembangkan argumen logika dan mengungkapkan ekspresi. Kemampuan ini seperti yang terlihat pada jaksa, wartawan, reporter, salesman, atau guru.
2.    Kecerdasan Logika Matematika
kemampuan menggungan angka-angka untuk menghitung, menggunakan dan menerapkan konsep matematis dalam kehidupan sehari-hari, menganalisis berbagi permasalahan secara logis, serta menelaah berbagai permasalahan secara ilmiah. Kemampuan ini dibutuhkan oleh seorang akuntan, ahli statistik, ilmuwan dan pedagang.
3.    Kecerdasan Musikal
Kemampuan mengembangkan teknik musikal, merespon dan menginterpretasi musik bentuk dan ide, serta menciptakan pertunjukan dan komposisi yang ekspresif. Kemampuan yang menonjol di bidang ini membawa anak melangkah dalam menekuni dunia musik.
4.    Kecerdasan Ruang atau Spasial
kemampuan mengenali pola ruang secara akurat, menginterpretasikan ide gratis serta menerjemahkan pola ruang secara tepat. Kemampuan yang menonjol di bidang ini ditemukan pada orang-orang yang berprofesi sebagai arsitek, perancang busana, pembuat film.
5.    Kecerdasan Kinestesis
Kemampuan menggunakan seluruh atau sebagian dari tubuh untuk melakukan sesuatu, membangun kedekatan serta mendukung orang lain menggunakannya untuk menciptakan bentuk ekspresi baru. Kelak kemampuan ini dibutuhkan jika menjadi perajin, aktor, penari atau koreografer tari.
6.    Kecerdasan Interpersonal
Kemampuan untuk mengorganisasikan orang lain dan mengomunkasikan secara jelas apa yang perlu dilakukan, berempati pada orang lain, membedakan dan menginterpretasikan berbagai jenis komunikasi dengan orang lain, memahami hasrat dan motivasi orang lain. Anak yang terasah kecerdasan interpersonalnya kelak dapat menjadi seorang politisi, manajer, diplomat, guru atau konsultan
7.    Kecerdasan Intrapersonal
Kemampuan menilai, kelemahan, bakat, ketertarikan diri sendiri serta menggunakannya untuk menentukan tujuan, menyusun dan mengembangkan konsep dan teori berdasarkan pemeriksaan ke dalam diri sendiri. Kemampuan untuk memahami perasaan, intuisi, temperamen dan menggunakannya untuk mengeskpresikan pandangan pribadi seperti tampak pada ahli filsafat, psikolog dan penulis.
8.    Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenali, mengelompokkan, dan menggambarkan berbagai macam keistimewaan yang ada dalam lingkungannya. Anak yang memiliki kecerdasaran naturalia ini kelak dapat menjadi ahli biologi atau konservasi lingkungan.
Setiap kecerdasan memiliki gaya belajartersendiri yang sesuai dengan kecerdasan yang ada dalam diri masing-masing pribadi.

1.    Gaya Belajar Kecerdasan Linguistik
a.    Mengarang puisi, merangkum pelajaran, menulis kisah sejarah
b.    Suka bercerita panjang lebar dan berkisah
c.    Menyukai permainan kata-kata
d.    Suka membaca buku
e.    Banyak bicara
f.    Cepat menangkap pelajaran yang disampaikan lewat penuturan

2.    Gaya Belajar Kecerdasan Matematis Logis
a.    Menyukai pelajaran berhitung
b.    Mudah memahami cara kerja komputer
c.    Suka memikirkan hal dan kejadian yang berkaitan sebab akibat
d.    Pandai bermain catur, halma dan berbagai permainan strategis lain
e.    Menjabarkan segala sesuatu secara logis
f.    Cepat memahami pelajaran I PA dan matematika
g.    Suka bereksperimen terhadap apa yang ingin diketahui

3.    Gaya Belajar Kecerdasan Spasial
a.    Menonjol dalam bidang seni
b.    Mampu menggambarkan secara visual segala sesuatu
c.    Mudah membaca peta, grafik, dan diagram
d.    Menggambar sosok orang atau benda sesuai aslinya
e.    Senang melihat film, slide atau foto
f.    Menyukai teka teki, jigzaw, maze dan puzzle
g.    Asyik dengan permainan konstruksi 3 dimensi seperti lego
h.    Terbiasa mencoret-coret kertas jika jenuh
i.    Lebih mudah membaca gambar dari pada kata

4.    Gaya Belajar Kecerdasan Kinestetis-Jasmani
a.    Kompetitif dalam bidang olahraga
b.    Suka menggerak-gerakkan anggota badan di luar sadar
c.    Sangat ingin menyentuh benda yang sedang dipelajari
d.    Menikmati gerakan atletik atau sekadar menontonnya
e.    Lebih mampu dalam bidang kerajinan tangan motorik halus
f.    Suka menirukan gerakan dan kebiasaan orang
g.    Gemar membongkar dan menyusun kembali benda-benda

5.    Gaya Belajar Kecerdasan Musikal
a.    Mudah mengikuti melodi lagu
b.    Menyukai pelajaran musik dan menyanyi
c.    Menyukai belajar dengan iringan musik
d.    Suka menyanyi baik untuk diperdengarkan atau tidak
e.    Mudah mengikuti irama musik
f.    Peka terhadap beragam suara, irama dan nada
g.    Cepat merespon berbagai jenis musik

6.    Gaya Belajar Kecerdasan Intrapersonal
a.    Pandai menyenangkan hati teman
b.    Mudah beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru
c.    Suka bersosialisasi dengan lingkungan sekolah dan rumahnya
d.    Menyukai kegiatan dan permainan kelompok
e.    Bisa memahami dan berempati pada perasaan teman
f.    Mampu bersikap netral di tengah pertikaian antar teman
g.    Memiliki kemampuan mengkoordinir dan memimpin teman-temannya.

7.    Gaya Belajar Kecerdasan Interpersonal
a.    Mampu memimpinorganisasi
b.    Cara berpikir dengan melontarkan gagasan keorang lain
c.    Dapat berhubungan baik dengan orang lain
d.    Membutuhkan teman
e.    Tertarik dengan kegiatan kemasyarakatan

8.    Gaya Belajar Kecerdasan Natural
a.    Peka terhadap benda-benda alam
b.    Suka memelihara binatang piaraan
c.    Suka berkebun, berada di dekat kebun atau menikmati gambarnya
d.    Menikmati sistem kehidupan seperti akuarium
e.    Mengoleksi gambar, foto yang berkaitan dengan benda-benda alam
f.    Suka mengumpulkan dan membawa pulang daun, batang, ranting, rumput atau bunga
g.    Suka bermain-main dan berkreasi dengan bahan-bahan alam

Salam Hangat

Salam..

Ini posting pertama saya. situs ini, bagaimanapun sangat bermanfaat bagi saya. walaupun saya bukan orang yang pinter dalam penguasaan ilmu pengetahuan, paing tidak dari situs ini saya tahu kalau ternyata ada banyak orang yang seperti saya, yang sangat berhasrat buat jadi pinter tidak peduli kapan baru kesampaian.

Waktu liat top membernya, ternyata rata-rata didapatkan oleh kawan-kawan dari bidang eksak. Sedih juga melihat itu, padahal saya berharap ada “orang” sosial juga dalam list itu, but. who care? mereka emang sangat layak. tulisannya bagus-bagus, bagusan itu malah dari buku-buku teks standar (IMOP).

Okey, barangkali ini aja dulu. catch you later!…

Hukum permintaan dalam pasar

1. Arti Permintaan

Permintaan yaitu jumlah barang atau jasa yang ingin dibeli pada berbagai tingkat harga, waktu, dan tempat tertentu.

2. Pembagian Permintaan

a. Berdasarkan kemampuan atau daya beli

Berdasarkan kemampuan atau daya beli, permintaan dibagi menjadi permintaan potensial, permintaan efektif, dan permintaan absolut.

1) Permintaan Potensial

Permintaan potensial adalah permintaan yang masih berbentuk keinginan atau belum direalisasikan oleh konsumen.

2) Permintaan Efektif

Permintaan efektif adalah permintaan yang diikuti oleh daya beli.

3) Permintaan Absolut

Permintaan absolut adalah permintaan yang tidak diikuti dengan kemampuan untuk membeli.
Contoh, seseorang berkeinginan membeli dan memiliki mobil, tetapi dia tidak ada kemampuan untuk membeli mobil tersebut.

b. Berdasarkan jumlah permintaan

1) Permintaan Individu

Permintaan individu adalah permintaan seseorang terhadap suatu barang/jasa pada harga, saat dan tempat tertentu.

2) Permintaan Masyarakat

Permintaan masyarakat adalah permintaan sejumlah individu terhadap suatu barang/jasa pada harga, waktu, dan tempat tertentu.

3. Faktor-faktor yang Menentukan Permintaan

Setelah membahas macam-macam permintaan. kita perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang memerlukan permintaan. Faktor-faktor yang memerlukan permintaan adalah harga barang itu sendiri, harga barang substitusi, jumlah penduduk. selera masyarakat, dan peradaban.

pasar

a. Harga Barang itu Sendiri

Pada saat tingkat harga barang menurun. sedangkan hal-hal lain tetap, maka permintaan akan meningkat. Sebaliknya, bila harga barang itu naik permintaan turun.

b. Harga Barang Substitusi

Bila harga barang lain yang memiliki keterkaitan dengan barang tersebut naik, maka permintaan terhadap barang tersebut akan naik. Contoh, bila harga bahan bakar gas naik, orang akan beralih ke minyak tanah sehingga permintaan terhadap minyak tanah akan naik. BBM adalah barang substitusi BBG.

c. Jumlah Penduduk

Bila jumlah penduduk naik, maka permintaan terhadap benda dan jasa naik. Keadaan tersebut akan mengakibatkan kenaikan harga, bila hal-hal lain tidak berubah (Ceteris paribus).

d. Selera Masyarakat

Bila selera masyarakat terhadap suatu barang naik, permintaan terhadap barang tersebut akan naik dan dan diikuti dengan kenaikan harga. Sebaliknya, bila selera masyarakat terhadap barang tersebut turun, maka akan diikuti dengan menurunnya permintaan dan harga barang tersebut.

e. Pendapatan

Bila pendapatan individu dan masyarakat naik, daya beli dan permintaan terhadap barang dan jasa akan naik. Sebaliknya, karena krisis ekonomi, pengurangan jam kerja, dan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) mengakibatkan pendapatan hilang atau turun, sehingga daya beli dan permintaan cenderung menurun.

4. Hukum Permintaan

Hukum permintaan menjelaskan hubungan antara harga dan permintaan. Hukum permintaan menyatakan bahwa bila harga mengalami kenaikan, permintaan akan mengalami penurunan. Demikian pula sebaliknya, bila harga mengalami penurunan, permintaan akan mengalami kenaikan. Hal ini dapat terjadi selama faktor faktor lain tetap (ceteris paribus).

Hukum permintaan tidak berlaku, bila hal-hal lain berubah. Misalnya pendapatan berubah. Contoh, pada saat harga kemeja @ Rp20.000.00 permintaan 40 buah. Namun, pada saat harga naik menjadi @ Rp22.000,00 permintaan turun menjadi 30 dengan demikian harga naik sebesar 10% (2.000/20.000 x 100%), sedangkan permintaan mengalami penurunan sebesar 25% (10/40 x 100%). Namun bila pendapatan misalnya naik rata-rata 20%, sedangkan harga naik 10%, belum tentu permintaan stabil atau naik. itulah sebabnya hukum permintaan (demikian pula hukum ekonomi lainnya) selalu didahului dengan ceteris paribus.

Dampak Gagasan dan Aktivitas Organisasi Pergerakan Nasional

Dengan keyakinan bahwa perjuangan yang dilakukan bersama akan lebih mudah untuk mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia maka pada tanggal 17-18 Desember 1927 dibentuklah suatu Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Perhimpunan ini terdiri atas beberapa organisasi pergerakan nasional, seperti PSII, BU, PNI, Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Kaum Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia.
PPPKI diharapkan mampu mempersatukan dan menjadikan gerakan politik nasional berada dalam satu koordinasi yang baik. Dalam perkembangan selanjutnya, PPPKI tidak mampu mewujudkan cita-citanya, hal ini disebabkan adanya pertentangan antara tokoh-tokoh partai yang tergabung di dalamnya. Tekanan dari Pemerintah Hindia Belanda juga menjadi salah satu sebab semakin menurunnya peran perhimpunan ini dalam pergerakan nasional Indonesia. Upaya untuk meraih kemerdekaan terus dilakukan, baik melalui perjuangan kooperatif maupun nonkooperatif. Belanda selalu menutup jalan dan melakukan penekanan terhadap gerakan nonkooperatif, sementara terhadap gerakan yang kooperatifpun diwajibkan selalu minta izin jika akan mengadakan kegiatan. Hal tersebut membuat kesal para tokoh pergerakan sehingga melalui Volksraad (Dewan Rakyat), partai-partai yang tergabung dalam PPPKI mengeluarkan petisi tanggal 15 Juli 1936. Petisi yang dikenal sebagai Petisi Sutardjo itu ditandatangani oleh Sutarjo, I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, Datuk Tumenggung, dan Kwo Kwat Tiong, berisi usulan kepada Pemerintah Belanda untuk membahas status politik Hindia Belanda sepuluh tahun mendatang. Dapat dipastikan bahwa Belanda menolak Petisi tersebut sehingga membuat para tokoh pergerakan kecewa.
Gagalnya Petisi Sutardjo merupakan tantangan bagi para tokoh pergerakan nasional. Untuk mengatasi kekecewaan tersebut maka para tokoh pergerakan nasional mendirikan organisasi baru, yaitu Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada tanggal 21 Mei 1939. GAPI merupakan gabungan dari Parindra (Partai Indonesia Raya), Gerakan Indonesia (Gerindo), Persatuan Minahasa, Partai Islam Indonesia (Pll), Partai Katolik Indonesia, Pasundan, dan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Langkah yang ditempuh GAPI adalah mengadakan Kongres Rakyat Indonesia (KRI).
Tujuan dari Kongres Rakyat Indonesia adalah Indonesia Berparlemen. GAP1 menuntutapar rakyat Indonesia diberikan hak-hak dalam urusan pemerintahannya sendiri. Keputusan penting lain setelah Indonesia Berparlemen adalah penetapan merah putih sebagai bendera Indonesia Lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, dan penggunaan bahasa Indonesia bagi seluruh rakyat di Hindia Belanda. Tuntutan GAPI ditanggapi oleh Pemerintah Belanda dengan Komisi Visman. Komisi ini bertujuan untuk menyelidiki keinginan bangsa Indonesia. Ternyata komisi bekerja tidak jujur dan lebih memihakkepada Belanda. Pemerintah Hindia Belanda hanya berjanji akan memberikan status dominion kepada Indonesia di kemudian hari. Pergerakan Nasional indonesia tidak terlepas dari peranan pers dan peranan wanita.
Padatahun 1909, E.F.E Douwes Dekker (DanudirjaSetiabudi) memberikan sebuah uraian awal tentang pers di Indonesia, bahwa kedudukan pers berbahasa Melayu lebih penting dari pada pers Belanda karena dengan berbahasa Melayu simpati dari kalangan pembaca pribumi lebih besar. Perkembangan pers bumiputra yang berbahasa Melayu menimbulkan pemikiran di kalangan Pemerintah Kolonial untuk menerbitkan sendiri surat kabar berbahasa Melayu yang cukup besar dengan sumber-sumber pemberitaan yang baik. Menurut Douwes Dekker, secara kronologis surat kabar berbahasa Melayu yang tertua adalah Bintang Soerabaa (1861) dengan pokok pemberitaan mengenai usaha menentang pemerintah dan pengaruhnya terhadap orang-orang Cina di Jawa Timur. Kemudian berikutnya adalah Pewarta Soetabaja (1902) dengan pembacanya terbanyak dari masyarakat Cina. Salah satu surat kabar yang terpenting adalah Kabar Perniagaan (1902), ada pula mingguan oposisi Ho-Po. Pelopor pers nasional adalah Medan Prijaji yang dipimpin oleh R.M. Tirtoadisuryo, yang terbit tahun 1907 sebagai mingguan, dan sejak 1910 menjadi surat kabar harian. Sementara itu, surat kabar yang membawa suara pemerintah dalam bahasa Melayu adalah Pancaran Warta (1901) dari Bentara Hindia (1901). Peranan Pers dalam usaha membantu menumbuh kembangkan kesadaran nasional cukup besar artinya bagi langkah perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Ada keterkaitan yang erat antara pers nasional dengan pergerakan-pergerakan kebangsaan sebagai penerus ide-ide nasionalisme.
Berbagai macam bentuk organisasi pemuda tumbuh dan berkembang di nusantara. Pergerakan pemuda yang bercita-cita mencapai kemerdekaan tidak hanya terbentuk di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Didorong oleh semangat persatuan dan kesatuan bangsa maka organisasi pemuda mengadakan Kongres Pemuda I di Jakarta pada tanggal 30 Apci sampai 2 Mei 1926. Kongres pertama telah berhasil menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, mereka menyadari bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuanlah bangsa Indonesia akan kokoh dan kuat dalam menghadapi segala bentuk rintangan.
Pada bulan Oktober 1928, secara resmi kegiatan-kegiatan budaya dan politik ke arah persatuan Indonesia disatukan pada Kongres Pemuda II yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 26-28 Oktober 1928. Pada rapat tersebut dihasilkan Sumpah Pemuda, di mana disetujii tiga pengakuan, yaitu satu tanah air, Indonesia; satu bangsa, Indonesia; dan satu bahasa, bahasa persatuan bahasa Indonesia. Dalam Kongres Pemuda II ini hadir wakil-wakil organisasi, seperti PN!, Budi Utomo, Pasundan, Partai Serikat Islam (PSI), dan Serikat Minahasa. Hadir pula tokoh-tokoh Belanda yang terkenal, seperti Van der Plas dan J.E. Stokvis.
Sumpah Pemuda ini merupakan sebuah momentum yang sangat penting karena sejak saat itu telah timbul suatu perasaan kebangsaan dan perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan semakin nyata. Untuk lebih jelasnya berikut ini dicantumkan hasil Kongres Pemuda Indonesia II yang disetujui pada tanggal 28 Oktober 1928.

TINGKATAN DAN MACAM-MACAM NORMA DALAM MASYARAKAT

Kita telah membahas tentang hakikat norma sosial. Namun, mungkin kalian bertanya bagaimana proses terjadinya suatu norma dalam masyarakat? Adakah tingkatan norma dalam masyarakat dan apa saja jenis-jenis norma yang umumnya berlaku dalam masyarakat? Kita akan coba mencari jawabannya dalam uraian ini.

A. Tingkatan Norma
Pada mulanya norma terbentuk secara tidak terencana. Pada saat itu, norma hanya sebagai konsekuensi hidup bersama. Aturan atau norma ini hanya berupa perintah lisan dari orang yang lebih tua atau orang yang dituakan. Lama-kelamaan, perintah lisan tersebut berkembang menjadi aturan atau norma tertulis yang sengaja dibuat agar lebih mudah dipelajari dan tidak mudah untuk berubah-ubah. Dengan demikian, diandaikan akan adanya kepastian dalam pelaksanaannya. Sebagai contoh, dalam praktik jual beli, pada mulanya perantara (calo) tidak mendapat keuntungan dari penjual maupun pembeli. Apabila ada imbalan, itu hanya sebatas kerelaan saja. Namun, lama-kelamaan perantara tersebut mendapat bagian keuntungan dan imbalan jasa dengan jumlah tertentu dari transaksi yang terjadi. Akhirnya, memberi upah bagi calo merupakan sesuatu yang lazim berlaku dalam proses jual beli.
Dilihat dari kekuatan mengikat terhadap anggota masyarakat, norma dibedakan menjadi beberapa tingkatan, yaitu cara, kebiasaan, dan tata kelakuan.
1.    Cara (usage) adalah norma yang paling lemah daya pengikatnya karena orang yang melanggar hanya mendapat sanksi dari masyarakat berupa cemoohan atau ejekan saja. Cara atau usage menunjuk pada suatu perbuatan yang berkaitan dengan hubungan antarindividu dalam masyarakat. Sebagai contoh, ketika sedang makan orang yang bersendawa atau mengeluarkan bunyi tertentu sebagai tanda kenyang. Tindakan tersebut bagi masyarakat tertentu dianggap tidak sopan. Sanksi terhadap tindakan ini berupa sikap tersinggung dan cemoohan.
2.    Kebiasaan (folkways) adalah suatu aturan dengan kekuatan mengikat yang lebih kuat daripada usage karena kebiasaan merupakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi bukti bahwa orang yang melakukannya menyukai dan menyadari perbuatannya. Kebiasaan ini apabila dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat disebut dengan tradisi dan menjadi identitas atau ciri masyarakat yang bersangkutan.
Contoh:
•    Kebiasaan menghormatd dan mematuhi orang yang lebih tua.
•    Kebiasaan menggunakan tangan kanan apabila hendak memberikan sesuatu kepada orang lain.
•    Kebiasaan mengunjungi kerabat yang lebih tua pada hari raya keagamaan.
3.    Tata Kelakuan (mores) adalah aturan yang sudah diterima masyarakat dan dijadikan alat pengawas atau kontrol, secara sadar atau tidak sadar, oleh masyarakat kepada anggota- anggotanya. Tata kelakuan mengharuskan atau melarang anggota masyarakat untuk menyesuaikan tindakan terhadap apa yang berlaku. Pelanggaran terhadap tata kelakuan akan diberi sanksi berat seperti diarak di depan umum atau bahkan dirajam.
Contoh:
•    Larangan buang air kecil di sembarang tempat.
•    Larangan berzina

B. Macam-Macam Norma
Norma-norma yang berlaku di masyarakat dapat diklasifikasikan dalam 5 jenis, yaitu norma agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan, dan hukum.
1.    Norma agama, adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran atau kaidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak dan mengharuskan ketaatan bagi para pemeluk atau penganutnya. Yang taat akan diberikan keselamatan di akhirat, sedangkan yang melanggar akan mendapat hukuman di akhirat. Agama bagi masyarakat Indonesia mampu membentuk masyarakat religius yang hidup penuh keseimbangan jasmani dan rohani.
Contoh:
•    Norma agama Islam antara lain adalah kewajiban melaksanakan rukun Islam dan rukun Iman.
•    Dalam agama Kristen, kewajiban menjalankan sepuluh perintah Allah.
•    Dalam agama Hindu, kepercayaan terhadap reinkarnasi, yaitu adanya kelahiran kembali bagi manusia yang telah meninggal sesuai dengan karmanya, sesuai dengan kehidupannya di masa lampau.
2.    Norma kesusilaan, didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Norma kesusilaan bersifat universal. Artinya, setiap orang di dunia ini memilikinya, hanya bentuk dan perwujudannya saja yang berbeda. Misalnya, perilaku yang menyangkut nilai kemanusiaan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan pengkhianatan, pada umumnya ditolak oleh setiap masyarakat di manapun.
3.    Norma kesopanan, adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat seperti cara berpakaian, cara bersikap dalam pergaulan, dan berbicara. Norma ini bersifat relatif. Maksudnya, penerapannya berbeda di berbagai tempat, lingkungan dan waktu. Misalnya, menentukan katagori pantas dalam berbusana antara tempat yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Demikian pula antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin.
Contoh:
•    Tidak memakai perhiasan dan pakaian yang mencolok ketika menghadiri suasana berkabung.
•    Mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan pertolongan atau bantuan.
•    Meminta maaf ketika berbuat salah atau membuat kesal orang lain.
4.  Norma kebiasaan (habit), merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara  berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Orang yang tidak melakukan norma ini biasanya dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya.
Contoh:
•    Kebiasaan melakukan “selametan” atau doa bagi anak yang baru dilahirkan.
•    Kegiatan mudik menjelang hari raya.
•    Acara memperingati arwah orang yang sudah meninggal pada masyarakat Manggarai, Flores.
5.  Norma hukum, adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (negara). Sanksi norma hukum bersifat mengikat dan memaksa. Sanksi ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang memiliki kedaulatan, yaitu negara.
Ciri norma hukum antara lain adalah diakui oleh masyarakat sebagai ketentuan yang sah dan terdapat penegak hukum sebagai pihak yang berwenang memberikan sanksi. Tujuan norma hukum adalah untuk menciptakan suasana aman dan tenteram dalam masyarakat.
Contoh:
•    Tidak melakukan tindak kriminal, seperti mencuri, membunuh, dan menipu.
•    Wajib membayar pajak.
•    Memberikan kesaksian di muka sidang pengadilan.
Dari uraian di atas terlihat bahwa ada perbedaan antara rorma-norma tersebut. Tiap norma tersebut memiliki perbedaan. Namun, kelima norma itu memiliki hubungan yang sangat erat. Isi masing-masing norma saling mempengaruhi, kadang saling memperkuat, tetapi juga bisa saling meniadakan. Sebagai contoh, berdasarkan norma agama dan hukum, pembunuhan, pencurian, dan perzinahan sama-sama tidak dapat dibenarkan. Dengan demikian, norma agama dan hukum saling memperkuat satu sama lain.
Perbuatan-perbuatan pidana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), misalnya, hampir seluruhnya merupakan perbuatan-perbuatan yang berasal dari norma kesusilaan dan agama. Norma kesusilaan sering melarang beberapa perbuatan yang oleh norma hukum sama sekali tidak dihiraukan seperti tentang kumpul kebo dan berbohong. Selain itu, sering kali antara norma hukum dan kesusilaan terjadi kontradiksi. Sebagai contoh, Hida dan Mery mengadakan perjanjian hutang piutang, di mana dari perjanjian tersebut timbul kewajiban Hida membayar kembali sejumlah uang yang dipinjam dari Mery. Akan tetapi, perjanjian itu tidak memenuhi syarat-syarat formal yang ditentukan oleh hukum, seperti ditulis di atas secarik kertas yang ditandatangani kedua belah pihak. Terhadap kasus ini, norma kesusilaan mewajibkan Hida membayar utang tersebut. Namun menurut hukum, Hida tidak perlu menunaikan kewajiban tersebut, karena tidak ada bukti.
Norma kesopanan sering ditiadakan oleh norma hukum, tetapi ada kalanya diakui. Norma kesopanan dapat menjadi norma hukum jika masyarakat menganggap atau mengakuinya sebagai peraturan tentang perilaku manusia yang seharusnya dilakukan. Sebagai contoh, kesopanan dalam berpakaian dapat menjadi norma hukum jika masyarakat menganggapnya perlu dilakukan.